Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Telur Tujuh Menit

uki-Berau Post • 2023-05-15 15:12:50
-
-

HARI Minggu (14/5) menjadi istimewa. Khususnya bagi pengunjung warung pojok. Walau para ‘member’ datang bergantian. Tetap saja suasananya jadi ramai.

Ada yang datang sejak pintu besi warung dibuka sekitar pukul 6.00 Wita. Hingga menjelang tutup di pukul 13.00 Wita. Saya datang pukul 10.00 Wita. Berbusana olahraga. Masih ramai.

Bangku dekat pintu, ada Pak Narendra Mohni, Wakil Ketua Pengadilan Negeri. Yang di sampingnya itu bikin saya semangat. Siapa lagi kalau bukan Kajari Pak Hari Wibowo. Ini kejutan dan tamu luar biasa, kata Hendra, pelanggan warung pojok yang bekerja di Disperindagkop.

Pak Hendra punya alasan berkata demikian. Sepanjang yang ia tahu, selama warung pojok berdiri, baru kali ini dikunjungi tamu istimewa. Dulu pernah kapolda ikut menikmati kopi susu di warung pojok, kata Hendra.

Bagi saya, bertemu Pak Hari di warung kopi untuk kedua kalinya. Sebelumnya saya jumpa di Berau Coffee di Jalan Mangga II, malam hari. Waktu itu, kami bersama-sama Pak Agus Wahyudi, Pj Sekkab Berau dan beberapa kepala dinas. Suasananya santai.

Apa yang diceritakan? Persoalan hukumkah? Terkait perkarakah? Tidak. Sama sekali tidak berbincang soal hukum ataupun perkara. Padahal bisa saja mendisuksikan soal itu. Yang diceritakan berbagai pengalaman. Khususnya pengalaman perjalanan bertugas di daerah-daerah.

Pak Hari, justru menceritakan bagaimana situasi saat terjadi gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, di tahun 2018 lalu. Ia melihat bagaimana tanah bergerak begitu cepat. Bagaimana korban gempa dan tsunami itu, bertumpuk-tumpuk. “Kantor Kejari berada di lokasi sedikit berbukit, sehingga tidak terdampak parah,” kata Pak Hari.

Ada ribuan mayat, yang bertumpuk di halaman belakang kantor Pengadilan Tinggi yang hanya berjarak ratusan meter dari pantai. Yang tahu akan situasi itu, kata Pak Hari, sampai sekarang tidak berani ke kantor pengadilan tinggi tersebut.

Karena kunjungan perdana, tamu yang datang ada semacam kewajiban menyalami semua pengunjung yang lebih dahulu tiba. Hari Minggu (14/5) itu, mereka tidak menyangka kalau yang duduk di dekat pintu keluar berdampingan dengan Pak Kiki, adalah Pak Kajari.

Kalau Pak Kiki, sapaan wakil ketua PN, pengunjung warung pojok sudah sangat akrab. Hampir setiap akhir pekan, beliau pasti hadir. Tidak ketinggalan membawa bungkusan kecil berisi kue untuk-untuk, roti, dan putu labu. Itu bingkisan rutin buat pengunjung warung pojok yang memang tidak menjual kue selain mi kuah dan roti bakar.

Apalagi cerita yang dibagikan Pak Hari selama hampir tiga jam berada di warung pojok. Ada resep yang seperti perlu diikuti. Khusus yang masuk golongan lansia. Agar kebugaran tubuh tetap terjaga. “Kalau seperti Pak Daeng, cukup jalan kaki saja setiap pagi dan sore,” kata Pak Hari.

Terus, bagaimana dengan asupan proteinnya? Beberapa bulan ini, beliau sangat disiplin menerapkan soal asupan makanan. Sarapan pagi cukup dengan buah-buahan. “Kalau juga harus minum kopi bisa saja. Kopinya tidak pakai gula,” tambahnya.

Bagaimana dengan makan siangnya? Makan juga seperti biasa. Tapi tetap menghindari nasi. Jadi, yang disantap itu, sayuran seperti gado-gado, tapi tidak pakai nasi ataupun lontong.

Malam harinya juga demikian. Kembali seperti asupan di pagi hari. Cukup dengan buah-buahan. Tapi, ada satu resep yang menarik. “Bisa juga dengan telur rebus,” kata Pak Hari.

Caranya? Didihkan air, kemudian masukan telur ayam kampung atau bukan kampung. Siapkan alat pengatur waktu. Ketika air mendidih, masukan telur lalu hitung selama tujuh menit. “Ingat hanya tujuh menit,” tambahnya. Telur diangkat lalu dinikmati.

Saya tertarik dengan resep telur rebus tujuh menit ala Pak Kajari. Selama ini, yang masuk ke warung pokok, pesannya telur setengah masak. Ada juga yang memesan telur tiga perempat masak. Saya tidak tahu, apa pelayan bisa membuatkan telur rebus tujuh menit, seperti saran Pak Kajari.

Perbincangan kami dengan Pak Kiki dan Pak Hari bersama beberapa pelanggan warung pojok, masih bisa berlama-lama. Maklum, tak ada kegiatan. Sayapun juga demikian. Akan banyak hal baru yang bisa saya dapatkan.

Sayangnya, ada tamu Pak Kiki dari Kaltara. Bila tak salah, beliau itu wakil ketua Pengadilan Tinggi di Kaltara. Mungkin beliau sedang menikmati hari minggu di Tanjung Redeb dengan menempuh perjalanan darat selama dua jam.

Lanjutlah perbincangan beliau-beliau itu. Dan saya bersama Hendra, ASN Disperindagkop, siap-siap meninggalkan warung pojok. Sayapun pamit pualang duluan. Namun, dalam pikiran saya, masih terbayang bagaimana rasanya resep ‘telur tujuh menit’ itu. @cds_daengsikra. (*/sam) 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan