Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Perjuangan Pak Ir

uki-Berau Post • Selasa, 22 Januari 2019 - 21:13 WIB

HARI Sabtu (19/1) saya ikut penerbangan dari Balikpapan ke Kalimarau, Berau. Tiba awal. Ada teman yang mengajak saya untuk menunggu di lounge Garuda Indonesia. Tapi, saya lebih memilih menunggu di warung kopi tak jauh dari pintu 4. Biar mudah melihat keberangkatan.

Ada buku dijual murah. Tiga judul dihargai Rp 100 ribu. Menarik. Bisa untuk bacaan selama perjalanan. Salah satunya Memetik Matahari, tulisan Agung Adiprasetyo. Butir-butir buah perenungan yang menularkan motivasi positif. Hebat juga, warung kopi sambil jual buku murah.

Dalam tulisan itu diungkap satu pepatah Cina, “Walaupun ayam mengerami telur itik, ketika menetas, anak itu akan pergi ke air juga”. Pepatah ini ingin mengatakan, manusia itu cenderung keras kepala. Apa yang sudah dilakukan sepuluh tahun lalu akan dilakukan hari ini, bahkan dilakukan setahun mendatang.

Tapi, ada yang lebih menarik dari koran gratis yang dibagikan pada penumpang sebelum naik ke pesawat. Ada berita perjuangan Gubernur Kaltara Irianto Lambrie di Kantor Kemenhub Jakarta, terkait harga tiket pesawat yang mahal. Perjuangan Pak Ir (Irianto), sebetulnya sekaligus membawa suara penumpang di Berau, yang punya keluhan sama.

Hari-hari terakhir, memang banyak dibicarakan soal harga tiket, yang melambung tinggi. Memang bisanya cuma membahas. Sebab, dari segi bisnis bagaimana hitung-hitungannya kita tidak tahu. Biasanya menjelang hari raya, tren harga tiket naik sudah lumrah. Tapi, kan hari raya Imlek biasanya hanya pada rute tertentu. Ke Pontianak misalnya, ataupun ke Polonia (Medan).

Dulu kita maklum. Karena Bandara Kalimarau, masih masuk dalam kategori bandara perintis. Di mana banyak kebutuhan penerbangan yang belum tersedia. Salah satu pertimbangannya, bahwa pesawat belum bisa melakukan pengisian minyak, karena fasilitas tidak ada. Sekarang, Kalimarau sudah kelas satu. Bandara terbaik. Sudah ada layanan untuk bahan bakar pesawat.

Memang agak terasa. Karena jumlah penerbangan Garuda Indonesia yang biasanya dua kali sehari, kini tinggal sekali dari bandara Balikpapan ke Berau. Tak ada lagi penerbangan sore. Ada kabar, penumpang dialihkan ke Sriwijaya, untuk sore hari. Agar konek dari Jakarta, penumpang harus check in jam 3 pagi. Hahaha, ke bandaranya pastilah jam 2 pagi. Bisa tidak sempat mandi lagi.

Suasana sebaliknya memang terlihat beberapa bulan lalu. Penumpang yang tujuan Kalimarau, cukup tinggi. Banyak yang mengeluh kesulitan mendapatklan tiket pulang. Bisa pulang sampai Balikpapan, untuk penerbangan lanjutan ke Berau yang sulit. Banya warga yang bertanya, memang di Berau ada keramaian apa ?

Sekarang berbanding terbalik. Tak perlu booking jauh hari. Ke Bandara saja, pasti masih ada tiket yang tersedia. Baik saat berangkat, maupun untuk kembali. Dari segi operasional, kursi terisi di atas 80 persen, sudah memadai. Sudah masuk hitungan bisnisnya.

Penerbangan ke Samarinda, awalnya hanya ada pemain tunggal, kini sudah dua armada yang masuk. Masyarakat, menaruh harapan harga tiket bisa lebih menghibur. Sebab, Berau dan Samarinda masuk dalam jalur gemuk. Tapi, setelah beroperasinya dua penerbangan, komentar penumpang tak ada perubahan. Harga turun, tapi masih tetap mahal.

Saya bangga langkah yang dilakukan Pak Ir yang datang ke Jakarta mempertanyakan soal harga tiket pesawat. Apalagi, penerbangan langsung Jakarta-Tarakan, buat sementara dihentikan. Belum lagi, sedang asyik-asyiknya penerbangan yang berangkat dari bandara Bulungan. Pasti juga akan terganggu, bila harga tiketnya masih melambung. Lalu bagaimana dengan Malinau, Nunukan. Keluhan inilah yang diperjuangkan Pak Ir.

Berau beruntung karena masih ada pilihan. Bila penumpang lebih dari 4 orang, mungkin bisa memilih jalur darat. Seperti yang terjadi bila ada kondisi cuaca yang mengganggu rute penerbangan. Jalan menuju Samarinda, sudah sangat bagus. Kendaraan yang menawarkan jasa juga banyak. Tinggal diatur saja. Mau secepat apa tibanya. Tapi minimal 10 jam perjalanan darat ke Samarinda.

Bila ini berlangsung lama, banyak hal yang ikut terganggu. Penumpang dan wisatawan yang biasa terbang langsung dari  Jakarta menuju Tarakan, tak bisa lagi tiba lebih awal ke Pulau Maratua. Wisatawan dan penumpang bisnis juga akan terganggu, yang kan melakukan perjalanan wisata ke Derawan. Biro perjalanan pasti akan melakukan perhitungan ulang. Untuk menghindari kerugian.

Menurut cerita teman-teman operator penerbangan, selama ini penumpang banyak dari karyawan perusahaan yang lagi cuti ataupun sedang menjalani tugas. Juga kalangan pegawai negeri. Bagi mereka tak ada masalah. Sebab, biaya perjalanan ditanggung perusahaan dan bagi pegawai negeri juga sudah ditanggung pemerintah.

Bagi yang Ratu alias Raja Tulak (Sering berangkat), kondisi harga tiket seperti sekarang perlu melakukan jadwal ulang. Pemerintah daerah, juga pasti akan mengingatkan seluruh aparatnya untuk melakukan efesiensi. Tak perlu berangkat, cukup diskusi melalui fasilitas teknologi yang ada. Kalau bisa tuntas urusan lewat telepon atau email, untuk apa terbang jauh. Hehehe, termasuk anggota dewan.

Organisasi yang berurusan dengan dampak yang ditimbulkan akibat naiknya harga tiket pesawat, juga akan bekerja keras. Meyakinkan, bahwa banyak sektor yang bakal terkena imbas. Akan memaksa pemerintah, kembali melakukan interfensi agar harga tiket bisa kembali normal. Salah satunya, jumlah kunjungan wisata maupun kunjungan bisnis investasi akan menurun. Kita beri semangat, semoga perjuangan Pak Ir, membawa hasil. Bukan hanya untuk Utara, tapi kita juga akan merasakan.

Ketika pesawat yang dipiloti seorang perempuan, mendarat mulus di Kalimarau buku “Memetik Matahari” belum tuntas saya baca. Masih banyak halaman yang tersisa. Genius, adalah kemapuan utuk melihat sepuluh kesempatan ketika orang lain hanya melihat sebuah kesempatan (Ezra Pound). Bisa jadi, seperti itu yang dilakukan Pak Ir.(mps/app)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan