KETIKA awal pengerjaan pabrik kertas di Mangkajang, Kecamatan Sambaliung, kampung kecil itu seakan menjadi magnet. Ribuan tenaga kerja dari penjuru Nusnatara, menyatu di kampung yang dulu sepi. Rumah makan dan usaha penginapan juga begitu. Mangkajang pun jadi kota kecil.
Kegiatan itu pula yang membawa keluarga Pak Sumarwan datang ke Mangkajang. Ia datang berbekal sebagai pemasok salah satu perusahaan kontraktor. Anak muda yang nekat meninggalkan kampung halaman, mengadu nasib di Mangkajang. Kampung yang sama sekali ia tidak tahu. Bahkan mencari di peta pun tak ada.
Tak terasa, perjalanan waktu begitu panjang. “Iya, tidak terasa saya sudah 23 tahun di Mangkajang,” kata Bu Yeyet, saat saya berbincang-bincang di rumahnya.
Dari Bu Yeyet lah saya dapat banyak informasi sekitar keberadaannya di Mangkajang. Ketika sang suami bekerja pada kegiatan pembangunan pabrik, ia melihat ada peluang untuk berusaha. Waktu itu banyak karyawan yang keluar pabrik saat libur bekerja. “Mengapa saya tidak manfaatkan situasi itu,” kata Bu Yeyet.
Dari situlah ia kemudian membuka warung makan nasi kuning. “Rumah kecil tanpa pintu, hanya ditutup dengan tirai kain saja,” kata Bu Yeyet.
Dari situlah ia terus berusaha hingga pascapengerjaan konstruksi. Akhirnya ia dan keluarga tetap konsen jualan makanan.
Kini tak lagi menempati warung Tirai. Walaupun tidak langsung membangun rumah besar dari hasil bekerja di Mangkajang, tapi perlahan rezeki meningkat. Bu Yeyet dan keluarga akhirnya bisa membuat rumah sekaligus rumah makan yang terbilang besar untuk ukuran di Mangkajang. Lalu kenapa memakai nama Warung Donal?
Bu Yeyet sambil tersenyum, mengaku hanya sekadar memakai nama itu saja. Tak ada latar belakang atau kisah apapun, sehingga menggunakan nama itu. “Asal aja, kami sekeluarga sepakat saja dengan nama ‘Donal’,” kata dia.
Saya juga sejak belasan tahun selalau mampir di rumah makan ini. Posisi warung memang berada pada titik lelah dalam perjalanan menuju pesisir. Sehingga Bu Yeyet dan Pak Sumarwan susah saling kenal baik dan akrab dengan saya. Mereka juga bahkan membangun cabang rumah makanya di Jalan H Isa III, Tanjung Redeb, tapi tidak menggunakan nama Donal. Cukup masakan Sunda.
Keluarga Pak Sumarwan yang saya tahu berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Saat Pak Bupati Berau mantu, saya jumpa di tempat acara. Iapun bercerita, kalau besan pak bupati ada hubungan kekerabatan sebagai sama-sama warga asal Kuningan.
Rumah makan Donal jadi langganan saya. Langganan banyak warga dan sopir travel yang menuju wilayah pesisir. Kalau dulu melayani karyawan Mangkajang, sekarang ketika perusahaan tak aktif lagi, warung ini melayani banyak warga dan wisatawan yang akan berlibur di pesisir.
Menunya biasa saja. Tinggal memilih. Ada belasan sajian yang disiapkan. Porsinya juga tergantung konsumen. Tapi sambelnya ampun. Untuk ukuran lidah saya, tak sanggup. Karena seringnya berkunjung ke Warung Donal, saya ada menu khusus. Bu Yeyet dan pekerjanya juga sudah tahu. Pak Sumarjuga hafal selera saya.
Belumlah masuk ke pintu, bila Bu Yeyet melihat, yang ditawarkan pasti telur dadar. Telur dadar dengan racikan bawang dan lombok sedikit. Memang enak, telur dadar buatan Bu Yeyet. Pernah juga sekali waktu, baru panen durian Montong, saya dapat bonus sebiji. Manisnya luar biasa. Rupanya di bagian belakang rumahnya, ada kebun kecil yang ditanami berbagai jenis pohon buah.
Rumah makan Donal, kini jadi tempat persinggahan. Bila berangkat pukul 08.00 Wita dari Tanjung Redeb, ketika melintasi warung Donal, masuk saat salat. Juga sekalian istirahat, warung juga menyediakan toilet umum.
Akhir pekan lalu, ketika saya ada kegiatan di Talisayan, tak lupa mampir di Warung Donal milik Pak Sumarwan. Saya tak jumpa Bu Yeyet saat perjalanan menuju Talisayan. Tapi setelah perjalanan kembali, saya mampir lagi. Ada Bu Yeyet. Saya langsung pesan menu spesial, telur dadar. Telur dadar ala Warung Donal. Nikmat rasanya.
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa, Maaf Lahir Batin. (*/har)
Editor : uki-Berau Post