Bambang Iswanto
Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda
TIDAK sulit membaca tanda-tanda kepergian bulan suci Ramadan di Indonesia. Jika sudah ramai diperbincangkan tentang tunjangan hari raya (THR), baju baru, sampai mudik, tak lama lagi Ramadan berakhir.
Di saat bersamaan, semarak aktivitas ibadah Ramadan semakin meredup. Jamaah masjid secara kuantitas semakin berkurang. Sudah banyak warung makanan membuka “hijabnya” pada siang hari, dan mal-mal semakin ramai. Semua menjadi pertanda bahwa Lebaran tidak lama dan Ramadan segera pergi.
Bagi sebagian orang yang benar-benar merasakan nikmat Ramadan, waktu akan terasa sangat cepat. Ibarat seorang perindu yang bertemu dengan sesuatu yang sangat dicintai, kembali harus dipisahkan untuk waktu yang lama. Dan belum tentu bisa bertemu kembali. Bisa jadi, Ramadan kali ini Ramadan terakhir dalam hidupnya.
Bagi orang yang menangisi kepergian Ramadan, semakin dekat dengan waktu perpisahan akan semakin kuat energi batin memaksimalkan waktu Ramadan yang tersisa. Bukannya kendur, mereka malah gaspol untuk mencari keistimewaan akhir Ramadan.
Para perindu Ramadan justru sibuk mengakrabkan diri ke masjid dengan iktikaf, semakin gigih berburu lailatulqadar, merogoh saku dalam-dalam untuk menginfakkan hartanya sebanyak mungkin. Semua dilandasi oleh rasa beruntungnya bertemu dengan Ramadan dan rugi jika tidak bisa meraih rahmat dan pengampunan yang dibuka lebar oleh Allah, serta meraih pembebasan dari api neraka.
Ramadan, bagi mereka seperti medan perjuangan untuk meraih derajat takwa sebagai tujuan akhir puasa, ibadah utama Ramadan. Perjuangan yang terus menyala sampai akhir Ramadan.
Kondisi sebaliknya terjadi pada orang yang tidak merasakan keutamaan Ramadan. Ramadan datang pergi merupakan peristiwa kalender biasa. Berlalunya Ramadan sama seperti bulan biasa saja. Bahkan ada yang menganggap Ramadan bulan beban. Kepergian Ramadan seperti melepaskan beban.
TAKWA LAHIR BATIN
Setelah menjalani dua per tiga Ramadan, seorang mukmin sebenarnya bisa meraba dan mengukur ketakwaannya. Ia juga bisa merasakan apakah tarbiah yang dijalani sejak awal Ramadan mampu meningkatkan ketakwaannya atau tidak. Apakah di tengah jalan semakin meningkat atau menurun. Diri masing-masing lah yang bisa merasakannya.
Seperti diketahui, bahwa tujuan dari ibadah puasa dan banyak ibadah lainnya adalah menjadi manusia yang bertakwa. Takwa didefinisikan dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Makna takwa seperti itu yang sering dipahami oleh umumnya kaum muslim.
Gambaran takwa diidentikkan dengan salat sunah yang semakin bertambah, makin gemar membaca Al-Qur’an, sedekah semakin kencang dan sebagainya. Biasanya juga diiringi dengan semakin menjauh dari maksiat seperti judi, minum minuman terlarang, zina, berbohong, dan maksiat-maksiat lainnya. Sebuah pemahaman istilah yang tidak salah. Namun, bukan berarti sepenuhnya sempurna.
Takwa masih dimaknai dalam pengertian yang didominasi oleh ibadah ritual saja. Meninggalkan maksiat pun hanya dikaitkan dengan urusan lahiriah saja. Padahal dalam diri manusia, terdapat dua dimensi yang selalu terkait dan tidak bisa dilepaskan satu sama lain yaitu dimensi lahir serta batin.
Dengan demikian, sejatinya takwa itu tidak hanya muncul dan terindikasi dari hal-hal yang bersifat lahir yang terkait aktivitas fisik saja. Lebih dari itu, takwa harus dihubungkan dengan aktivitas hati. Perintah yang ditaati dan larangan yang dihindari, berjalan secara paralel melalui aktivitas fisik dan hati sekaligus.
Melaksanakan salat, puasa, zakat, haji, dan perbuatan amal kebajikan lainnya yang diiringi tidak melakukan maksiat perbuatan judi, zina, bohong, dan lain sebagainya merupakan gambaran bahwa aspek fisik takwa sudah terwujud.
Tidak sampai di situ, takwa tidak berhenti di aspek fisik atau lahir saja. Aspek fisik takwa harus dibarengi dengan takwa pada aspek batin. Karena banyak perintah dan larangan Allah yang berurusan dengan hati. Dan bahkan lebih sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dibandingkan aspek lahir. Tidak terpenuhinya kedua dimensi itu secara seimbang menyebabkan takwa kehilangan maknanya.
Dalam kenyataannya, aspek batin sering dilupakan. Maka tidak mengherankan banyak orang yang rajin salat tetapi masih merasa orang yang paling benar dan suci, orang bersedekah tetapi motif utamanya adalah pamer, puasa full tetapi masih suka mendendam dan membenci orang lain, pernah haji dan sering umrah tetapi hatinya tidak sensitif terhadap persoalan sekitar.
Larangan-larangan pun sudah dihindari dengan tidak minum minuman keras, tetapi ternyata masih senang merendahkan orang lain. Tidak berjudi tetapi hatinya masih keras untuk berempati terhadap persoalan sosial, dan seterusnya.
Islam memerintahkan pemeluknya untuk salat, sekaligus mendorong orang yang mendirikan salat tercegah dari perbuatan keji dan mungkar. Umat muslim juga diperintahkan untuk memegang teguh ajaran Allah, dan pada saat yang sama dituntut menebarkan kasih sayang, tidak dengki, tidak merasa paling benar, dan paling suci.
Dalam QS Al-An’am Ayat 32 dijelaskan tentang ciri-ciri orang yang bertakwa yaitu berinfak di saat lapang dan sempit, bisa menahan marah, dan memberi maaf kepada orang lain. Ayat itu memperjelas bahwa takwa bukan urusan fisik semata, tetapi menyangkut ibadah batin juga.
Muttaqun atau orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang selain melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan secara fisik, juga memiliki kepekaan hati dan memiliki kelembutan jiwa dan murah hati. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk meraih takwa secara lahir maupun batin, pada beberapa hari Ramadan yang tersisa. Amin. (rom/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria