Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Chairil Anwar Kekal: Hidup Seribu Tahun Lagi

izak-Indra Zakaria • 2022-04-19 11:12:03
Photo
Photo

Sriningsih Hutomo

Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Mulawarman

Menilik kembali pentingnya sastra dalam sejarah kesusastraan di Indonesia, pada beberapa dekade yang masih menjadi primadona. Betapa tidak, sastra mampu menyuguhkan daya pikatnya sebagai pembeda dengan karya tulis lain. Sastra yang bersifat imajinatif memunculkan dimensi khayali bagi pembaca melalui puisi, meretas kisah dari berbagai peristiwa melalui diksi-diksi yang membius pembaca. Bagi kalangan masyarakat awam, puisi mungkin dianggap sebagai hal yang sedikit tidak wajar karena sulitnya memaknai maksud dan isinya, namun bagi penikmat sastra diksi-diksi itu ibarat sebuah pisau yang dapat diukur ketajamannya.

Penikmat sastra pasti telah katam dengan puisi-puisi Chairil Anwar, bagaimana tidak, tiap butir kata dalam puisi Chairil mengandung amanat yang begitu kompleks dan bermakna.


“AKU”
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi


Chairil Anwar
Maret 1943.


Membaca sekilas diksi puisi di atas menjadi sebuah kunci bahwa Chairil benar-benar kekal, bahkan hidup 100 tahun lagi, lagi, dan lagi, walau kata hidup adalah sebuah konotasi, karena bukan sosok Chairil namun semangatnya yang akan tetap hidup pada jiwa-jiwa pemuda Indonesia, terutama yang masih konsisten dalam sastra.

Bahkan pembaca sastra sanggup melihat sudut yang berbeda dengan cara pandang berbeda yang menghadirkan nuansa kehidupan serta membawa perubahan-perubahan dalam menciptakan karya puisi berkiblat pada puisi Chairil.

Ketika jika diselami secara saksama, kita dapat pula melihat manfaatnya terutama bagi ruang-ruang pendidikan dan pengajaran, baik formal maupun nonformal. Puisi-puisi Chairil Anwar dapat dijadikan sebagai bahan apik, menarik, dan estetik untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran karena banyaknya hal-hal positif yang melatarbelakangi lahirnya puisi Chairil seperti tentang Tuhan, semangat perjuangan, kejujuran, persahabatan, kesetiaan, bahkan cinta.

Chairil Anwar sastrawan yang lahir di Medan, 26 Juli 1922, ini telah membawa pembaruan di bidang sastra, khususnya puisi di Indonesia. Dalam setiap karyanya selalu membawa rasa terpesona yang muncul ketika selesai membaca karyanya. Pembaca menemukan ungkapan rasa yang mendalam

Chairil berhasil menanamkan pohon kreativitas yang hingga kini masih terus berkembang dan berbuah. Pohon kreativitas berupa sejumlah puisi 74 puisi Chairil sebagai bukti eksistensi terhadap dunia sastra yang tidak cuma-cuma. Chairil Anwar sanggup membawa pembacanya untuk mengembara pada setiap larik puisi yang ditulis serta menghadirkan imajinasi yang kuat. Seolah tak lekang oleh waktu seperti diksi puisi yang ia tulis “Aku ingin hidup seribu tahun”.

Chairil Anwar adalah mata rantai sastra di Indonesia. Sajak-sajak yang ditulis memiliki peran penting dalam memperkuat tradisi penulisan puisi di Indonesia. Puisi-puisinya mampu menjadi perenungan bahwa menulis puisi adalah menyerukan keberanian dan mengobarkan semangat untuk selalu bersikap kritis pada berbagai kejadian yang ada sehingga tidak menjadi generasi yang muda termakan hoaks.

Chairil Anwar juga menciptakan tren pemakaian kata yang terkesan lugas, solid, dan kuat dalam berpuisi. Hal tersebut menjadi ladang inspirasi, memantik motivasi dan gairah menulis puisi. Menulis puisi dengan komposisi kata yang tepat. Membiasakan diri untuk memberdayakan pikiran dan perasaan serta kepercayaan diri.

April 1949 menjadi hari bersejarah meninggalnya Chairil Anwar dan untuk memperingati 100 tahun kepergian Chairil Anwar, segenap penggiat literasi Kaltim beramai-ramai mengadakan peringatan Chairil Anwar yang diisi dengan berbagai kegiatan seperti yang dilaksanakan oleh komunitas SATUPENA Kaltim yang mengadakan kegiatan kepenulisan Antologi Puisi Penyair Nusantara memperingati 100 tahun Chairil pada 16 April 2022.

Dan di tanggal yang sama komunitas TerAksara bekerja sama dengan Kantor Bahasa Kaltim mengadakan kegiatan Orasi 100 Tahun Chairil, Pidato 100 Tahun Chairil, Pembacaan puisi dan surat sebagai Refleksi 100 Tahun Chairil Anwar dan masih banyak komunitas sastra lainnya di Kaltim. Hal tersebut menandakan bahwa semangatnya Chairil masih hidup kekal hingga saat ini pada jiwa-jiwa anak bangsa. (luc/k8)

 

Editor : izak-Indra Zakaria