PADA tahun terakhirnya di London School of Communication, Daniel Britton mencoba membuat desain untuk menyampaikan pengalaman disleksia kepada orang-orang yang tidak menderita disleksia agar mereka memahami bagaimana rasanya memiliki disleksia.
Penderita disleksia asal London, Inggris, itu memakai font standar Helvetica, dan menghilangkan 40 persen dari garis huruf sehingga memperlambat seseorang ketika membacanya (lihat ilustrasi). Tidak seperti kebanyakan poster kampanye, desain poster hampir tidak bisa dibaca, lantaran beberapa bagian dari huruf menghilang. Lambatnya proses memecahkan kode kata-kata dalam poster tersebut membuat frustrasi dan meletihkan.
Begitulah rasanya memiliki disleksia, kata Britton, yang menciptakan gambar tersebut untuk meningkatkan kesadaran akan kondisi disleksia. Sebagian besar kampanye untuk meningkatkan kesadaran kondisi tersebut. “Ketika orang mencoba untuk mensimulasikan disleksia, mereka akan membuat beberapa huruf kabur, meletakkan huruf 'e' kembali ke depan dan membuka ruang di antara kata-kata,” katanya, seperti dilansir dari laman danielbritton.info.
Pemuda asal Hartley, Kent, Inggris ini, percaya, disleksia telah disalahartikan dan disalahpahami. “Retorika tentang orang-orang disleksia adalah mereka bodoh, mereka malas, mereka tidak berusaha.”
Bagi kebanyakan orang dengan disleksia, lanjut Britton, huruf dan angka tidak melompat-lompat di halaman kertas dan warna tetap sama. Disleksia hanya memecah komunikasi antara mata dan otak.
Britton didiagnosis mengidap disleksia pada usia 18 tahun. Bertahun-tahun dia berjuang di sekolah tanpa bantuan dan gagal dalam semua ujian, kecuali desain grafis.
Dia percaya ketika kita sudah memahami kondisi disleksia, kesempatan untuk menciptakan ruang belajar bagi anak-anak yang mengalami hal senada terbuka lebar. “Coba pikir, 10–20 persen dari 8 miliar penduduk dunia adalah pengidap disleksia. Jika kita bisa memberikan pemahaman berbeda, dunia semakin indah,” katanya. (timkp)