Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Banjir, Layanan Umum Terpaksa Dihentikan

izak-Indra Zakaria • 2023-05-11 16:32:08
TERGENANG: Banjir terus meluas, kini terdapat sembilan kampung di empat kecamatan yang terendam banjir.
TERGENANG: Banjir terus meluas, kini terdapat sembilan kampung di empat kecamatan yang terendam banjir.

TANJUNG REDEB – Hingga kemarin (10/5) belum ada tanda-tanda banjir yang melanda sejumlah kampung di Kecamatan Kelay, Segah, Teluk Bayur, dan Sambaliung akan berakhir.

Bahkan kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat, hujan yang terus terjadi membuat luapan air sungai terus mengalami kenaikan.

Berdasarkan yang pihaknya himpun, hingga kemarin banjir sudah meliputi sembilan kampung yakni Kampung Tumbit Dayak, Tumbit Melayu, Labanan Makarti, Long Ayan, Punan Malinau, Tepian Buah, Gunung Sari, Merabu, dan Merasa. Dari sembilan kampung itu, terdapat 4.307 kepala keluarga (KK) terdampak.

Untuk ketinggian air bervariasi, bahkan ada yang mencapai 1,5 meter. Menurut Nofian, akibat banjir ini berdampak pada sarana dan prasarana yang ada di kampung tersebut. Meski begitu, masyarakat masih memilih berdiam diri di rumah, karena rata-rata rumah warga merupakan rumah panggung. Jika ada kebutuhan di luar rumah, masyarakat memanfaatkan perahu.

Namun dipastikannya, pihaknya terus berkoordinasi dengan kepala kampung dalam memantau ketinggian air, juga telah sudah menurunkan tim reaksi cepat bencana alam. Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan PLN, guna memadamkan area yang banjirnya cukup tinggi, guna mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Yang kami khawatirkan jika listrik menyala, akan berimbas ke kecelakaan,” bebernya.

Sementara itu, Manager PLN UP3 Berau, M Harryadi Poel, mengatakan, untuk gardu listrik yang mengarah ke Tumbit sudah sempat dipadamkan. “Pantauan kami, memang air cukup tinggi, makanya sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) yang berlaku, dilakukan pemadaman,” ujarnya.

“Saat tinggi sempat 30 gardu kami padamkan. Tapi pada siang hari (kemarin, red) sudah sebanyak 20 gardu dihidupkan kembali,” sambungnya.

Sementara Camat Sambaliung, Nazaruddin, mengatakan, persoalan banjir ini sebutnya sebenarnya merupakan pekerjaan rumah yang harus bisa diselesaikan. Hal ini pun diklaimnya selalu dia suarakan saat musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang).

“Ya karena kan di Musrenbang itu banyak usulan, kadang usulan P1 namun tidak diakomodir,” tuturnya.

Nazaruddin mengatakan, untuk masalah perbaikan infrastruktur tersebut, bisa dianggarkan melalui anggaran dana kampung (ADK) jika ada fasilitas yang rusak. Namun jika besar, tentu harus mengusulkan ke Pemkab. “Kan ada ajuannya, ada alurnya,” bebernya.

Dikatakannya, permasalahan banjir memang harus dientaskan, karena yang menjadi korban tentu masyarakat. Belum lagi gagal panen yang terus menghantui. “Kalau kerugian tentu belum bisa ditaksir berapa. Tapi Alhamdulillah sampai sekarang belum ada korban jiwa,” tutupnya.

Fasilitas Umum Ditutup

Imbas banjir yang terjadi beberapa hari terakhir, membuat seluruh layanan umum di Kampung Tumbit Dayak dihentikan sementara. Hal itu diutarakan Kepala Kampung Tumbit Dayak, Maspri, kemarin (10/5).

Layanan umum itu di antaranya Puskesmas Pembantu (Pustu), Sekolah Dasar (SD), dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). “Banjir sejak Senin (8/5) siang hari. Saat ini ketinggian sudah mencapai 1 meter,” ujarnya.

Meski saat ini di sejumlah wilayah sudah mulai surut, namun tidak di RT 1 tempat Pustu berada, akibatnya bagi warga yang ingin berobat diarahkan ke kampung lain, untuk mendapatkan layanan fasilitas kesehatan.

“Pustunya tergenang masuk sampai ke dalam. Jadi rekan petugas di sana terpaksa menutup Pustu tersebut,” bebernya.

Banjir saat ini katanya di luar kebiasaan, mengakibatkan banyak petani harus mengalami kerugian karena gagal panen. “Biasa banjir itu akhir tahun, dan warga mulai menanam pertengahan tahun. Namun banjir ini tiba-tiba saja, mungkin karena curah hujan yang tinggi,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Totoh Hermanto, mengatakan, untuk fasilitas kesehatan yang terendam banjir tentu tidak bisa dipindahkan begitu saja, mengingat perannya sangat penting. Terlebih, ada ratusan kepala keluarga (KK) yang ada di Kampung Tumbit Melayu.

“Tidak bisa dipindahkan begitu saja. Banyak alurnya, terlebih ini pelayanan dasar masyarakat,” ujarnya.

Totoh mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan kepala kampung guna membahas soal ini lebih lanjut. “Kami akan bahas ke depannya seperti apa. Dan tentunya, petugas pustu sudah antisipasi, kemungkinan tidak ada barang-barang pustu yang terendam. Saya belum terima laporan kerusakan,” tutupnya. (hmd/sam)

Editor : izak-Indra Zakaria
#infrastruktur