Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pengamen Jadi Koki

uki-Berau Post • Jumat, 16 Desember 2022 - 17:52 WIB
-
-

PENGAMEN jadi koki. Ini bukan judul puisi. Bukan pula judul film seri di televisi. Tapi cerita mini seri yang benar terjadi.

Ketika warung Hokky di Jalan Niaga, belum menjalani perbaikan seperti sekarang. Saya adalah pelanggan yang hampir setiap hari duduk di bangku dekat pintu. Lalu, datanglah satu per satu teman saya.

Kalau saya hitung waktu, sudah belasan tahun jadi pelanggan warung milik Bu Giok. Dan bila itu jadi syarat jadi pemegang saham, maka saya bisa pemegang saham di bawah lima puluh persen.

Warung Hokky, banyak menyimpan kesan bagi para pelanggannya. Teman-teman di Polres, bahkan beberapa kapolresnya, usai apel pagi sarapannya di tempat ini.

Saya ingat, di tempat ini pernah berlangsung ‘rapat’ muspida. Dulu masih sebutan Muspida sebelum berubah seperti saat sekarang. Awalnya saya dan wakil bupati kala itu Ahmad Rifai sarapan pagi. Lalu datang kepala kejaksaan. Disusul Kapolres dan Dandim. Ini yang saya sebut rapat muspida.

Kalau coffee morning bersama humas Pemkab dan para wartawan, hampir setiap hari. Tak perlu mengejar berita kegiatan pemkab melalui juru bicaranya. Tunggu saja di warung Hokky. Kabag humasnya pasti datang sebelum jam 10 pagi.

Walau sekarang sudah pensiun, tapi kunjungan ke warung Hokky masih terus berlanjut. Apa sih yang membuat betah? Teh susu buatan Sukma. Mi goreng buatan Sukma. Mi kuah juga buatan Sukma. Semua hasil kerja Sukma. Karyawan warung yang sudah belasan tahun ikut bekerja.

Sekali waktu, ada anak muda dengan memegang gitar kecil. Anak muda itu sebetulnya naik motor. Tapi, ia parkir motornya agak jauh dari warung. Lalu, berdirilah di depan warung sambil bernyanyi. Lagunya bernuansa Islami ‘Salawat Badar’.

Beberapa pekan berikutnya, anak muda itu datang lagi. Dan menyanyi lagi dengan memakai baju yang tidak pernah berganti. Lagu yang dinyanyikan, itu lagi itu lagi. Beberapa kali, wajah saya sudah ia kenali.

Sekali waktu, anak muda yang terakhir saya baru tahu namanya Yanto, mampir di warung Lamongan dekat rumah saya. Mungkin ia tidak melihat kalau saya ada duduk di antara pelanggan warung.

Bernyanyilah satu lagu. Di saat melihat saya lagi duduk membelakang di pojok warung, iapun lalu menambah lagu yang baru. Lagunya, lagi-lagi Salawat Badar. Kali ini ia bernyanyi sambil tersenyum. Mungkin ia sudah hafal, bakal dapat tips Rp 10 ribu.

Setelah warung Hokky pindah sementara, dan di saat saya ke warung Lamongan lagi, tak pernah terlihat Yanto dengan gitar kecilnya. Tak pernah lagi terlihat ngamen di sepanjang Jalan Pulau Derawan. Ke mana dia?

Saya tak perhatikan siapa yang memasak di rumah makan Chinese Food di Jalan Panglima Batur. Memang biasanya sang kokoh yang meracik bumbu. Malam itu saya pesan mi goreng sea food. Tapi, makannya di rumah.

Tiba-tiba tukang masak di samping sang kokoh memandang ke arah saya sambil tersenyum. “Apa kabar om,” kata dia. Saya senyum-senyum saja. Barulah sedikit terbuka memori, di saat ia menyebut, saya tidak ngamen lagi.

Oh, rupanya saya jumpa dengan Mas Yanto. Orang yang lama saya cari-cari. Saya rindu lagu Salawat Badarnya kalau ngamen. “Dia sekarang membantu saya di dapur,” kata si kokoh. Itu artinya Yanto mendapat job baru.

“Mencari suasana baru. Masa saya ngamen terus,” kata Yanto. Saya tidak mau mengganggu konsentrasinya membuat nasi goreng pesanan melalui Go Food. Khawatir salah memberi bumbu.

Yanto, sedang menjalani seri berikutnya dalam menjalani hidup. Setelah ngamen, kini jadi koki. Saya membayangkan kelak, setelah ilmu memasaknya cukup diserap, ia akan membuka warung sendiri.

Sayapun membayangkan, bila nanti ia punya usaha sendiri. Saya datang memesan mi goreng. Dan saya membayangkan, ada pengamen yang datang ke warung Mas yanto, yang pernah jadi pengamen juga. Tentu lagunya lain. Bukan Salawat Badar. @cds_daengsikra. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan