TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau berencana menutup Rumah Sakit Darurat (RSD) Cantika Swara, setelah satu bulan lebih beroperasi. Alasan penutupan ini, karena jumlah pasien yang dirawat tersisa empat orang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Iswahyudi mengatakan, RSD Cantika Swara selama ini dimanfaatkan bagi pelaku isolasi terpadu (isoter) dengan gejala ringan. Dengan hanya tersisa empat pasien serta tren penurunan kasus Covid-19 di Bumi Batiwakkal, menjadi angin segar bagi tenaga kesehatan (nakes) saat ini.
“Kamar yang terpakai saat ini hanya empat kamar (di RSD, red), yang lainnya kosong,” kata Iswahyudi, Rabu (30/3).
Saat dibuka kembali pada Februari lalu, RSD Cantika Swara merawat enam pasien pasca melahirkan yang terpapar Covid-19. Menurut Iswahyudi, Pemanfaatan eks Hotel Cantika Swara ini ditujukan sebagai isoter untuk empat kecamatan kota terdekat. “Inikan sudah sebulan, dan pasien terus mengalami penurunan,” tuturnya.
Untuk tenaga kesehatan sendiri, sebanyak 10 nakes relawan yang sudah dipersiapkan. Secara teknis, sistem jaganya lima nakes setiap per tiga hari. Tiga hari libur. Kemudian lima nakes sisanya bergantian masuk. "Mereka (nakes) berjaga 24 jam. Sistem bergantian," katanya.
Lebih lanjut, Iswahyudi mengatakan, tren kesembuhan terus terjadi di Berau. Bahkan menurut data terbaru yang dirilis Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Berau sudah masuk dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 2. Sedangkan sebelumnya Berau masih berada di PPKM level 3. “Kita berharapnya kasus terus menurun ya,” ujarnya.
Terpisah, Humas RSUD dr Abdul Rivai, Erva Anggraini menuturkan, untuk pasien di RSUD Abdul Rivai sendiri terdapat lima pasien yakni, dengan status satu orang dalam observasi ketat dengan menggunakan ventilator. "Untuk empat lainnya kondisinya stabil," singkatnya.(hmd/arp)
Editor : izak-Indra Zakaria