Berawal dari F-16 di darat, Sandriani Permani sudah terbang jauh bersama kameranya: mulai mengambil gambar di ekor pesawat Hercules sampai memotret pesawat yang sedang berlatih di malam hari.
SAHRUL YUNIZAR, Jakarta, Jawa Pos
TIDAK dibutuhkan waktu lama bagi Sandriani Permani untuk lulus dari Darwis Triadi School of Photography. Membulatkan tekad belajar memotret 2010 silam, tahun itu pula dia menuntaskan kursus di sekolah tersebut.
Motivasi perempuan yang biasa dipanggil Sasan itu untuk belajar memotret juga sederhana. Tidak ingin tempat-tempat yang dia kunjungi lewat begitu saja. Dia memang hobi berkeliling banyak tempat, jalan-jalan.
Keterampilan memotret itu akhirnya membawa Sasan kini dikenal nyaris semua pimpinan satuan TNI-AU. Jepretannya membuat mereka terkagum-kagum sehingga terus dimintai tolong memotret berbagai kegiatan matra udara. ’’Pertama masuk lingkungan militer 2011,’’ kata perempuan yang berulang tahun tiap 14 November itu kepada Jawa Pos.
Skuadron Udara 3 Pangkalan Udara TNI-AU Iswahyudi menjadi tempat perdana Sasan untuk memotret pesawat militer. Objeknya pesawat tempur F-16. Hanya di darat memang. Namun, kesempatan itu benar-benar dimaksimalkan. Hasilnya, pimpinan skuadron tersebut suka. Tersebarlah foto-foto itu. Berikut nama fotografernya. Dari mulut ke mulut, nama Sasan disebut. Sejak itu, alumnus Politeknik Negeri Bandung tersebut dikenal jajaran TNI-AU.
Nyaris setiap TNI-AU punya acara, Sasan hadir. Mulai latihan sampai operasi-operasi tertentu. Belakangan, potret perempuan berdarah Sunda itu ramai menjadi bahan perbincangan di jagat maya. Mengenakan setelan Dinas Penerangan TNI-AU, dia tampak duduk asyik di ekor pesawat Hercules. Lengkap dengan kamera di tangannya. Dari kejauhan, tampak pula pesawat Boeing milik Angkatan Udara terbang.
Sempat dikira personel TNI-AU, Sasan menegaskan bahwa dirinya fotografer sipil. Hanya karena bertahun-tahun memotret pesawat-pesawat tempur, Sasan diberi setelan Dinas Penerangan TNI-AU. ’’Akses aja sebenarnya, supaya nggak ribet,’’ kata dia. Melihat potret Sasan di ekor pesawat Hercules, banyak orang yang memuji. Walau dengan pengamanan memadai, tidak banyak yang berani.
Bagi Sasan, itu biasa saja. Sebab, ketika memutuskan menjadikan pesawat-pesawat TNI sebagai objek spesial, dia harus siap. Sampai-sampai sekarang malah ketagihan memotret dari ekor pesawat TNI-AU atau dari ujung pintu helikopter. Tantangan yang membuat dia kadang repot justru bukan ketinggian. Melainkan cuaca saat mengambil gambar.
Pertengahan Agustus lalu, misalnya, Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) yang dibina TNI meminta Sasan untuk memotret mereka. Bukan untuk acara biasa: pemecahan rekor Muri pengibaran bendera Merah Putih di udara. Momen itu istimewa karena dilaksanakan untuk menyambut HUT Ke-75 RI. Di ketinggian 2.020 dari atas permukaan laut, Sasan harus mengabadikan gambar paramotor terjun dari pesawat, kemudian mengibarkan bendera.
Memotret di ketinggian tersebut, kata Sasan, tidak cuma butuh pengalaman serta keberanian. Dibutuhkan pula ketangkasan dan kecepatan untuk membidik objek. ’’Karena paramotornya cepat banget,’’ imbuhnya. Selain itu, suhu turut menjadi tantangan. ’’Ketinggian segitu dingin sekali,’’ tambah dia.
Belum lagi durasi penerjunan yang cepat. Tantangan-tantangan seperti itu, lanjut dia, lebih berat ketimbang mengambil gambar dari ujung ekor pesawat.
Meski begitu, tak berarti pula memotret pesawat yang tengah melesat dengan kecepatan ekstratinggi adalah perkara gampang. Walau sudah menjadi hal biasa bagi Sasan, tetap saja semua itu harus dilakukan dengan hati-hati.
Bukan hanya faktor keamanan, hasil jepretan pun tidak boleh sia-sia. Sebab, sekali pesawat TNI terbang, ada anggaran negara yang dipakai. Apalagi kalau urusannya sudah dengan pesawat tempur. Perempuan yang pernah terpilih sebagai pasukan pengibar bendera di Bandung, Jawa Barat, itu mengakui bahwa memotret pesawat tempur tidaklah mudah.
Apalagi saat latihan atau operasi terbang malam. Kemampuan kamera dan fotografer benar-benar diuji. Kali terakhir dia dipanggil TNI-AU September lalu. Saat mereka melaksanakan latihan sikatan daya di Lumajang, Jawa Timur.
Dalam latihan itu, Sasan harus mengabadikan pesawat-pesawat TNI-AU beroperasi di malam hari. Tak cuma butuh kejelian, Sasan juga harus putar otak lantaran minim cahaya.
Ditambah pergerakan pesawat yang sangat cepat, dia tidak boleh lengah sedikit pun. Pengalaman-pengalaman itu, lanjut Sasan, membuat dirinya bisa terus belajar. Walau foto-fotonya sudah diakui Angkatan Udara, dia tidak cepat berpuas diri.
Sasan memang bukan tipikal orang yang senang mematok target. ’’Nanti nggak kesampaian, kecewa,’’ candanya.
Kini, selain memotret pesawat-pesawat TNI-AU, dia menjadi pengajar tetap Darwis Triadi School of Photography. Selain mengajar, di sana Sasan menambah pengalaman sebagai fotografer.
Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto mengungkapkan, Sasan sudah lama membantu TNI-AU. ’’Dia suka datang ke (Pangkalan Udara) Halim (Perdanakusuma) saat ada acara fly pass pesawat-pesawat tempur,’’ kata Fajar. Perwira tinggi bintang satu TNI-AU itu mengakui hasil jepretan Sasan memang memukau. ’’Lalu, 2011 Sasan mulai kami ajak untuk foto-foto beberapa kegiatan TNI-AU,’’ sambungnya.
Dari sana, hubungan Sasan dengan TNI-AU tidak pernah putus. Fajar menyebut Sasan termasuk fotografer yang berdedikasi tinggi. ’’Pemberani, foto-fotonya tajam, dan punya rasa seni tinggi dalam mengambil sudut pemotretan,’’ kata dia.
Untuk urusan pemotretan bersama presiden pun, TNI-AU memercayakan kepada Sasan. ’’Foto pesawat tempur, pesawat VIP, angkut, helikopter, kalender TNI-AU juga,’’ bebernya. (*/c19/ttg)
Editor : izak-Indra Zakaria