BALIKPAPAN-Sama-sama berasal dari kampung, sama-sama menjadi atlet, sama-sama menjadi abdi negara. Itulah kisah pasangan suami istri, Dimas Pambudi Winanda dan Devi Ayu Febriana.
Sejoli yang menikah pada 2020 ini membuktikan, profesi sebagai atlet kini menjanjikan masa depan. Duo atlet lompat galah ini sukses meniti karier sebagai abdi negara. Dimas, saat ini tercatat sebagai anggota Kepolisian Daerah Kaltim. Sementara sang istri, Devi, merupakan prajurit di Kodam VI Mulawarman.
Berasal dari desa, jalan terjal mesti ditempuh Dimas dan Devi untuk jadi atlet. “Saya masih ingat, waktu SD sering ikut lomba lari nyeker (telanjang kaki),” kata polisi berpangkat Briptu ini, ditemui di rumah dinasnya di kawasan Aspol Brimob Stal Kuda, Balikpapan.
Berasal Desa Tulakan di Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Dimas mengaku sedari kecil terbiasa ngaret (mencari rumput) di daerah perbukitan tak jauh dari tempat tinggalnya. Kebiasaan mencari rumput inilah yang membuat fisik Dimas terlatih. Tak heran, saat ikut lomba lari, ia nyaris tak pernah absen jadi juara.
Hingga duduk di bangku SMP, Dimas kerap juara saat mengikuti lomba lari, baik di level kabupaten maupun provinsi . Menginjak bangku SMA, pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini memutuskan melanjutkan sekolahnya ke SMA Negeri Olahraga (SMANOR) Surabaya.
“Setelah lulus SMP saya mendapat saran kepala sekolah untuk melanjutkan SMA di SMANOR Surabaya,” kata bapak satu anak ini.
Masuk sekolah khusus atlet, rupanya bukan persoalan gampang. Serangkaian tes mesti dijalani Dimas. Namun modal kegigihan membuat Dimas tak patah arang. “Saat tes, saya juga tidak memakai sepatu. Karena memang tidak punya sepatu lari,” ujarnya mengenang.
Kendati nyeker, Dimas mampu tampil meyakinkan. Penampilannya yang menjanjikan akhirnya menarik perhatian salah satu pelatih di SMANOR Surabaya. Bahkan, sebelum hasil tes diumumkan, Dimas sudah bocoran lolos seleksi.
Namun saat masuk SMA pada 2009 lalu, Dimas justru diarahkan untuk menjadi atlet lompat galah. Pilihan sang atlet tak meleset, Dimas perlahan jadi atlet andalan Jatim di cabor lompat galah.
“Di SMANOR saya belajar konsep olahraha yang benar, sebab kan sebelumnya saya hanya lari saja, tidak pernah punya pelatih yang benar-benar mengontrol,” beber Dimas yang berdinas di Bamin Urren Dit Pamobvit Polda Kaltim ini.
Dimas bahkan sempat lolos pelatnas pada 2012. Sayang, cidera membuat kansnya tampil pada PON 2012 buyar. Dia dipulangkan lebih awal.
Di tengah cidera dan kegamangan soal masa depan, Dimas memutuskan mencari peruntungan dengan mendaftar polisi di Balikpapan, Kaltim. Rupanya, pilhannya tak salah, dia akhirnya diterima menjadi anggota kepolisian.
“Waktu itu saya memang galau. Apa yang bisa diharapkan dari atlet, bagaimana masa depan saya nanti. Makanya saya akhirnya memilih mendaftar polisi,” kata laki-laki 28 tahun ini.
Setelah menjadi polisi, Dimas tak melupakan dunia atletik. Saat ini dia menjadi salah satu atlet andalan Kota Beriman pada cabang olahraga atletik.
“Apa yang saya alami semoga bisa jadi motivasi. Bahwa saat ini kalau berprestasi di bidang atlet, bisa menjanjikan masa depan,” kata dia.
Tak hanya jadi atlet, Dimas kini juga sering mengikuti seminar keolahragaan dan lisensi pelatih di tengah kesibukannya sebagai polisi.
CIDERA MISTERIUS, MASUK TENTARA LALU MENIKAH
KISAH Devi tak jauh berbeda dengan Dimas, dia mulai merintis karier sebagai atlet saat duduk di bangku SD. “Saya juga sering ikut lomba lari. Sama dengan mas Dimas, saya dulu juga nyeker kalau ikut lomba,” kenang perempuan kelahiran 1998 ini.
Ia berkisah bahkan pernah hanya mendapat uang Rp 2000 hasil dari juara lomba lari pada 2007 silam. Meski hanya Rp 2000, Devi sudah merasa senang. “Saat itu karena masih kecil ya senang saja. Lumayan bisa buat beli mie Sakura,” katanya mengenang.
Prestasi Devi terus berlanjut ketika duduk di bangku SMP, dengan ikut Jatim Sprint dan Jatim Open. Sampai akhirnya, salah satu pelatih di SMANOR melihat bakat Devi dan meminta dia masuk SMANOR.
“Di SMANOR saya malah diminta jadi atlet lompat galah. Awalnya bingung dan takut karena sebelumnya tidak pernah tahu sama sekali dengan lompat galah,” kata perempuan kelahiran Desa Ketami, Kecamatan Pesantren, Kediri ini.
Perlahan namun pasti, Devi justru kian mantap menjadi atlet lompat galah. Bahkan, kali pertama ambil bagian pada Jatim Open, ia mampu tampil cukup apik dan masuk empat besar.
“Padahal saat itu saya sempat terjatuh saat percobaan pertama dan nyaris pingsan di lapangan,” kenang prajurit berpangkat Serda (K) ini.
Ada kisah menarik yang tak bisa dilupakannya. Saat akan ikut Jatim Open, dia mendapatkan sepatu dari sang pelatih lantaran tak mampu membeli sepatu khusus. “Sepatu itu selalu saya jaga. Meski sudah jebol, dulu kerap saya pakai,” kata Devi yang sehari-hari berdinas di Ba Kumdam Vl/Mlw ini.
Selain itu, Devi juga mendapatkan hadiah sepatu dari sang nenek untuk berlaga di Kejurnas Remaja di Jakarta. Sang nenek, kata dia, bahkan rela menjual cincin emasnya untuk dibelikan sepatu bagi Devi. Hasilnya tak mengecewakan, Devi tampil impresif dan menyabet gelar juara.
Prestasi di Kejurnas Remaja membuat Devi dipanggil mengikuti Pelatnas di Jakarta. Namun, Devi mengaku sempat ketinggalan pesawat saat akan berangkat ke Jakarta. “Saya sebelumnya tidak pernah naik pesawat, jadi waktu di Bandara Juanda kebingungan, sampai akhirnya ketinggalan pesawat,” kata perempuan 24 tahun ini.
Namun Devi akhirnya bisa berangkat ke Jakarta, tentu setelah membeli tiket pesawat sendiri.
Devi mengaku, adaptasi dengan lingkungan dan pergaulan di Jakarta cukup membuat dia kerepotan. Apalagi, dia melihat atlet lain punya kemampuan yang sudah mumpuni. “Akhirnya saya nambah latihan sendiri, pagi dan malam hari, itu saya lakukan setiap hari. Bahkan saya juga puasa senin kamis,” katanya.
Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil, pada Kejuaraan Asia di Qatar, 2015, saya berhasil mendapat perak. Setelah itu saya ke Tiongkok. Di sana saya mendapat emas. Sayang meski mendapat emas, kejuaraan Asia, Devi tak mampu menembus limit untuk berlaga di Kejuaraan Dunia. “Setelah itu saya kembali ke Indonesia untuk persiapan PON Jabar 2016,” kata dia.
Sayang, Devi mesti menderita cidera “misterius” jelang berlaga di PON Jabar. Telapak kaki kirinya selalu terasa sakit setiap kali dipakai berlari. Kondisi ini memaksa dia tak mampu tampil maksimal pada PON jabar dan hanya finis di peringkat empat.
Setelah berlaga di PON Jabar, Devi memutuskan untuk mengikuti seleksi masuk TNI Angkatan Darat. Bekal sebagai atlet diakui dia banyak membantu. Devi akhirnya diterima dan wajib mengikuti pendidikan.
Selama mengikuti pendidikan, Devi mengaku kondisi kaki kirinya semakin membaik. Padahal, selama pendidikan dia mesti mengenakan sepatu tantara plus membawa ransel. “Waktu persiapan PON sepatu saya itu yang paling nyaman, tapi tetap saja sakit. Sembuhnya justru karena ikut pendidikan TNI AD,” sebut dia.
Setelah menuntaskan pendidikan dan dinas dua tahun, Devi akhirnya dipersunting Dimas, awal Agustus 2020 lalu. Dari pernikahan ini, mereka dikarunia seorang putra yang diberi nama Muhammad Rajendra Putra Vidianda.
Kendati sudah menjadi seorang ibu dan prajurit TNI, Devi mengaku masih ingin berlaga di cabor atletik pada PON Aceh-Sumut, 2024 mendatang. Sebelumnya, dia memang sempat diproyeksikan tampil pada PON XX di Papua. Sayang lantaran pandemi, PON Papua ditunda hingga 2021. Devi akhirnya memilih fokus untuk program hamil dan melepas peluang tampil pada PON Papua. (hul)
Editor : izak-Indra Zakaria