Oleh: Slamet Pujiono
(Guru SMP 23 Samarinda, NIP 19680427199308001)
UNTUK meningkatkan minat belajar siswa di kelas, guru dituntut menguasai beberapa metode pembelajaran. Pasalnya dengan menguasai berbagai metode, tenaga pendidik diyakini dapat menyampaikan materi dengan efisien. Tentu supaya tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses pembelajaran tercapai dengan efektif. Tak terkecuali dalam mata pelajaran IPS.
Agar metode yang diterapkan dalam pengajaran IPS tepat, ada baiknya Anda mengetahui tujuan pengajaran IPS. Menurut Edwin Fenton, tujuannya antara lain: (1) pemerolehan pengetahuan, (2) pengembangan keterampilan inkuiri, dan (3) pengembangan sikap-sikap dan nilai.
Nah, metode-metode pengajaran yang dapat dipilih oleh guru antara lain: 1. Metode ceramah. Ini metode yang umum dipakai. Dengan metode ceramah, guru dapat menyampaikan pengetahuan faktual yang banyak dan konsep-konsep. Namun, semuanya ini tidak berarti banyak jika tidak ada gambaran konkret dalam bentuk contoh dan peragaan (model, tiruan, gambar, dan lain-lain).
2. Metode diskusi. Jika metode ceramah dinilai belum cukup, maka setelah selesai berceramah dapat diikuti diskusi antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa. Masalahnya, apakah siswa sekolah menengah pertama (SMP) telah memiliki perbendaharaan pengetahuan faktual dan mengerti konsep-konsep yang cukup untuk turut aktif dalam diskusi.
Selain itu, jumlah siswa yang banyak dalam kelas terkadang menjadi masalah tersendiri untuk membuat semua siswa ikut bicara dalam diskusi dengan alokasi waktu pelajaran yang terbatas.
3. Metode tanya jawab. Metode ini berlangsung dalam interaksi antara guru dengan siswa setelah guru selesai berceramah. Siswa mengajukan pertanyaan dan guru menjawabnya atau dapat juga dijawab oleh siswa lain, dan sebaliknya guru yang bertanya dan siswa yang menjawab. Beberapa bentuk pertanyaan adalah sebagai berikut: a) pertanyaan mengingat/hafalan. B) Pertanyaan deskriptif. C) Pertanyaan menjelaskan. d) Pertanyaan sintesis. e) Pertanyaan memilih. F) Pertanyaan terbuka.
4. Metode proyek. Proyek di sini adalah semacam “penelitian” yang dilakukan di luar kelas/sekolah. Dilaksanakan secara individu atau kelompok dan membuat laporan dari hasil pengamatan untuk dibawa dan dibicarakan di kelas.
5. Metode karya wisata. Siswa dibawa mengunjungi objek-objek permukiman transmigran, situs sejarah, panti sosial, dan sebagainya. Selain rekreasi, siswa juga bisa belajar dari tempat yang mereka kunjungi (mencakup aspek kognitif dan afektif).
6. Metode bermain peran (role-playing). Di dalam metode ini melibatkan aspek kognitif (problem solving) dan afektif (sikap, nilai-nilai pribadi atau orang lain, membandingkan dan mempertentangkan nilai-nilai, mengembangkan empati dan sebagainya).
7. Metode demonstrasi. Metode demonstrasi, yaitu format belajar mengajar yang secara sengaja, menunjukkan atau memperagakan tindakan, proses atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada seluruh atau sebagian siswa. Metode demonstrasi disertai penjelasan, ilustrasi, dan pertanyaan lisan atau peragaan secara tepat. Adapun langkah pelaksanaan metode demonstrasi di antaranya: a) Persiapan. B) Pelaksanaan. c) Tindak lanjut (follow up). Ketujuh metode ini bisa diterapkan sendiri-sendiri. Namun, akan lebih baik jika dikolaborasi. Semoga bermanfaat. (ndu/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria