Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Telusur Masjid Sejarah Samarinda, Terbesar Se-Asia Tenggara hingga Tertua se-Indonesia

izak-Indra Zakaria • 2020-03-14 21:10:55
INSPIRASI: Tak dapat dimungkiri, desain masjid terinspirasi dari masjid-masjid daerah Timur Tengah. Itulah titik ketertarikan Islamic Center.
INSPIRASI: Tak dapat dimungkiri, desain masjid terinspirasi dari masjid-masjid daerah Timur Tengah. Itulah titik ketertarikan Islamic Center.

Samarinda menyimpan bangunan-bangunan bersejarah. Termasuk tempat beribadah. Setiap bentuk bangunan memiliki nilainya. Bahkan warna yang menyelimuti pun ada maksudnya. Ada makna di setiap tiang yang berdiri hingga jumlah anak tangga. Inilah masjid terbesar se-Asia Tenggara hingga tertua se-Indonesia.

 

MENGADOPSI desain Masjid Nabawi Madinah, Masjid Hagia Sophia Turki, dan Masjid Putra Jaya Malaysia. Begitu ikonik dan sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Kaltim. Itulah Masjid Baitul Muttaqien atau Islamic Center yang beralamat di Jalan Slamet Riyadi.

Desain interior atau ornamen bangunan mencerminkan gaya klasik nan modern. Banyak orang lalu lalang di sekitar masjid. Beberapa kendaraan terparkir rapi. Masuk ke dalam masjid, pengunjung bisa bersedekah infaq sebelum memarkir kendaraan. Sukarela.

Di luar bahkan dalam masjid, dapat ditemukan orang-orang yang sedang beristirahat. Suasana sejuk nan dingin membuat mereka tak ingin meninggalkan area masjid. Menjelang salat zuhur, tempat wudu mulai disambangi umat muslim. Berbondong-bondong menghadap ke Sang Pencipta. Pemandangan yang menenangkan hati itu terus terjadi di sana setiap hari.

Gagasan dan keinginan membangun pusat pengembangan Islam di Kaltim pertama kali dicetuskan oleh Abdoel Wahab Sjachranie, Gubernur Kaltim pada 1967-1978. Ide itu berkembang setelah MTQ ke sembilan di Samarinda yang berlangsung sukses. Kemudian, dicarilah lokasi strategis. Membentuk pusat kegiatan umat muslim itu didukung oleh para tokoh agama, masyarakat, dan ulama Kaltim. Menjadikan masjid sebagai sentralnya.  Pada 16 Juni 2008, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono meresmikannya. Kini, dikelola oleh Badan Pengelola Islamic Center Kaltim.

Keseluruhan luas bangunan masjid 43.560 meter persegi. Terdiri dari dua bangunan basement sebagai tempat pakiran roda empat dan dua. Berdaya tampung 138 motor dan 200 mobil. Luasnya sekitar 10.235 meter persegi. Terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar adalah bagian atas dari basement. Biasa jadi tempat pertemuan umum. Ruangan itu mampu menampung 4.000 orang. Di sekeliling masjid pun dilengkapi selasar dengan tujuh gerbang seluas 2.580 meter persegi. Sedangkan lantai utama adalah kantor dan ruang salat seluas 8.185 meter persegi yang mampu menampung 10 ribu jamaah dan mezzanine (balkon) sekitar 2 ribu orang.

Disampaikan Agus Purnama, Kepala Seksi Informasi dan Komunikasi, kubah masjid mengadopsi kubah Masjid Nabawi berdiameter 45 meter persegi dihiasi kaligrafi, ayat kursi, dan dihiasi lampu gantung yang terinspirasi dari beberapa masjid di timur tengah. Bagian depan masjid pun terdapat menara induk dengan tinggi 99 meter. Dikenal dengan menara Asmaul Husna. Bangunan seluas 1.545 meter persegi itu bisa digunakan untuk menikmati keindahan Sungai Mahakam dan Samarinda.

“Jumlah menara ada enam, mengacu ke rukun iman. Di samping empat menara pada tiang pojok masjid, ada dua menara lebar dan menara pintu gerbang pada bagain depan yang mengintari seluruh masjid,” jelas Agus.

PUSAT AKTIVITAS: Masjid Baitul Muttaqien atau Islamic Center didirikan karena ingin ada wadah yang ditujukan untuk umat Islam selain beribadah.

 

TAMPUNG 80 RIBU JEMAAH

Atas kemegahannya itu, Islamic Center pun masuk dalam jajaran masjid terbesar se-Asia Tenggara. Patut berbangga sebab bersanding dengan Masjid Istiqlal Jakarta. Jika perayaan besar keagamaan, daya tampung jemaah bisa berkali-kali lipat. Halaman masjid dipenuhi mereka yang ingin menunaikan ibadah di masjid terbesar itu. “Bisa sampai 80 ribu jemaah. Membeludak dari halaman hingga ke pinggir jalan,” sebut Agus.

Terlihat di kanan-kiri tangga menuju lantai utama, tersedia tempat wudu terbuka. Di bagian lorong masuk, tersedia tempat penitipan pakaian, tas, sepatu, dan lain-lain. Sekaligus disiapkan mukena bagi perempuan yang tak membawanya untuk salat. Uniknya, disiapkan dua bentuk tangga untuk ke lantai utama. Jumlah anak tangganya 33 buah melambangkan bagi mereka yang akan salat di lantai utama, jangan lupa bertasbih sebanyak 33 kali. Lift juga tersedia bagi penyandang disabilitas. Terkait pembenahan, biasanya diatur oleh pemerintah provinsi. Bantuan demi pembenahan pun lancar.

“Kalau untuk resepsi pernikahan itu ada di lantai dasar. Kami juga ada perpustakaan dengan aneka ragam buku. Disediakan di lantai yang sama, bagian belakang masjid,” imbuhnya.

Agus mengungkapkan, setiap hari pasti ada saja yang mengunjungi Islamic Center. Entah orang-orang yang ingin pergi beribadah atau sekadar santai sore untuk berolahraga. Seandainya berbentuk rombongan, biasanya diminta untuk menyampaikan izin. Pihak masjid dengan senang hati menerima.

 Ada pula program Subuh Berjamaah yang dibentuk sejak 2017. Dilaksanakan sebulan sekali tiap Minggu. Antusiasme masyarakat terlihat. Apalagi jika kedatangan ulama-ulama terkenal. Jika ada kegiatan khusus dan berskala nasional, biasanya pemerintah akan merekomendasikan Islamic Center sebagai tempatnya. Terkait kegiatan yang dilakukan, masih berpaku pada hari-hari besar umat Islam saja. Idulfitri, Iduladha, Isra Miraj, dan lainnya.

“Proses peng-Islaman atau mualaf juga ada. Setiap minggu itu pasti ada. Harinya tidak menentu. Kapan pun kami siap. Bergantung dengan yang berkepentingan. Dalam seminggu, biasanya ada 20 mualaf. Ada dari Indonesia, dari negara lain seperti Inggris dan Amerika Serikat pun ke sini,” jelas Agus. Bagi para mualaf, pihak masjid biasanya akan memberikan beberapa fasilitas dan dukungan seperti alat salat dan kelengkapan lainnya.

Dipaparkan Agus, tugas pengurus masjid adalah memakmurkannya. Membuat suasana masjid jadi meriah. Menjadi pusat aktivitas umat Islam selain beribadah. “Rasa saling memiliki Islamic Center itu yang penting. Saling menjaga antara kami dan masyarakat,” pungkas Agus. (*/ysm*/rdm2)

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#wisata balikpapan #wisata samarinda #religi #samarinda