Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Iran Bantah Tuduhan Pesawat Jatuh karena Rudal, Undang Boeing

izak-Indra Zakaria • 2020-01-11 13:41:35
Petugas bulan sabit merah mengevakuasi jenazah korban Ukraine International Airlines yang jatuh di Iran. REUTERS
Petugas bulan sabit merah mengevakuasi jenazah korban Ukraine International Airlines yang jatuh di Iran. REUTERS

TEHERAN– Dugaan bahwa rudal menjadi penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines (UIA) makin kuat. Negara-negara Barat seperti AS, Inggris, dan Kanada mulai memercayai teori tersebut. Sedangkan Iran membantah.

Kamis waktu setempat (9/1) Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menyatakan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai kasus UIA. Menurut dia, salah satu sumber intelijen menyebutkan, ada indikasi bahwa Iran menembak jatuh pesawat Ukraina dengan rudal. Trudeau pun meminta pemerintah Iran merespons indikasi tersebut.

”Kanada punya pertanyaan. Dan, kami berhak mendapatkan jawaban,” ungkapnya seperti yang dilansir Agence France-Presse. Kanada merupakan salah satu negara yang paling kehilangan dari kecelakaan tersebut. Sebanyak 63 warganya menjadi korban jiwa. Terbanyak kedua setelah warga Iran.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa pihaknya terus menerima bukti-bukti yang mendukung teori serangan rudal. Sedangkan Presiden AS Donald Trump mengatakan, pihaknya curiga bahwa tentara Iran yang menembak jatuh. ”Mungkin seseorang membuat kesalahan,” ungkapnya.

Tudingan tersebut muncul setelah video amatir beredar di publik. Video itu menunjukkan benda terbang dengan kecepatan tinggi lalu meledak di udara. Beberapa detik kemudian, suara dentuman terdengar. New York Times memverifikasi rekaman tersebut sebagai momen rudal menghantam pesawat.

John Goglia, analis penerbangan, juga lebih percaya terhadap teori rudal daripada masalah teknis. Menurut dia, foto puing yang diperoleh dari tempat kejadian perkara (TKP) dan rekaman video menguatkan asumsi bahwa penerbangan PS752 itu diserang.

Mantan pakar keamanan penerbangan di National Transportation Safety Board (NTSB) menjelaskan, pesawat baru saja lepas landas dan masih berada di ketinggian 8 ribu kaki alias 2,4 kilometer. Ketinggian tersebut diakui sebagai level yang cukup aman. ”Masalah teknis paling fatal seperti gagal mesin pun  tak akan menghasilkan pemandangan seperti di lokasi,” imbuhnya.

Kecelakaan udara karena rudal sudah beberapa kali terjadi dalam sejarah. Beberapa di antaranya bahkan terjadi karena kesalahan teknis atau salah sasaran. Pada 2001, Ukraina tak sengaja menembakkan rudal ke pesawat Sibir Tupolev-154. Tentara AS juga pernah menembak jatuh Airbus A300 milik Iran Air dan menewaskan 290 jiwa. Saat itu AS membayar Iran USD 101,8 juta sebagai kompensasi.

Meski begitu, Iran bersikeras membantah hal tersebut. Kepala Lembaga Penerbangan Sipil Iran Ali Abedzadeh mengatakan, penyebab jatuhnya pesawat masih harus diselidiki dari kotak hitam. Namun, dia yakin bahwa rudal bukan penyebab musibah tersebut. ”Kalau ada yang yakin, silakan ungkapkan temuan Anda kepada dunia,” ujarnya kepada Associated Press.

Saat ini Iran sudah bekerja sama dengan banyak pihak untuk menyelidiki kasus tersebut. Terbaru, mereka mengundang Boeing dan NTSB (KNKT-nya AS) untuk ikut dalam tim investigasi. Keputusan itu menganulir pernyataan bahwa Iran tak akan mengundang pihak AS.

”Jika ada negara yang mempunyai informasi untuk membantu penyelidikan, kami siap menerimanya,” ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (bil/c11/sof)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara