HONGKONG– Martin Lee harus menghabiskan masa tuanya di balik jeruji besi penjara. Politikus dan pengacara 82 tahun itu menjadi satu di antara tujuh tokoh prodemokrasi paling senior dan terkemuka di Hongkong yang dinyatakan bersalah karena menggelar aksi damai besar-besaran pada 2019. Mereka semua terancam hukuman hingga lima tahun penjara.
Lee selama ini memiliki julukan sebagai Bapak Demokrasi Hongkong. Dia pernah diminta Beijing untuk menyusun konstitusi di wilayah tersebut. Selama beberapa dekade dia berkampanye demokrasi cara damai di Hongkong. Lee selalu menganjurkan untuk mendapatkan demokrasi lewat kerja sama dengan pihak berwenang di Beijing.
”Bahkan, jika Anda memenjarakan dan membunuh saya, saya tetap akan menunjukkan bahwa itu salah mereka. Demokrasi akan ada di Tiongkok suatu hari nanti,” tegasnya membahas tekanan Tiongkok kepada Hongkong ketika diwawancarai The New York Times sebelum ditahan.
Selain Lee, ada pemilik tabloid Apple Daily Jimmy Lai. Tulisan dan publikasi di medianya kerap menyerang pemerintah pusat. Dia dianggap pahlawan di Hongkong, tapi dilabeli pengkhianat di Beijing. ”Jika mereka (Tiongkok, Red) bisa memunculkan rasa takut pada Anda, itulah cara termurah dan paling efektif untuk mengendalikan Anda dan mereka tahu itu. Satu-satunya cara untuk mengalahkan intimidasi tersebut adalah menghadapi rasa takut dan jangan biarkan itu menakuti Anda,” tegas Lai saat diwawancarai BBC sebelum ditahan Desember tahun lalu.
Lima lainnya adalah mantan legislator Margaret Ng, Cyd Ho Sau-lan, Lee Cheuk-yan, Leung Kwok-hung, serta pengacara Albert Ho Chun-yan. Tujuh orang tersebut kukuh menyatakan diri tidak bersalah atas aksi dua tahun lalu. Pembacaan hukuman untuk tujuh orang itu akan dilakukan pada persidangan berikutnya.
Setelah berbagai aksi massa besar-besaran di Hongkong, kini Tiongkok kian mengeratkan cengkeramannya. Mereka menerapkan Undang-Undang Keamanan Nasional. Baru-baru ini Beijing juga menyetujui aturan pemilu baru di Hongkong. Yaitu, komite pro-Beijing boleh memeriksa lebih dulu latar belakang calon anggota parlemen. Mereka yang dianggap pro-Beijing atau dijuluki patriot berpeluang lebih besar untuk lolos seleksi. (sha/c9/bay)
Editor : izak-Indra Zakaria