Hamparan pasir putih, air laut biru sebening kaca, dan lambaian daun kelapa tampak dari kejauhan. Deretan pohon perepat kukuh menjaga pulau. Jembatan dari ulin menanti kapal yang merapat. Masih ada pulau yang menyamai keindahan Pulau Derawan, Kaniungan, Maratua, Biduk-biduk, serta Sangalaki.
Uways Alqadrie, Samarinda
Takjub! Inilah Pulau Birah-Birahan yang terletak di seberang Pulau Manubar. Masuk Kecamatan Sandaran, hanya seluas 15 hektare. Berhadapan dengan Selat Makassar. Tak jauh dari Palu, hanya sekitar tujuh jam perjalanan. Bahkan radio yang bisa didengar berasal dari Palu.
Sejak 1961 pulau ini dibeli Achmad Dewer dari keluarga Aji Bambang. Harga beli ketika itu sebesar Rp 1 juta. Uang yang sangat banyak untuk masa itu. Ada 5 ribu pohon kelapa produktif yang menarik hati Achmad sebelum memutuskan membeli pulau tersebut. Hasil kopra bisa dijual ke negeri tetangga, Malaysia, tepatnya Tawau, untuk membayar pembelian pulau yang ditenggat harus selesai dalam setahun.
Ribuan pohon kelapa tersebut kini tinggal 500 yang bisa dinikmati. Anak-anak keluarga almarhum Achmad Dewer (meninggal dunia 1997 silam) telah berusaha menanam kembali kelapa untuk mengganti pohon yang mati termakan usia.
Rombongan KM Bosna 20 yang membawa pemancing dari Samarinda, akhirnya tiba juga di pulau setelah perjalanan melelahkan selama 14,5 jam. Berangkat dari Samarinda pukul 24.00 Wita (15/7), akhirnya mendarat di dermaga pukul 16.30 Wita. Perjalanan luar biasa, mengingat kapal yang ditumpangi dahulu adalah kapal tarik kayu log. Kapal yang kukuh, bodi kapal sebagian besar kayu ulin. Namun, struktur kapal memang untuk sungai, bukan lautan.
Sepanjang perjalanan terasa menyenangkan. Mengarungi Sungai Mahakam, melewati perairan Muara Berau, menyusuri sepanjang pantai di Muara Badak, Bontang, Sangatta, hingga akhirnya menembus tempat tujuan. Pulau Birah-Birahan memang kalah mentereng dibandingkan Pulau Derawan, Biduk-biduk, Kaniungan, serta Sangalaki. Namun, pulau tersebut akrab bagi pemancing dan pencari ikan dari Kutim dan Bontang. Menjadi tempat singgah kapal ketika gelombang tinggi melanda perairan di sekitar pulau.
Begitu kapal merapat ke dermaga, kelapa menjadi tujuan pertama rombongan. Seperti janji salah satu anak ahli waris pemilik pulau tersebut, Bachtar Ade (45). Ada ratusan pohon kelapa siap dipanjat begitu sampai pulau. Beruntung sekali di antara anggota rombongan ada yang mempunyai keahlian memanjat pohon. Akhirnya, kesampaian juga hasrat menenggak air kelapa di Pulau Birah-Birahan. Inilah kenikmatan yang bisa didapatkan kala jauh dari hiruk-pikuk perkotaan dan urusan pekerjaan.
“Alhamdulillah sampai juga ke pulau ini setelah perjalanan mengarungi sungai dan laut,” kata Hosen, pengusaha ponton kepada Kaltim Post.
Sepanjang pinggir pulau dipenuhi puluhan pohon perepat, berfungsi mencegah abrasi. Pohon perepat atau pidada putih adalah sejenis pohon penyusun hutan bakau. Pohon berbatang besar tersebut biasa didapatkan di bibir pantai yang dasarnya berbatu karang atau berpasir. Terumbu karang masih terjaga di bibir pantai bagian utara. Terjangan ombak telah menghancurkan sebagian besar terumbu karang.
Meskipun begitu, bibir pantai masih menjadi tempat menarik untuk memancing bagi wisatawan lokal yang tak ingin memancing menggunakan kapal. Bagian timur (dekat dermaga), sebagian besar terumbu karang telah rusak. Pemancing sudah mengerti, kawasan tersebut pastilah bukan spot menarik untuk melemparkan kail.
Kesan nyaman sudah terasa meski baru setengah jam berada di pulau. Ada kursi di depan rumah kayu, menjadi menyenangkan menikmati angin laut. Dua gazebo berada di ujung kanan dan kiri pantai. Rombongan menempati bangunan yang semula dibangun untuk musala, sumbangan Pemkab Kutai Timur pada 2015. Di sebelahnya, ada satu bangunan berisi dua kamar dan dua WC yang juga sumbangan pemkab, dibangun 2019 lalu. Ya, pemkab telah menaruh perhatian pada pulau tersebut dengan membangun beberapa fasilitas penunjang, agar pulau tersebut bisa menjadi destinasi wisata andalan bagi Kutim pada masa mendatang.
Masih asli dan tidak terawat. Ini kesan pertama ketika rombongan mendarat di pulau. Hanya ada pohon kelapa di pulau tersebut. Tak ada warung menjajakan makanan dan sembako, apalagi tetangga. Pulau tak memiliki penghuni tetap. Ahli waris pemilik pulau secara bergantian menjaga. Batang pohon besar dan pohon patah terlihat di beberapa bagian pantai.
“Setiap giliran jaga ada 2–4 orang yang menetap selama satu bulan. Giliran saya Agustus mendatang. Kami kekurangan tenaga dan biaya untuk merawat pulau ini,” kata Bachtar yang menemani wartawan Kaltim Post dan rombongan menuju pulau tersebut.
Penerangan pulau hanya mengandalkan tenaga surya. Air mandi dan minum berasal dari sumur yang tak pernah kering meski saat musim kemarau. Letak sumur sekitar 70 meter dari rumah penjaga. Air inilah yang ditampung menjadi sumber penghidupan penjaga pulau dan wisatawan lokal yang setiap hari libur mendatangi pulau. Air itu juga menjadi sumber penghidupan bagi perahu nelayan dan pemancing yang singgah ke pulau.
“Kami berikan tanpa imbalan. Kapal nelayan biasa mengambil daun kelapa untuk dijadikan rumpon (karang buatan),” tutur Budiman, kakak pertama Bachtar Ade, yang dapat giliran menjaga pulau kala rombongan datang.
Nama Birah-Birahan berasal dari pemilik pulau sebelum keluarga Achmad Dewer. Diberikan karena bentuk pulau yang mirip daun birah (talas). Namun, entah berasal dari bahasa apa birah tersebut. Hidup di pulau benar-benar mengandalkan dari hasil mencari ikan. Malas melaut tinggal mancing di pinggir dua dermaga yang ada di belakang (timur) dan depan pulau (utara). Bisa juga mencari ikan dengan cara menombak.
Hari kedua berada di pulau, mulai pukul 22.00 Wita Kaltim Post berkesempatan mencari ikan menggunakan tombak di sepanjang pinggir pantai. Hampir satu jam setengah menyusuri pantai dengan berjalan kaki. Ada dua anggota rombongan yang ikut. Alhamdulillah setelah satu jam, dua ikan kerapu berhasil didapatkan. Lumayan bisa jadi santapan pagi. Air berangsur-angsur surut, tak bersahabat untuk mencari ikan dengan menombak. Malam itu, rombongan yang lain sudah bertolak ke laut menyalurkan hasrat memancing.
Waktu telah menunjukkan pukul 23.30 Wita, waktunya mengaso. Tubuh telah lelah setelah sore hari berenang dan berjalan kaki mengelilingi pulau. Malam ini, lumayan juga hampir setengah putaran pulau dijalani selama satu jam setengah. Sepanjang perjalanan, Kaltim Post berusaha mencari-mencari penyu sisik yang naik ke daratan untuk bertelur. Namun, rupanya masih 2-3 jam lagi waktunya penyu naik ke daratan.
Pagi hari, sudah ada rencana kembali berenang di dua dermaga. Sebelum tidur, di tengah gelapnya malam, anggota rombongan tersisa masih menyempatkan diri menikmati malam di ujung dermaga. Angin terlihat lumayan kencang. Ada satu kapal yang sandar, yakni rombongan dari Dinas Pariwisata Kutai Timur yang baru saja tiba pukul 21.00 Wita tadi. Ada 15 orang ikut dalam rombongan tersebut, sebagian besar adalah pemandu wisata.
Nyamuk? Jangan bayangkan akan diserang nyamuk selama di pulau. Dua hari berada di pulau, sejak 15 Juli, tak pernah digigit nyamuk. “Kalaupun ada, paling menjelang subuh, itu pun jarang terasa,” kata Bachtar.
Memang benar, dua hari berada di pulau benar-benar nikmat. Sama seperti ketika berada di Pulau Derawan, tak ada gigitan nyamuk. Padahal sebagian teman telah membawa bekal antinyamuk oles untuk menahan serangan.
Mi instan dan ikan asin terasa nikmat kalau berada di pulau. Ini yang Kaltim Post rasakan ketika menikmati makan malam dan siang, dimasak menggunakan kayu. Usai makan, air kelapa menanti. Perut benar-benar kenyang. Energi yang habis setelah berkeliling pulau dan berenang pulih kembali.
Rombongan Disparda Kutim terlihat sudah lengkap dengan peralatan menyelam, tombak untuk menangkap ikan. Menjelang siang, terlihat anggota rombongan Disparda membawa pulang ikan kerapu dan cumi-cumi hasil tangkapan.
“Benar-benar surga bagi teman-teman yang ingin menjauh sejenak dari kehidupan kota. Mau makan ikan harus dipancing. Ingin minum kelapa harus manjat sendiri. Namun, kalau tak ingin repot-repot, tinggal goreng telur dan makan nasi dengan mi instan,” tutur Ruslan, pengusaha air isi ulang yang ikut dalam rombongan Kaltim Post.
Sabtu siang, rombongan bertolak ke Samarinda. Tiga jam perjalanan, kapal singgah ke Pulau Miang. Namun, pukul 17.00 Wita kapal yang ditumpangi kandas, tak jauh dari dermaga. Akhirnya baru Minggu dini hari pukul 02.00 Wita, kapal baru bisa melanjutkan perjalanan. Benar-benar perjalanan melelahkan dan menyenangkan! (***/dwi/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria