TENGGARONG-Jahe menjadi salah satu komoditas pertanian yang sedang naik daun di Desa Jonggon, Loa Kulu. Tanaman yang identik dengan bumbu dapur dan jamu itu berhasil mengangkat perekonomian masyarakat setempat. Tak tanggung-tanggung, beberapa petani bahkan bisa membeli mobil dan membangun rumah dari hasil penjualan jahe.
Ya, bertani jahe kini menjadi pilihan masyarakat Jonggon. Terutama masyarakat Bukit Lontar (Jonggon A) dan Jonggon Jaya (Jonggon B). Kedua desa itu saat ini menjadi penghasil jahe terbesar di Loa Kulu.
Hebatnya, petani tak perlu susah mencari pembeli. Sebab, semenjak jahe masih di pohon, biasanya sudah dipesan oleh tengkulak. Ada tengkulak lokal, ada juga yang dari Tenggarong. Kemudahan itulah yang akhirnya memancing minat masyarakat Jonggon untuk menanam jahe.
Dari segi harga, jahe jauh lebih mahal dibanding padi. Satu kuintal jahe bisa untuk membeli gabah setengah ton. Salah satu petani jahe di Jonggon Jaya yang sudah merasakan manfaat dari jahe adalah pasangan suami-istri Sukamto dan Sutriah.
Selama lebih kurang 3 tahun bertani jahe, Sukamto sudah bisa membeli mobil, membeli tanah dan masih banyak lainnya. Mereka rela tak lagi menanam padi demi fokus ke tanaman jahe.
“Tanam padi sekarang sulit, hama tikusnya banyak. Hasil penjualannya pun kadang tak sesuai dengan modal dan tenaga,” aku Sutriah. Diakui Sutriah, menanam jahe sedikit lebih ribet daripada padi. Terutama waktu menanam jahe lebih lama, sekitar sembilan bulan.
“Kalau padi tiga sampai empat bulan sudah panen. Kalau jahe sembilan bulan baru panen. Perawatannya pun sulit. Sekeliling tanaman jahe tidak boleh tumbuh rumput, bisa mengganggu pertumbuhan jahe,” kata ibu tiga orang anak itu.
Menanam jahe tak melulu soal keberhasilan. Pasalnya, tanaman jahe juga punya musuh besar. Yaitu, virus. Jika jahe sudah terkena virus satu pohon saja, dalam hitungan hari akan cepat menyebar ke pohon lainnya. Hal itu sudah dirasakan Sutriah.
“Udah dua kali tanam kena virus, tapi untungnya usia jahe sudah lima bulan. Jadi yang belum kena virus masih layak jual,” tuturnya.
Salah satu penyebab virus adalah curah hujan yang tinggi. Dalam kondisi tanah lembap, jahe akan mudah busuk. Hingga saat ini belum diketahui cara memberantas virus tersebut.
“Kalau sudah kena virus ya bisa kembali modal saja sudah untung. Tapi kalau kena virus dari usia dua atau tiga bulan sudah pasti rugi. Karena tidak bisa dijual,” lanjut Sutriah.
Selama ini, Sutriah menjual jahe kepada salah satu tengkulak asal Tenggarong bernama Soman. Harga jualnya menyesuaikan harga pasar. Permintaan jahe saat ini terbilang besar. Namun tak sebesar saat awal pandemi masuk ke Indonesia. Saat itu harga jahe putih melonjak dari Rp 25 ribu menembus angka Rp 37 ribu per kilogram.
“Sekarang harganya Rp 22 ribu per kilo, tapi saya tidak perlu capek ngantar jahe ke Tenggarong. Karena yang beli langsung datang ke kebun,” ucapnya.
Soman mengatakan jahe dari Jonggon termasuk jahe dengan kualitas bagus. Untuk itu dia menyebut sudah memiliki langganan tetap. Setelah membeli dari petani, Soman memasarkan jahe ke pasar Tenggarong hingga Pasar Segiri, Samarinda.
“Ada yang dijual dengan kapasitas besar, ada juga yang dijual eceran sendiri di pasar,” jelas Soman.
Jika terus dikembangkan, bukan tidak mungkin Jonggon akan menjadi pusat pertanian jahe. Tentunya para petani memerlukan bantuan pemerintah terutama dalam bentuk bantuan pupuk dan sebagainya yang mampu menunjang produktivitas petani jahe. (don/kri/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria