Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

1.200 Ekor Sapi Gunung Binjai Siap Jual

adminbp-Admin Balpos • 2019-07-25 10:27:49

BALIKPAPAN– Jelang lebaran Iduladha 1440 Hijriah pada 11 Agustus mendatang, marak ditemukan penjual hewan sapi untuk kurban. Sebagian besar sapi yang dijual pedagang musiman tersebut didatangkan dari luar Kota Balikpapan. Dimana hanya didatangkan saat momentum lebaran haji saja.

Padahal di Kota Balikpapan sendiri terdapat peternak sapi lokal, salah satunya di Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur. Tak tanggung-tanggung, ada sebanyak 1.200 ekor sapi siap jual hasil ternak dari para peternak di Gunung Binjai.

“Ada 1.200 ekor yang siap jual untuk lebaran haji ini saja, dari beberapa kelompok tani di Gunung Binjai. Jadi saya perjelas itu hanya di Jalan Mufakat Gunung Binjai saja 1.200 ekor,” kata Ketua Kelompok Tani Ternak Sumber Rejeki, Sadikun, Senin (22/7) lalu.

Adapun sapi yang dijual dari kelompok tani yang ada di Gunung Binjai, untuk sapi Bali dibanderol mulai Rp 16,5 juta sampai Rp 25 juta. Sedangkan untuk jenis sapi Limousin, Brangus dan Simental dijual pada kisaran Rp 30 juta sampai Rp 40 juta.

“Untuk jenis sapi besar (Limousin, Brangus dan Simmental) kami belum membudidayakan. Sedangkan sapi Bali kami datangkan dari luar kota seperti Palu, Gorontalo, Bone dan Sinjai waktu masih usia 2,5 tahun ke atas. Kalau kelompok tani saya menyediakan sebanyak 300-an ekor sapi dari total keseluruhan 1.200 ekor itu,” ujar Sadikun yang juga Ketua RT 14 Teritip.

Sadikun menuturkan, sejak awal Juli sapi yang terjual sudah menembus 50 persen. Dia berharap saat Iduladha ini, semua sapi yang disediakan habis terjual.

“Sudah ada pembelinya dari pelanggan tetap dan instansi. Kami berharap sapi di Gunung Binjai semuanya ludes terjual. Alhamdulillah untuk kesehatannya kami berani menjamin,” tegasnya.

Sementara terkait penggemukan sapi Bali yang dilakukan kelompok tani di Gunung Binjai, dia menuturkan, jika sapi didatangkan dari luar Kota Balikpapan saat masih berusia 2,5 tahun lebih. Pihaknya kembali mendatangkan dan memelihara sapi  selepas satu minggu atau minimal satu bulan pasca Iduladha.

“Ini sapi kalau untuk penggemukan kita datangkan dari luar daerah bibitannya. Jadi setelah lebaran haji, itu kami cari lagi dan pelihara. Kadang ada yang kurus dan sakit. Kita program di sini dengan jamu sistem tradisional, seperti kunyit dan pinang muda, temulawak. Intinya gunakan herbal untuk mengantisipasi sakit dan stresnya sapi,” terangnya.

Bukan hanya itu, dia mengaku pihak Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (DP3) sangat bekerja sama, dimana secara rutin melakukan pengecekan pada sapi. Bahkan selalu sigap jika ada sapi yang sakit tiba-tiba atau sapi betina lagi birahi.

“Untuk kesehatannya dapat dikatakan hampir tiap minggu, jadi ada saja konsultasi. Masalah kesehatan sapi yang ada di Teritip, kita berani jamin kesehatan, baik cacing hati maupun anthrax semuanya bebas dan aman. Kesehatan selalu dikroscek setiap bulan oleh PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan, Red.). Bahkan saat kami menelepon selalu datang. Artinya tak ada sekatan. kami kroscek dengan PPL. Seandainya saat waktu si betina (sapi) birahi, itu kita bell beliau datang. Karena kalau birahi tak bisa jeda sekian jam. Makanya setiap dua sampai tiga jam pasti tiba. Intinya kalau di Teritip PPL kerja samanya luar biasa, meski malam mereka pun datang,” pungkasnya. (wal/cal)

Editor : adminbp-Admin Balpos