BAYANGKAN saja perpaduan ini: masjid yang berwarna abu-abu, dengan kubah bercorak biru langit, dan berdiri kokoh di atas laut. Estetika yang tidak gampang ditemukan di masjid lain.
"ANGIN laut yang masuk juga menambah kenyamanan saat berada di dalamnya,” kata Nur Syamsidar, pelancong asal Nusa Tenggara Timur, kepada FAJAR yang menemuinya akhir bulan lalu.
Masjid Terapung Amirul Mukminin berdiri dengan ditopang 164 pancang beton di sisi paling barat Kawasan Anjungan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Berdiri di laut itu seolah mengingatkan bahwa leluhur para pelaut Bugis-Makassar senantiasa selalu tangguh saat berada di samudra.
Saat memasuki kawasan masjid, terdapat dua jembatan yang bisa diakses oleh masyarakat, dari sisi tenggara dan barat daya. Ini memberikan kesempatan bagi pelancong untuk ikut menikmati keindahan Pantai Losari.
Masjid didesain cukup simpel bagi masyarakat yang ingin beribadah. Namun, di saat yang sama menyajikan kompleksitas bagi pengunjung untuk menjajal keindahannya.
Para jemaah bakal disambut dengan lima tiang yang tegak berdiri menopang kubah utama yang tepat bersampingan dengan kubah kecil di belakangnya begitu memasuki masjid. Akses untuk masyarakat berwudu pun bisa langsung terlihat berada di sisi kiri masjid untuk laki-laki, dan sisi kanan untuk perempuan saat memasuki teras.
Kembali ke ruang utama masjid, saat masuk, pintu keseluruhan ditutupi oleh kaca transparan berpadu rangka besi yang dicat putih. Di dalam, interior dinding marmer dan langit-langit masjid dominasi warna putih berpadu dengan desain lafaz Allah dan Muhammad yang ditulis dengan warna emas di sisi tengah ruangan. Di antaranya berdiri podium bagi ustad untuk berdakwah.
Pencahayaan masjid ini pun didukung oleh lampu yang didesain bulat mengisi tiap sudut langit-langit masjid. Sisanya dibantu cahaya alami matahari saat siang hari.
Saat masuk, kesan utama yang terasa adalah sejuk angin sangat terasa terembus dari sela-sela jendela masjid, tanpa harus dibantu oleh pendingin ruangan dan kipas angin.
Desainernya yang saat ini menjabat Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto, menyebut, konsep dan desain masjid ini sebelumnya tidak pernah ada di dunia. Sebab, menyediakan ruangan khusus masyarakat yang ingin salat pribadi di lantai 3 masjid tepat di bawah kubah kecil, seperti salat Istikharah, Tahajud, hingga salat sunah lainnya. Sedangkan lantai 1 dan 2 lebih umum diperuntukkan untuk salat jemaah.
’’Jika melihat desain masjid dari atas, masyarakat juga bisa menemukan angka 99 yang saling bertautan satu sama lain memberikan makna dalam 99 asmaulhusna,” kata Danny, sapaan akrab Moh. Ramdhan Pomanto.
Masjid ini seyogianya kali pertama dibangun pada 2009 dan diresmikan pada 2012, atas inisiatif dan dukungan dari eks Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin. Amirul Mukminin dibangun dengan swadaya masyarakat dan hingga kini dikelola mandiri pula oleh masyarakat.
Tujuan utamanya tak lain sebagai masjid persinggahan bagi pelancong luar yang datang ke Anjungan Losari. ’’Jadi, ramainya pada hari biasa itu pada saat salat Magrib dan Isya,’’ kata Anda Dolar, pengurus utama Masjid Amirul Mukminin.
Selama Ramadan sejumlah kegiatan juga rutin digelar. Salah satunya program one day one juz yang digelar pengurus masjid dari 21.30 seusai Salat Tarawih hingga pukul 23.00. Program ini mengajak masyarakat untuk mengaji hingga 30 juz selama bulan suci.
Perkembangan masjid ini seyogianya tak lepas dari dukungan donatur dan pelancong. Bahkan, jika sudah mencapai di atas Rp 100 juta, disalurkan ke masjid-masjid lain.
Mita, pelancong asal Bontang, Kalimantan Timur, menyebut Masjid Terapung Amirul Mukminin menghadirkan atmosfer yang unik. ’’Kesannya tak lain adalah sejuk ditambah desain yang estetis, modern, dan rapi,” kata Mita yang sudah dua kali ke masjid tersebut. (an/c17/ttg/jpg/sam)