SAMPIT – Perjuangan demi berkumpul bersama keluarga di hari raya selalu menyimpan cerita tersendiri bagi para perantau. Hal ini dirasakan langsung oleh Fiadha Aulia Marneta, seorang pekerja perusahaan sawit di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, yang terpaksa memutar otak akibat habisnya tiket penerbangan di wilayahnya.
Neta, sapaan akrabnya, mengaku sudah dua tahun merantau dan sangat menantikan momen Idulfitri untuk pulang ke kampung halamannya di Bojonegoro, Jawa Timur. Namun, rencananya hampir berantakan karena tiket pesawat rute Pangkalan Bun menuju Surabaya sudah ludes terjual jauh-jauh hari sebelum memasuki masa mudik.
Kehabisan tiket di titik keberangkatan utama membuatnya harus mencari jalur alternatif yang paling masuk akal. Pilihannya jatuh pada Bandara H Asan Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur. Meski harus menempuh perjalanan darat yang cukup menyita energi dari tempat kerjanya, opsi ini dinilai lebih baik ketimbang harus menuju Palangka Raya yang memakan waktu tempuh hingga delapan jam.
Perjuangan Neta tidak berhenti pada pencarian rute. Masalah harga tiket juga menjadi tantangan tersendiri. Ia akhirnya berhasil mengamankan kursi maskapai Wings Air rute Sampit–Surabaya sekitar dua minggu sebelum keberangkatan, namun dengan harga yang cukup meroket.
Tiket tersebut ia tebus seharga Rp1,8 juta, angka yang jauh di atas tarif normal dari Pangkalan Bun yang biasanya hanya berkisar Rp1,4 juta. Beban biaya tersebut bahkan belum termasuk tambahan biaya bagasi sebesar Rp250 ribu untuk muatan 8 kilogram. Walaupun harus merogoh kocek lebih dalam, Neta mengaku ikhlas demi bisa mencium tangan kedua orang tuanya di rumah.
Bagi Neta, nominal materi tidak sebanding dengan nilai pertemuan setahun sekali bersama keluarga besar. Selagi orang tua masih ada, ia merasa rugi jika melewatkan kesempatan mudik meski harus menempuh rute yang lebih panjang dan biaya yang lebih mahal. Cerita Neta menjadi potret nyata bagaimana tingginya antusiasme sekaligus terbatasnya ketersediaan tiket transportasi udara di wilayah Kalimantan selama musim mudik Lebaran 2026. (*)
Editor : Indra Zakaria