Jalan panjang masih akan dilalui tiga anak, korban penyekapan orangtua, yang kini dalam pengawasan lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Balikpapan. Akankah mereka dikembalikan kepada orangtuanya?
BEBERAPA hari setelah dibebaskan dari sekapan sang ibu di tempat tinggal mereka sendiri, tiga anak perempuan, sebut saja Mawar (6), Melati (10), dan Dahlia (14) kini masih dirawat dalam pengasuhan lembaga PPA Balikpapan. Hingga kemarin PPA belum memperbolehkan ketiga anak ini dijemput oleh orangtua mereka, khususnya sang ibu.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Balikpapan, Esti Santi Pratiwi, mengatakan, ketiga anak perempuan tersebut kini dalam kondisi sehat.
“Mereka tidak sakit, hanya memang saja dijemput terlihat pucat, belum makan, kurang terkena sinar matahari. Pemeriksaan kesehatan menunjukkan fisik mereka sehat-sehat saja,” katanya, Senin (27/6).
Saat ini, pihaknya masih harus melakukan pendampingan terhadap ketiga anak itu. Kapan diserahkan kembali? Pihaknya membeberkan, masih belum mau mengembalikan kepada ibunya.
Ia mengaku, memang sang ibu dan keluarganya sudah meminta ketiga anaknya dipulangkan. Hanya, pihaknya masih khawatir kalau kejadian tersebut kembali terulang.
“Pada saat yang tepat, kami tetap akan mengembalikan. Cuma waktunya kapan. Saat ini, kami masih dalam proses pendampingan, baik untuk anaknya dan ibunya. Kalaupun dikembalikan, kami serahkan ke keluarga terdekat dulu. Kami meminta ada dari keluarga mau bertanggung jawab dan membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi,” tuturnya.
Menurutnya, sangat berisiko jika langsung menyerahkan ke ibunya. Jika terulang lagi siapa bertanggung jawab. Yang jelas, pihaknya masih memberikan pendampingan.
Esti mengaku, tim PPA sudah meminta keterangan sang ibu. Sehari-harinya, ibunya bekerja di laundry. Sedangkan suaminya kuli bangunan.
“Mereka berdua memang tengah ribut. Yang memegang kendali atau kunci rumah dan anak-anaknya memang ibu tiga anak ini,” terangnya.
Dari keterangan yang diterima, alasan sang ibu mengurung anaknya, lantaran masih dalam kondisi pandemi. Takut Covid-19. Sehingga, membuatnya tega mengunci ketiga anaknya dari luar.
Kemudian, juga beralasan takut karena banyak laki-laki di kawasan tempat tinggalnya. Demi keamanan, ia mengurung ketiga anaknya.
“Jika alasannya demikian, tidak seharusnya mengurung anak di dalam rumah. Akan sangat berbahaya,” pungkasnya.
Ketiga anak ini, seperti diwartakan sebelumnya, dibebaskan tetangga mereka dari sekapan, beberapa hari lalu.
Warga Perumahan Sosial RT 28 Kelurahan Batu Ampar mendobrak paksa rumah kontrakan di lingkungan RT tersebut.
Di dalam rumah tersebut, didapati tiga anak perempuan dalam kondisi pucat dan perut lapar. Tiga anak ini pun dibawa warga ke Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Balikpapan.
Ketua RT 28, Alpirawan mengatakan, ia dan warga merasa curiga dengan tingkah laku sang ibu.
“Kami curiga, ketiga anaknya tidak pernah terlihat berkeliaran di area kompleks. Bahkan, mereka tidak pernah masuk sekolah. Dari setahun lalu, si anak pertama itu enggak pernah turun sekolah. Jadi, pihak sekolah datang tanya ke saya, anak tersebut tidak pernah masuk sekolah,” katanya, saat ditemui Minggu (26/6).
Akhirnya, ia melaporkan ke Kelurahan Batu Ampar dan langsung diambil tindakan. (ms/k15)
AJIE CHANDRA
ajie.chandra
Editor : izak-Indra Zakaria