ADA Kepmen No 1 Tahun 2015 terkait bisnis Kepiting, Rajungan dan Lobster yang bertelur. Awalnya dianggap itu menyusahkan nelayan. Namun, belakangan, sangat dipahami bahwa muaranya untuk kesejahteraan nelayan juga. Jadi yang bergelut disektor itu tidak terlalu meresahkan. Bahkan lebih semangat.
Saya bertemu Pak Dony, pria Bajau yang tinggal di Tanjung Batu, ibukota kecamatan Pulau Derawan. Dirumahnya yang sederhana, sekaligus dijadikian tempat usaha yang digeluti.
Rumah kayu berlantai semen yang tidak terlalu besar, separohnya dijadikan tempat untuk membuat bak. Bak inilah untuk menampung Lobster dari berbagai ukuran. Karena berlokasi tak jauh dari pantai, tak sulit bagi Dony untuk mengganti dan mengisi air laut.
Dulu, ketika datang pertama kali masih terdengar suara mesin diesel yang nyaring.”Itu suara sekaligus nyawa bagi Lobster yang ada,”kata Dony. Sebab, tanpa itu, Lobster akan kehabisan nafas. Sehingga suara mesin itu, tak pernah berhenti selama 12 jam terus menerus. Sebab, waktu itu layanan listrik PLN hanya di malam hari.
Jauh sebelum Kepmen itu diberlakukan, kata Dony, ia sudah menerapkan. Ia sudah punya pemikiran jauh kedepan. Sehingga, ia memberikan informasi kepada seluruh nelayan, agar Lobster hasil tangkapannya tidak mengambil yang sedang dalam bertelur.”Itu sudah sejak lama saya terapkan,”kata dia.
Ia membeli Lobster dari nelayan pancing maupun nelayan bagan. Harga sesuai dengan timbangan, juga jenis Lobster. Ada Lobster Mutiara, ada Lobster Bambu. Punya nilai jual yang bagus. Ia membayar tunai. Sebab ia tahu, nelayan butuh dana operasional untuk melaut. Jadi, tidak bisa tertunda.
Permintaan akan komoditas Lobster ini, terus meningkat. Banyak daerah yang memesan langsung, agar bisa dikirimkan dalam kondisi masih hidup.”Memang harus kondisi hidup,”ujarnya. Kalau sudah mati, harga Lobster akan menurun. Atau, ya lebih bagus dibakar di rumah.
Melihat jarak, bagi Dony dalam proses pengiriman memang harus berkejaran dengan waktu. Ke Tanjung Redeb saja, butuh waktu sekitar 3 jam. Kalau pemesan untuk dikirimkan ke Surabaya misalnya, juga perlu waktu yang sama. Lalu, bagaimana memberikan nafas bagi Lobster. Kan beda dengan pengiriman ikan hidup misalnya. Ataupun ikan beku.
Ternyata ada resepnya. Lobsternya dibikin tidak sadar alias pingsan. Iapun menunjukkan caranya. Semua perlengkapan kemasan dipersiapkan terlebih dahulu. Lobster kemudian diberi serbuyk gergaji. Kemudian dibungkus dengan kertas koran. Lalu dimasukkan dalam box dan diberi es yang masih dalam kemasan plastik,
Pengerjaannya dilakukan menjelang dinihari. Setelah proses kemasan selesai, langsung bergerak ke Tanjung Redeb. Setibanyan di Tanjung Redeb menuju bandara untuk segera diangkut pada penerbangan pertama.
Pernah juga penerbangan mengalami penundaan jam terbang yang cukup lama. Terpaksa kemasan Lobster dibawa kembali ke Tanjung Batu untuk dikemas ulang. Bila menunggu, Lobster akan mati sampai ditujuan.
Jadi, Lobster itu hanya dibuat pingsan saja. Sampai di tujuan dibuka lalu dimasukkan ke dalam akuarium. Maka, Lobster ini akan hidup kembali. Tentu harga jualnya akan lebih mahal bila dalam keadaan hidup, seperti yang ada direstoran dikota-kota besar.
Menurut Dony, Lobster miliknya selama ini tujuan Surabaya. Ia dapat informasi, bahwa dari Surabaya, kemudian diantarpulaukan lagi ke Jakarta maupun ke Batam.”Saya tidak tahu, apakah ada juga yang di ekspor keluar negeri,”tambahnya.
Lobster yang didapatkan, berasal dari banyak tempat. Selain di kawasan laut Pulau Derawan, juga ada yang dari kecamatan Batu Putih dan kecamatan Bidukbiduk. Pada musim tertentu, bisa mengirim tiap hari. Tapi, pada musim lain, kadang jumlahnya sedikit.”Rata-rata tiap bulan ratusan kilogram yang saya kirim,”ujarnya.
Baginya sekarang biaya produksi sedikit tertolong dengan listrik yang sudah beroperasi 24 jam. Ketika PLN masih melayani hanya 12 jam, Dony mengaku repot. Iapun bisa meningkatkan pengiriman barang yang lebih banyak lagi. “Saya bersyukur layanan listrik sudah 24 jam,”kata dia.
Ada momen yang paling tidak bisa ia lupakan. Ketika menteri Perikanan Susi Pujiastuti, menengok tempat usahanya.”Terus terang saya bangga dan semakin memberikan semangat,”kata Dony. Ia juga menyinggung saya, katanya, kalau bukan karena Daeng Sikra, mungkin Ibu Menteri tidak mampir ke rumah saya. Haha.
Ketika akan kembali ke Tanjung Redeb, Tak lupa Pak Dony memberikan saya dua ekor Lobster Mutiara ukuran besar. Lobster yang baru selesai dibuat pingsan. Waduh, ini pasti mahal harganya.(*/asa)
Editor : uki-Berau Post