Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pengembangan Masyarakat

uki-Berau Post • 2019-04-08 13:48:55

SECARA etimologi kata masyarakat berasal dari bahasa Arab yaitu “Musyarok” yang artinya hubungan (interaksi sosial). Secara sosiologis masyarakat bersifat dinamis, selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Apalagi di era kehidupan modern seperti sekarang, perubahan yang terjadi di tengah masyarakat berlangsung secara cepat dan masif serta menyentuh semua aspek kehidupan. Masyarakat harus  adaptif, meskipun mereka berada pada komunitas lokal namun mereka juga harus bisa berpikir jauh ke depan.

Pengembangan masyarakat merupakan sebuah metode yang dilakukan secara bersama antara masyarakat, pemerintah dan stake holder untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan potensi dan sumber yang ada serta dilakukan secara partisipatif. Partisipasi menjadi prinsip dalam pengembangan masyarakat, masyarakat harus selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan. Dalam pengembangan masyarakat ada aktor, tujuan, sarana dan cara. Semua aspek bekerja dalam sebuah sistem secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Dulu dalam proses pembangunan pendekatan yang digunakan lebih menekankan kepada pendekatan direktif dengan program top down. Sekarang sudah bukan eranya lagi top down, prosesnya dibalik, lebih menekankan inisiatif dari bawah (bottom up), dengan melibatkan banyak pihak meskipun tidak dilakukan secara langsung tapi bisa melalui keterwakilan. Ada upaya untuk menerima aspirasi, mengakomodir berbagai macam kepentingan dan keputusan diambil melalui musyawarah.

 

Jika dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sebuah program dilakukan secara partisipatif, maka akan semakin banyak pihak yang merasa bertanggungjawab terhadap program tersebut. Terbuka juga peluang kepada pihak lain yang ingin memberikan kontribusi. Dalam tataran praktis proses pelibatan pihak lain tersebut memerlukan tehnik, sementara pada tataran kebijakan publik diperlukan legalitas formal.

 

Secara konsep, menurut para ahli ada 3 model dalam pengembangan masyarakat yakni, Pengembangan masyarakat lokal (locality development), Perencanaan sosial (social planning), dan Aksi sosial (social action). Dalam praktiknya, ketiga model ini saling berkaitan, setiap komponen bisa digunakan secara kombinasi dan simultan sesuai kebutuhan.

Pengembangan masyarakat lokal merupakan proses yang bertujuan untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi bagi masyarakat melalui partisipasi aktif serta inisiatif anggota masyarakat itu sendiri. Masyarakat tidak diposisikan sebagai klien melainkan sebagai masyarakat yang unik dan memiliki potensi yang masih terpendam dan perlu dikembangkan.

 

Gagasan Wisata Kampung Batik merupakan upaya pengembangan masyarakat, dimana kelurahan berperan sebagai fasilitator. Fasilitator yang menggugah kesadaran warga dan stakeholder lain agar bisa berperan aktif dalam mengembangkan kapasitas warga. Ada potensi wisata batik, religi, kuliner, dan Oleh-oleh. Potensi inilah yang akan dieksplorasi dan dikembangkan agar potensi tersebut menjadi sumber yang berdayaguna bagi peningkatan pendapatan masyarakat.

 

Fasilitator dan masyarakat yang menjadi lokus program harus berkolaborasi, bekerjasama sebagai partner. Fasilitator bekerja dengan masyarakat bukan bekerja untuk masyarakat. Upaya penyadaran bahwa mereka adalah subjek atau agen utama perubahan mesti terus-menerus dilakukan, kapasitas dan prakarsanya ditingkatkan agar dinamis dan adaptif. Dan yang tidak kalah penting dari semua hal di atas adalah dukungan. Dukungan yang diberikan harus konkret, stakeholder harus merubah paradigma dalam memberi dukungan, bahwa dukungan yang diberikan tidak sekadar melaksanakan tanggung jawab sosial, tapi dukungan yang diberikan merupakan investasi sosial.(*/asa)

 

*) Penulis adalah Lurah Tanjung Redeb

 

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan