TANJUNG REDEB – Keluarga pasien mengamuk di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, Jumat (6/8). Penyebabnya, karena keluarga meragukan hasil tes polymerase chain reaction (PCR) yang menyatakan pasien atas nama Sakran (70) meninggal dunia karena Covid-19. Sakran mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit sekitar pukul 16.40 Wita.
Dijelaskan Feri Handoko, keponakan pasien yang meninggal dunia, pamannya tersebut masuk rumah sakit sejak Selasa (3/8) malam. Ketika masuk rumah sakit, pamannya yang memang sejak tiga tahun lalu sering menjalani perawatan di RSUD dr Abdul Rivai karena komplikasi penyakit yang dideritanya, langsung mendapat penanganan yang diawali dengan tes Covid-19.
Selama menjalani perawatan, pamannya yang merupakan warga Kampung Suaran, Sambaliung, hanya ditangani di Instalasi Gawat Darurat (IGD), bersama beberapa pasien lain yang bergantian mendapatkan penanganan darurat. “Kalau covid, harusnya dirawat di ruang isolasi,” katanya.
Diakui Handoko, sejak hari pertama pamannya menjalani perawatan di IGD, dirinya selalu menanyakan apa hasil tes Covid-19 pamannya. Namun pihak rumah sakit tidak pernah memberikan jawaban. Selama menjalani perawatan, lanjut Handoko, pamannya dilayani layaknya pasien umum lainnya. Bukan seperti penanganan pasien Covid-19 yang harus dirawat di ruang isolasi. “Dokter dan perawatnya juga tidak pakai pakaian hazmat. Malah setelah meninggal dunia dan dikatakan covid, dokter atau perawat yang mencabut infusnya juga tidak pakai pakaian hazmat,” ujarnya kepada Berau Post, kemarin.
Dari pantauan Berau Post, Handoko sempat mengamuk dengan mendatangi dokter dan petugas jaga, menanyakan prosedur penanganan Covid-19 di rumah sakit. Dengan nada yang tinggi, Handoko dengan tegas menuding ada oknum di rumah sakit yang memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 saat ini untuk mencari keuntungan.
“Salah orang yang kau hadapi bos. Kalau saya salah, saya tidak mungkin berani seperti ini, tapi karena saya benar, saya tidak akan mundur. Mana, kalau memang kalian (tim RSUD) benar mengapa tidak berani. Tunjukkan itu surat hasil tes covid-nya,” ujar Handoko dengan nada tinggi kepada dokter yang sore kemarin bertugas di RSUD.
Dokter yang menghadapi Handoko, lebih banyak diam dan tidak memberikan penjelasan mengenai hasil pemeriksaan Covid-19 pasien. Bahkan, saat ditenangkan, salah satu sekuriti rumah sakit, lanjut Handoko, memintanya untuk tenang sembari menyampaikan bahwa hasil tes tersebut bisa diubah. “Maksudnya apa itu. Dianggapnya ini main-main kah,” katanya masih dengan nada tinggi.
Setelah ditenangkan oleh keluarga pasien lainnya, Handoko lantas meninggalkan ruang IGD menuju parkir kendaraan bermotor di rumah sakit. Di situ, saat azan Magrib sudah berkumandang, Handoko dan keluarga besarnya berdiskusi terkait penanganan jenazah pamannya.
“Setelah dari luar, ada keluarga yang masuk lagi coba tanyakan ke dokternya, apa bisa pasien ini dibawa pulang. Saya temani saat menemui dokternya, dan dokternya bilang silakan kalau mau dibawa pulang. Urus saja langsung ke petugas ambulans,” jelasnya.
Dari situ, Handoko dan keluarganya makin yakin jika pamannya di-covid-kan. “Plin-plan kan. Kalau memang betul-betul covid, pasti tidak boleh kami bawa pulang. Satgas juga pasti langsung datang. Jenazah paman saya juga pasti langsung ditangani secara prosedur covid. Ini masih tetap di IGD,” ungkapnya.
Handoko pun langsung menyuruh salah satu keluarganya melapor ke petugas ambulans untuk membawa jenazah pamannya. Salah satu petugas ambulans yang kemudian mendatangi rombongan keluarga Handoko di depan IGD, menyebut ambulans tengah dipersiapkan. Tinggal menunggu sopir ambulans yang tengah mandi, karena baru selesai mengantarkan jenazah pasien Covid-19 ke pemakaman. “Akhirnya kami sudah tenang lah. Karena paman saya bisa kami bawa pulang, tinggal tunggu ambulans,” jelasnya.
Namun, hampir satu jam Handoko dan keluarganya menunggu, sopir ambulans yang sebelumnya dikatakan sedang mandi, tak kunjung datang. Justru pihak rumah sakit malah meminta bantuan pengamanan dari aparat TNI-Polri. “Makanya tambah emosi lagi saya. Bukannya malah saya takut, karena saya tidak ada merasa salah. Malah di depan polisi saya tunjuk dokternya yang mengatakan jenazah paman saya boleh dibawa pulang. Banyak saksinya. Habis saya tunjuk, dokternya langsung ngeles, tapi langsung masuk karena banyak saksinya yang dengar dia bilang boleh bawa pulang,” terang Handoko.
Karena tidak konsistennya pernyataan-pernyataan yang disampaikan pihak rumah sakit, dan melihat jenazah pamannya tetap berada di ruang IGD khusus, sekitar pukul 19.30 Wita, Handoko dan keluarga memutuskan untuk membawa pulang jenazah pamannya menggunakan kendaraan pribadinya.
Dalam proses pemindahan jenazah dari ruang IGD khusus ke mobil pribadinya, tidak ada pihak rumah sakit yang berkeras untuk menahan, jika memang jenazah tersebut positif Covid-19. Bahkan dalam proses pemindahan tersebut, jenazah pasien harus melewati beberapa pasien yang juga dirawat di IGD.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Handoko sangat menyayangkan sikap manajemen rumah sakit yang tidak terbuka kepada keluarga pasien. Sebab, selama tiga hari menjalani perawatan di IGD, Handoko dan keluarganya secara bergantian selalu menjaga dan menjenguk pamannya. Selama itu pula, Handoko selalu mempertanyakan apa hasil tes Covid-19 pamannya. “Namun tidak pernah ada jawaban. Baru pas meninggal dunia, lima menit kemudian kami dihubungi, diinformasikan bahwa paman kami meninggal dunia karena covid. Tapi saya minta mana hasil tesnya, masa cuma diliatkan di Hp,” kesalnya.
Kejanggalan lainnya, terang Handoko, setelah pamannya meninggal dunia, dirinya dan keluarga lainnya tetap tidak dilarang untuk masuk dan melihat langsung kondisi jenazah pamannya. “Pastilah kalau ada keluarga meninggal, keluarga yang lain menangis, berkumpul di dekat jenazah. Itu tidak ada pihak rumah sakit yang larang. Logikanya, kalau memang covid, pasti jenazahnya langsung ditangani khusus, tidak ada keluarga yang boleh mendekat. Ini dokternya saja tidak pakai APD (baju hazmat, Red). Saya ada videonya,” ungkapnya.
Handoko mengaku, bukan tidak menghargai kerja keras tim kesehatan dalam menekan angka Covid-19 di Berau. Tetapi dirinya sangat keberatan jika situasi pandemi saat ini, justru dimanfaatkan oknum-oknum tertentu, yang sangat merugikan keluarga pasien. “Kalau memang hasil tesnya kami diberikan, artinya memang paman saya covid, pasti kami terima. Tapi jangan diada-adakan seperti itu, kasihan masyarakat lain jika seperti itu. Kami bukan tidak menghargai nakes, tetapi ini sudah keterlaluan,” tandasnya.
Ketika dikonfirmasi, dokter jaga yang menolak menyebutkan identitasnya, menolak untuk memberikan keterangan kepada awak media. Sang dokter meminta kepada awak media untuk menghubungi humas RSUD dr Abdul Rivai. “Kami tim dokter yang menangani pasien punya privasi,” ujarnya singkat.
Tidak mendapat penjelasan dari dokter yang bertugas, awak media mencoba mempertanyakan keberadaan humas RSUD. Namun tidak berada di tempat. Dan ketika ditanya kepada petugas kesehatan lain yang sedang bertugas, awak media diarahkan untuk menemui salah satu Satgas Covid-19 dari RSUD, Dani Apriatmaja. “Orangnya ada di depan (luar ruang IGD),” ujar salah satu petugas perempuan yang kemarin bertugas di IGD.
Setelah dicari di luar ruang IGD, Dani yang dimaksud tidak kelihatan. Lantas awak media kembali mempertanyakan keberadaan Dani tersebut kepada petugas media perempuan tadi. “Sebenarnya orangnya (Dani) lagi isolasi mandiri,” katanya.
Jika sendang isolasi mandiri, mengapa beberapa saat sebelumnya Dani sempat datang ke rumah sakit dan mencoba memberi penjelasan kepada keluarga pasien. “Ya, dia mungkin terpaksa juga, karena ada masalah ini,” jawab petugas perempuan tersebut.
Selang beberapa saat, Dani akhirnya muncul untuk menemui beberapa awak media. Dani pun menjelaskan, mengenai pasien meninggal dunia yang dibawa pulang keluarganya, sudah dikonfirmasikan ke Satgas Covid-19 Kabupaten Berau. “Kami sudah coba untuk menahan, tapi keluarga sudah marah dan mengamuk,” katanya.
Ditanya apakah jika ada pasien yang meninggal dunia dengan Covid-19, akan ada tim satgas yang datang untuk menanganinya? Ditanya demikian, Dani menyebut harusnya ditangani satgas.
Lalu mengapa tim Satgas Covid-19 Kabupaten Berau tidak datang? “Sudah kami koordinasikan sejak tadi sore. Tapi memang tadi banyak yang ditangani. Saya sendiri baru pulang dari memakamkan salah satu pasien yang meninggal dunia,” katanya.
Jika benar terpapar Covid-19, mengapa pihak rumah sakit tidak berusaha untuk melarang keluarga membawa pulang jenazah pasien. Sebab, sama saja dengan membiarkan potensi virus yang berbahaya ini semakin menyebar di masyarakat. Termasuk saat keluarga pasien membawa jenazah melewati tempat perawatan pasien lain di ruang IGD. “Iya, pasti sangat berisiko. Tapi kondisinya tadi, lihat sendiri kan,” kata Dani.
“Kita sudah berupaya, dengan menghubungi satgas itulah salah satu upayanya. Kami di rumah sakit hanya menjelaskan hasilnya pasien meninggal Covid-19, dan terkait hal ini, tim satgas dari BPBD yang seharusnya menangani atau mencegah,” sambungnya.
Bagaimana dengan dokumen hasil PCR yang diminta keluarga pasien untuk membuktikan benar tidaknya pasien terpapar Covid-19? “Untuk hasil PCR bisa konfirmasi ke dokternya lah. Yang jelas, untuk PCR, kami di rumah sakit kerja sama dengan (Klinik) Tirta. Memang hasil PCR-nya biasanya setelah tiga hari baru keluar, karena banyaknya orang yang melakukan tes,” pungkas Dani. (aky/har)
Editor : uki-Berau Post