Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Cari Ikon Ibu Kota Negara Baru, Ada Usul...??

izak-Indra Zakaria • 2019-09-01 11:04:36

KEPUTUSAN pemindahan ibu kota negara ke Kaltim masih menunggu pengesahan di DPR dan MPR RI. Mendukung rencana itu, anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kaltim Hetifah Sjaifudian ikut bergerak. Menjaring sejumlah ide dan gagasan dari tokoh masyarakat di Benua Etam.

Ide itu disebut politikus Golkar tersebut untuk mencari ikon atau landmark ibu kota negara yang baru. Bahkan jika perlu dilakukan sayembara. Lomba untuk mencari hal yang mencerminkan visi jangka panjang. “Memadukan kearifan lokal. Unik dan bisa dikenalkan pada dunia internasional,” kata Hetifah (31/8).

Menurut dia, sudah ada beberapa alternatif yang bisa dijadikan simbol atau landmark ibu kota baru nanti. Lima alternatif ikon tersebut adalah Tugu Belawing, Prasasti Yupa, Burung Enggang, dan Ungun Tau.

Tugu Belawing adalah simbol perdamaian, kemenangan, dan kemegahan. Itulah sebabnya pada masyarakat Dayak, Belawing didirikan tidak sembarangan sembarangan. “Ada waktu dan makna khusus. Sehingga dahulu setiap setelah peperangan atau berpindah kampung di lokasi baru atau tengah pemukiman selalu didirikan Belawing,” bebernya.

Lalu, ada Prasasti Yupa sebagai simbol pengorbanan, perdamaian, dan babak awal sejarah. Sedangkan Burung Enggang merupakan penghubung dunia atas langit dengan dunia atas bumi. Burung Enggang juga menjadi simbol kebajikan dan kebaikan. Simbol lain adalah guci atau antang atau tajau yang merupakan simbol kesejahteraan, kemakmuran, dan eksistensi suatu kelompok. “Sedangkan Ungun Tau adalah tiang yang selalu ada di depan rumah panjang sebagai penunjuk waktu, ketepatan, dan kesatuan,” sebutnya.

Hetifah yang menyandang gelar insinyur di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Tata Kota dan Wilayah (Planologi) itu mengatakan, harus ada tata ruang yang konstruksi bangunannya tepat dan tetap mempertahankan kearifan lokal. Seperti diketahui, Kaltim memiliki hutan yang luas juga menjadi paru-paru dunia. Dipilihnya Kaltim sebagai ibu kota sebaiknya tidak sedikit pun merusak ekosistem di sana.

“Saya berharap konsep perkotaan yang baru tidak hanya sekadar garden city, tapi juga forest city yang dituangkan secara detail. Jadi, masyarakat yang tinggal di sana tetap merasakan bila itu merupakan Kalimantan yang asli dengan pembangunan yang terencana,” imbuhnya.

Maka, diharapkan, ikon ibu kota yang baru nanti juga mengandung unsur hutan, sungai, dan biodiversitinya. Jika Jakarta punya Monumen Nasional (Monas), maka Kaltim juga harus punya landmark yang bisa dibanggakan. Suatu kota disebutnya memang penting memiliki landmark, tapi tidak harus mewah dan memakan biaya besar. “Ikon kota nanti akan menjadi satu kesatuan dengan perencanaan tata ruang dan bangunan,” ungkapnya.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI itu menyampaikan, upaya untuk menjaring ide dan gagasan terkait ikon dan landmark calon ibu kota negara baru adalah upaya untuk mendukung perpindahan ibu kota ke Kaltim.

Menurutnya, Jakarta sudah sangat sesak dan harus ada solusi baru untuk masalah yang satu ini. Pemindahan ibu kota merupakan langkah besar yang diambil oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Golkar menyadari pentingnya dukungan dan penerimaan publik dalam rencana pemindahan ibu kota negara,” ucapnya.

Hetifah menegaskan perlu adanya pembangunan yang tepat di Kaltim saat sudah benar-benar resmi menjadi ibu kota negara. Pemindahan itu bukan sekadar memindahkan Jakarta dengan segala problematikanya ke Kaltim. Tapi harus terstruktur dengan rapi hingga siap menjadi kota yang menjalankan roda pemerintahan Indonesia.

Bukan pula memindahkan macet, banjir, dan masyarakat Jakarta ke tempat baru. “Kami ingin Kalimantan menjadi the future of Indonesia. Kaltim nantinya akan punya ciri khas sendiri; masalahnya sendiri,” tambahnya.

Dengan konsep pembangunan yang matang, maka harapan agar pembangunan Indonesia lebih merata. Namun dengan skema pembiayaan yang tepat. Dengan begitu, tidak ada istilah proyek terbengkalai, mangkrak, atau terlunta-lunta. “Semuanya bisa tuntas dengan baik tanpa adanya pemborosan biaya,” terangnya. (rdh/rom/k18)

Editor : izak-Indra Zakaria
#ibu kota negara