Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

SMP 2 Dikenal sebagai SMP Kambuna

izak-Indra Zakaria • 2019-03-02 22:39:39
SMP 2 saat masih berada di kawasan Telaga Sari yang sering tenggelam jika musim hujan. (foto: bambangherlandi.web)
SMP 2 saat masih berada di kawasan Telaga Sari yang sering tenggelam jika musim hujan. (foto: bambangherlandi.web)

KOTA Balikpapan sudah sejak dulu terkenal dengan dunia pendidikan yang semakin maju. Di beberapa daerah bisa dengan mudah kita jumpai satu lokasi yang terdiri dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Salah satunya di kawasan Bukit Pelajar Jalan Kapten Pierre Tendean, Gunung Pasir, Balikpapan Kota. Di tempat ini banyak terdapat bangunan sekolah, salah satu bangunan sekolah yang terkenal di kawasan ini yakni SMPN 2 Balikpapan.

Dulu di tahun 80-an, bangunan SMP 2 posisinya masih berada di daerah lembah tak jauh dari Waduk Telaga Sari, sehingga saat hujan mengguyur Kota Balikpapan dipastikan sekolah ini terendam banjir.

Tofani salah seorang alumni SMP 2 angkatan 1996 ini mengingat kembali saat dirinya masih bersekolah di SMP 2, akibat sering dilanda banjir. Saat hujan SMP 2 pun dijuliki dengan nama SMP Kambuna. Sebutan Kambuna sebenarnya ledekan, karena salah satu sekolah favorit di Gunung Pasir ini sering kali diterjang banjir saat hujan.

“Namanya saja di gunung, tapi kebanjiran, kan ini aneh,” aku Tofani

Pemberian nama Kambuna ini merupakan nama salah satu kapal penumpang milik PT Pelni yang beroperasi melayani jasa transportasi jurusan Tarakan-Balikpapan-Sulawesi Selatan-Jakarta dan Surabaya.

“Nah, karena SMP 2 ini sering kebanjiran, maka sekolah ini diibaratkan seperti kapal yang berlayar di perairan, maka disebutlah SMP 2 Kambuna,” akunya.

Dari penjelasan guru-guru mereka, SMP ini dibangun tahun 1985, waktu itu ada bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim). Tapi karena keterbatasan lahan, maka dipilihlah Telaga Sari tak jauh dari Kantor Dinas Perdagangan.

Di saat awal pembangunan, tidak pernah terjadi banjir karena bangunan sekolah yang sebagian besar terbuat dari kayu dengan ketinggian kolongnya mencapai 2 meter.

Seiring berjalannya waktu, pengupasan lahan di bagian hulu terjadi, tepatnya di hutan kota Telaga Sari. Setelah hutan gundul, banjir seakan tak henti-hentinya menerjang SMP 2 Kambuna.

“Jadi air yang seharusnya diserap pohon yang ada di hutan kota, malah mengalir langsung ke daerah bawah yang di mana sekolah ini berada,” akunya.

Sebenarnya sudah ada peringatan jika pembangunan SMP 2 Kambuna pasti akan banjir, karena lokasinya yang berada di daerah lembah yang dulunya masih di area Waduk Telaga Sari. Sayangnya, peringatan itu tidak digubris karena pihak-pihak tertentu mengejar kucuran dana dari Pemprov Kaltim.

Sering kebanjiran, akhirnya sekolah ini pun mulai dipindahkan pada tahun 1997 di lokasi yang saat ini berada di belakang SMAN 1 Balikpapan.

Tak hanya SMPN 2 saja yang sering kebanjiran, sekolah lainnya yang dulu sering juga kebanjiran yakni SMAN 2 Balikpapan yang lokasinya berada di Strat IV Kelurahan Gunung Samarinda, Balikpapan Utara. Kalau sudah banjir menjadi hari bahagia bagi siswa, karena mereka bisa pulang cepat alias dipulangkan.

Banyak cerita yang terkenang dari para alumni sekolah tersebut. Salah satunya Agung Sutrisno warga RT 2 Muara Rapak yang mengaku tahun 1997 lalu kalau hujan SMAN 2 dipastikan kebanjiran. Nah, oleh sebagian siswa dimanfaatkan untuk tidak belajar.

“Di depan pintu kelas inikan dibuat penghalang supaya air tidak masuk ke dalam ruang kelas, tapi oleh siswa air ini sengaja dimasukkan ke dalam ruang kelas dengan harapan guru tidak jadi mengajar di dalam kelas,” kenang Agung.

Ada juga kalau sudah banjir, sibuk membantu teman mendorong motor. Maklum saja, area parkir motor juga ikut terendam.

“Tapi sekarang SMA 2 ini sudah keren, bangunan sekolahnya sudah ditingkat 3 dan ada basement parkirnya,” tutup Agung. (dan/cal)

Editor : izak-Indra Zakaria