Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Nona Manis

uki-Berau Post • 2024-01-08 18:27:19
-
-

NAMANYA yang baru, kota tua. Itu disematkan bagi Teluk Bayur yang sekarang berstatus kecamatan. Kota yang lebih dulu dikenal terkenal dibanding Tanjung Redeb.   

Bukan semata karena usia, sehinga disematkanlah nama kota tua. Banyak cerita  dari banyak saksi hidup maupun peninggalan Belanda, menjadi alasan mengapa Teluk Bayur punya nama baru Kota Tua.

Hari Minggu (7/1) kemarin, pagi-pagi saya ke Kota tua Teluk Bayur. Ada kesibukan ibu-ibu dalam dua pekan ini. Kesibukan menggugah kenangan lama. Di satu sisi lapangan steinkolen 1912, ada bazar wadai. Yang jualan warga yang tinggal di Teluk Bayur.

Ide menghadirkan kegiatan itu diinisiasi sahabat saya Bu Samsiah (Kabid Pengembangan) dan Bu Yani karyawan Disbudpar. Menjadi satu paket dengan menghadirkan museum batu bara yang lokasinya tak jauh dari lapangan bola yang pernah di pakai tim Ajax merumput.

Memang tidak tiap hari. Kegiatannya dikhususkan pada hari minggu pagi saja. Konsepnya, bahwa Teluk Bayur itu punya banyak jenis penganan yang jarang didapatkan, kecuali bila dipesan khusus. Makanya kita beri nama bazar jajanan jadul, kata Samsiah.

Datanglah saya pagi-pagi. Awalnya saya berencana ke acara itu, dengan memakai sarung dan kopiah bersandal jepit biar nuansa jadulnya terlihat. Itu pesan Bu Sam. Sebab di hari pertama, saya dengar para penjualnya mengenakan kebaya. Ada juga yang pakai topi, seperti noni-noni Belanda.

Lokasi yang ditempati jualan jajanan jadul itu, menurut cerita tokoh masyarakat Teluk Bayur, memang dulu di hari-hari libur para pejabat perusahaan tambang Batu Bara itu, bersenang-senangnya di lapangan bola. Mereka sambil berdansa pas di lokasi jualan ibu-ibu itu.

Memang belum banyak yang terlibat berjualan. Jumlahnya masih puluhan saja. Bu Sam optimistis, kalau kegiatan itu bakal diminati warga untuk berjualan dan yang datang berbelanja.

Ada lantunan suara ibu-ibu yang bernyanyi menemani warga yang datang berbelanja. Sambil jalan, mencermati satu per satu meja yang memajang wadai. Penjualnya tersenyum ramah dengan baju seragam berwarna abu-abu.

Ayo beli pak, ini ada kue Nona Manis, kata penjualnya. Saya tersenyum-senyum. Penjualnya juga manis, kata saya dalam hati saja. Meja sebelahnya jualan Saraba. Harganya Rp 5 ribu per gelas. Saya belilah saraba dan kue Nona Manis.

Meja sebelahnya lagi, ada yang jualan kue berwarna merah dilumuri kelapa parut. Ini kue jandakah bu, kata saya dengan suara pelan-pelan. Yang jualan pun dengan suara perlahan menyahut, iya pak kue janda namanya.

Asyik mencermati jajanan sambil menikmati saraba. Datang Pak Agus, tokoh pemuda Teluk Bayur. Ia memuji penggagas jajanan jadul yang lokasinya di lapangan yang memang menyimpan banyak kenangan. Dulu kisahnya memang di lokasi ini Belanda melakukan pesta dengan rakyat dan para karyawan perusahaan, kata Agus.

Dari tempat itu, saya diajak Pak Agus melihat bangunan yang rencananya akan dijadikan museum Batu Bara. Berkeliling bangunan yang sudah direnovasi. Dulu ini lantainya marmer, kata Agus.

Ia pun bercerita, kalau bangunan yang sebutannya rumah bola itu pernah dijadikan sekolah. Ruang belajar saya di sini, kata Agus sambil menunjuk satu ruangan yang tertutup. Bangunan yang berada di ketinggian itu, bisa menyaksikan kesibukan Sungai Segah. Memang hebat Belanda mencari lokasi yang cantik, kata Agus.

Dari lokasi museum Batu bara, saya kembali lagi ke lokasi bazar. Masih ada jajanan yang saya cari dan tidak sempat melihat. Tidak ada yang jualan cenilkah? kata saya dengan Bu Sam. Rupanya minggu ke dua, cenil nihil, tak ada yang jualan. Hari pertama ada yang jualan.

Mengobati rasa kecewa. Saya bawa pulang saja dua gelas berisi getuk dan sebungkus Nona Manis. Jajanan berbahan ubi kayu yang ditumbuk dengan gula merah. Minggu depan, saya ke sini lagi, biar bisa bawa pulang cenil. (*/sam)

@cds_daengsikra

Editor : uki-Berau Post
#Catatan