Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Trump Buka Kedok, Minta Tiongkok Telisik Anak Biden

izak-Indra Zakaria • 2019-10-05 11:44:34

WASHINGTON– Sikap Presiden AS Donald Trump berubah 180 derajat. Sebelumnya, suami Melania itu ngotot menyangkal ada quid pro quo (bantuan dibalas bantuan) dalam percakapannya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dua hari lalu dia malah meminta pemerintah Tiongkok ikut menggali borok anak Joe Biden.

Kamis sore (3/10) dia muncul di hadapan media di taman selatan Gedung Putih. Dia sudah menyiapkan jawaban terhadap isu paling hot saat ini. Yakni, permintaan penyelidikan kasus perusahaan Burisma, tentu menyangkut Hunter Biden, kepada pemerintah Ukraina.

Ayah Ivanka tersebut tak repot menyangkal. Dia menegaskan bahwa Ukraina sepatutnya menyelidiki keterlibatan calon rivalnya dalam Pilpres 2020 dalam kasus tersebut. ”Ngomong-ngomong, Tiongkok seharusnya ikut menyelidiki keluarga Biden. Karena yang terjadi di sana jauh lebih parah daripada kasus Ukraina,” ungkap sang taipan kepada CNN.

Yang dimaksud Trump adalah kabar tentang perjalanan resmi Biden ke Tiongkok 2013 silam. Tak lama setelah itu, BHR Partners mendapatkan investasi besar dari bank pelat merah Tiongkok. Hunter Biden merupakan salah seorang direksi di sana.

Kubu Trump, sepertinya, mengubah strategi. Dia tak lagi memakai topeng yang menunjukkan dirinya tak punya maksud tersembunyi. Sebab, topengnya sudah mulai tersingkap dalam sidang tertutup di kongres AS pada hari yang sama. Penyelidik Dewan Perwakilan AS meminta keterangan dari Kurt Volker, mantan utusan khusus untuk Ukraina, mengenai percakapan Trump-Zelensky 25 Juli lalu.

Volker mengakui bahwa ada persiapan yang dilakukan diplomat AS bersama dengan Rudy Giuliani, pengacara pribadi Trump, sebelum telepon resmi terjadi. Salah satunya, penekanan bahwa Trump akan mengunjungi Ukraina hanya jika kasus yang menyangkut Biden dibuka lagi. Bukti-bukti pendukung terlampir dalam pertukaran pesan singkat antara Volker dengan Duta Besar AS untuk Uni Eropa Gordon Sonladn dan William Taylor, diplomat senior AS di Ukraina.

”Kita sudah mendapatkan banyak bukti bahwa Zelensky diharuskan menyelidiki kasus Pemilu 2016 serta Biden jika ingin melakukan pertemuan (dengan Trump, Red),” ujar Eric Swalwell, anggota komite intelijen dewan perwakilan sekaligus politikus Demokrat.

Dengan semua temuan itu, Trump hanya bisa kembali ke strategi lama. Pasang muka badak. Dia bersikap seolah yang dilakukan saat ini tak melanggar etika atau aturan politik AS. Strategi itu juga diterapkan Wakil Presiden AS Mike Pence.

”Saya kira rakyat AS berhak untuk tahu apakah mantan wakil presiden AS atau keluarganya mengambil keuntungan dari jabatan yang dipegang. Isunya adalah melihat ke belakang dan memahami apa yang terjadi,” ungkap Pence.

Strategi andalan Trump itu sering berhasil. Dia berhasil memungkasi kasus uang suap kepada Stormy Daniels hingga menghalangi penyelidikan jaksa khusus Robert Mueller. Semua itu dilakukan dengan membuktikan satu hal. Meski tak etis, pria 73 tahun tersebut selalu membawa hasil. Seperti yang dia klaim saat kampanye Pilpres 2016, dia selalu menang.

Karena itu, dia selalu memamerkan daftar prestasinya kepada konstituennya. Sebagian besar tentang pasar saham yang terus tumbuh dan angkatan kerja yang lebih terserap. Tak bisa disangkal, dia merupakan salah seorang kepala negara AS yang mencetak sejarah karena bertemu dengan pemimpin Korut Kim Jong-un.

Kali ini pun, Trump menunjukkan bahwa strateginya tokcer. Pekan lalu Jaksa Agung Ukraina Ruslan Ryaboshapka mengatakan bahwa mereka mengevaluasi kembali 15 kasus terkait Burisma. Dia mengaku lebih fokus terhadap sang pendiri, Mykola Zlochevsky dan petinggi lainnya. Namun, tak ada yang tahu apakah Hunter Biden juga bakal dimasukkan ke evaluasi tersebut.

”Kami akan memeriksa, adakah hal ilegal yang terjadi,” ungkap dia kepada Agence France-Presse.

Sayang, tak semua keinginan Trump terwujud. Tiongkok sudah lebih dulu menolak permintaan Trump. Tiongkok merupakan salah satu negara yang tegas menolak mencampuri urusan politik luar negeri. Pengamat mengatakan bahwa itu adalah bentuk pertahanan pemerintahan Xi Jinping agar negara lain tak mencampuri urusan internal mereka. (bil/c10/dos)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara