Harga batu bara anjlok. Saham-saham emiten emas hitam itu pun kompak turun pada perdagangan, Rabu (24/5) lalu. Efek melemahnya harga batu bara akibat stok yang melimpah.
HARGA batu bara telah terkoreksi 59 persen menjadi USD 162 per ton berdasarkan harga Newcastle terhitung sejak awal tahun hingga pekan lalu. Sedangkan rata-rata harga jual batu bara di Indonesia telah turun mencapai 19 persen menjadi USD 92 per ton. Adapun perdagangan batu bara bulan April 2023 telah menunjukkan penurunan sekitar 3 persen dipicu atas penurunan impor dari Tiongkok dan India. Kendati menguat Sabtu (27/5), harga batu bara jeblok 11,74 persen sepekan. Artinya harga batu bara sudah melemah dalam lima pekan beruntun.
Pekan lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif resmi menetapkan harga batu bara acuan (HBA) untuk Mei. Itu tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 84.K/MB.01/MEM.B/2023 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batu Bara Acuan untuk Mei 2023.
Dalam regulasi tersebut, HBA dalam kesetaraan nilai kalori 6.322 kcal per kg GAR, total moisture 12,58 persen, total sulphur 0,71 persen, dan ash 7,58 persen ditetapkan pada angka USD 206,16 per ton.
Pada saat bersamaan, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor sektor nonmigas turun 18,33 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm) akibat menurunnya ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan batu bara.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Imam Machdi mengungkapkan subsektor produk pertambangan dan lainnya turun 7,84 persen yang disebabkan oleh menurunnya ekspor batu bara pada periode April 2023.
“Sektor pertambangan turun sebesar 7,84 persen. Utamanya batu bara, lignit, bijih besi, serta bijih zirconium niobium dan tantalum,” ujarnya dalam keterangan pers, Senin (15/5) lalu. Lantas bagaimana dengan Kaltim? Meski secara nasional, komoditas itu mendapat banyak tekanan. Namun bagi pengusaha ekspor impor di Benua Etam, kondisi tersebut tidak terlalu banyak berpengaruh.
Ketua DPD Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Kaltim Mohammad Hamzah mengungkapkan, bahwa hingga kini komoditas batu bara Kaltim baik di sisi produksi maupun ekspor tidak mengalami gangguan. Perusahaan-perusahaan pertambangan disebut tetap melakukan produksi dengan jumlah yang konsisten di tengah anjloknya harga.
“Kondisi kawan-kawan pengusaha ekspor tidak terpengaruh ya dengan kondisi saat ini. Rata-rata seperti di Samarinda itu masih di atas 6 juta ton sebulan. Diskusi saya pekan lalu pun di Berau Coal tidak ada penurunan produksi. Masih produksi 25 juta per tahun. Sama seperti KPC (Kaltim Prima Coal) dan Adaro juga tidak menurunkan produksi mereka," ungkap Hamzah kepada Kaltim Post, Jumat (26/5).
Untuk perusahaan pertambangan kecil pun disebutnya tidak menurunkan produksi. Bahkan terus mengejar kuota untuk memenuhi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang sudah ditetapkan. Adapun terkait turunnya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor seperti India dan Tiongkok tidak terbukti di lapangan.
“Memang isunya (India dan Tiongkok) ada kerja sama dengan Australia. Namun faktanya tidak ada penurunan produksi. Sementara untuk Eropa kami tidak terlalu bergantung. Dan sifatnya insidental dan sementara karena konflik Rusia-Ukraina. Termasuk karena diperlukan di musim-musim tertentu saja. Seperti musim dingin,” terangnya.
Alasan Kaltim tidak terpengaruh situasi nasional, karena saham-saham perusahaan pemegang izin pertambangan, baik perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B) hingga pemegang konsesi izin usaha pertambangan (IUP) di Indonesia termasuk Kaltim didominasi oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok dan India. Sehingga berkepentingan untuk tetap menjalankan produksinya. “Sementara perusahaan yang (sahamnya) dimiliki warga negara Indonesia itu sedikit,” ucapnya.
Bukti lainnya kinerja ekspor batu bara di Benua Etam tetap kuat dan produksinya stabil karena penjualan ke PLN sebagai salah satu market cenderung tidak menjadi favorit. “Salah satu penanda kondisi batu bara di Indonesia itu di PLN. Kalau memang banyak perusahaan yang pada mau jual ke PLN berarti harganya memang lagi jatuh. Karena harga ke PLN ‘kan rendah. Hanya USD 70 per ton,” lanjutnya.
Namun yang menjadi kendala saat ini, kata Hamzah, adalah harga bahan bakar minyak (BBM) yang meningkat. Sehingga ongkos produksi dan logistik semakin naik. Termasuk ada kendala di sisi kepelabuhanan. Karena bersinggungan dengan kepentingan umum. Sementara untuk regulasi baik di pemerintah pusat maupun daerah tidak ada. “Baik di sisi pengawasan dan regulasi tidak ada masalah. Semua enjoy saja,” ungkapnya.
Diketahui, pada Maret 2023, Indonesia melakukan ekspor batu bara sebesar USD 3,5 miliar untuk volume 35 juta ton. Lalu pada April 2023 turun menjadi USD 3,2 miliar dengan volume 32 juta ton.
Kondisi serupa juga dialami Kaltim. BPS mencatat, pada April 2023 ekspor non-migas golongan bahan bakar mineral sebesar USD 1.924,68 juta. Terkoreksi dibandingkan pada Maret 2023 yang mencapai USD 2.242,18 juta. Atau turun sebanyak 14,16 persen.
MENGURANGI KETERGATUNGAN
Sebagai pengusaha Kaltim, Hamzah menyebut Kaltim masih terlalu menggantungkan ekonominya dari ekspor sumber daya alam. Karena itu, dirinya mendorong agar kondisi tersebut berangsur bisa segera dikurangi.
“Saya sepakat, ketika Gubernur Kaltim, Pak Isran Noor menyebut, Kaltim harus segera keluar dari kungkungan ketergantungan kepada sumber daya alam. Karena tidak ada negara maju yang kaya karena sumber daya alam. Negara seperti Jepang, Amerika, dan Eropa itu maju karena perdagangan, teknologi sampai manufaktur,” ucapnya.
Namun bagaimana pun, karena Kaltim sampai saat ini masih diberikan berkah sumber daya alam yang melimpah, maka harus dimanfaatkan dengan baik. Dengan menggunakan sistem pertambangan yang tepat, maka lahan bekas galian tambang bisa dimanfaatkan untuk sektor lain seperti perkebunan, pertanian hingga perikanan.
“Kalau bicara ekspor, di Pulau Jawa misalnya. Untuk bahan baku, tenaga ahli hingga pengetahuan itu sudah selesai. Pun sudah selesai untuk modal dan pasar. Namun Kaltim, bukan hanya masih bermasalah dengan modal dan pasar. Namun juga kurang mumpuni di sisi SDM (sumber daya manusia) yang teruji. Sehingga mutu produk yang dihasilkan bermutu ekspor,” ungkapnya.
Untuk itu, peran pemerintah sangat penting memberikan stimulus dan pelatihan terkait ekspor. Sama pada pemahaman pengelolaan keuangan. Karena, kata dia, bidang ekspor memerlukan produk dengan mutu tinggi dan berkelanjutan. “Itu syarat kita mampu ekspor. Sementara ekspor di sumber daya alam tidak menuntut itu,” ucapnya.
Menurutnya, rencana pemerintah daerah di Kaltim saat ini lebih banyak fokus pada korporat. Belum sampai pada UMKM. Yang mampu menyerap sekitar 35-97 persen pekerja dan memberikan kontribusi sekitar 35 - 69 persen terhadap gross domestic product (GDP) Indonesia.
“Seperti pembangunan kawasan industri itu ‘kan lebih ke korporat. Sementara kita perlu kepada sentra-sentra UMKM. Namun terakhir, kami mendengar dari Dinas Perdagangan. Mereka mengundang kami untuk membuat tim promosi ekspor Kaltim. Di sana kami usulkan di-back-up tim pelatihan dan pendanaan,” ujarnya.
Fokusnya pun harus jelas. Sebagai salah satu industri penunjang ekspor. Mengirimkan lebih dulu produknya ke luar pulau seperti Jawa. Nanti lima tahun ke depan, baru menjadi industri ekspornya. “Karena ini masa pembinaan. Sementara ekspor itu memerlukan produk dengan kuantitas banyak, berkelanjutan, dan bermutu tinggi,” lanjutnya.
Diketahui, BPS mencatat ekspor non-migas masih mendominasi 92,04 persen dari total ekspor Kaltim pada April 2023. Di mana pertambangan menyumbang 79,99 persen dari ekspor non-migas tersebut.
Secara keseluruhan, nilai ekspor Kaltim pada April 2023 tercatat USD 2,41 miliar, atau turun sebesar 15,59 persen dibandingkan nilai ekspor Maret 2023. Jika dibandingkan dengan April 2022, nilai ekspor turun sebesar 27,75 persen.
ANDALAN TAPI RENTAN
Dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi April 2023, Bank Dunia memproyeksikan harga batu bara bakal turun sampai 2024. Rata-rata harga batu bara Australia yang menjadi acuan di pasar global (Newcastle 6.000 kcal/kg) tahun ini diperkirakan mencapai USD 200 per ton. Kemudian tahun depan jadi USD 155 per ton. Namun potensi tersebut tidak serta-merta akan melemahkan sektor batu bara di Kaltim.
Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Aji Sofyan Effendi menjelaskan, alasan di balik industri batu bara di Kaltim tetap stabil, baik di sisi produksi maupun ekspor, lantaran efek dari bentuk kerja sama jangka panjang antara perusahaan di Kaltim dengan negara tujuan ekspor.
“Jadi kerja sama jangka panjang yang dibuat oleh pebisnis batu bara di dunia dengan perusahaan batu bara besar di Indonesia yang punya tambang di Kaltim membuat komoditas ini stabil dan tidak fluktuatif terpengaruh harga maupun kondisi pasar dunia,” ucap Aji, Jumat (26/5).
Di sisi lain, alasan ekspor batu bara di Kaltim tetap tinggi, karena permintaan tidak hanya datang dari negara utama tujuan ekspor. Seperti Tiongkok dan India. Melainkan munculnya pasar baru dari negara lainnya khususnya di kawasan Asia Pasifik. Apalagi kontribusi batu bara Kaltim menjadi salah satu yang terbesar untuk ekspor Indonesia. “Banyak negara yang masih memerlukan batu bara Indonesia. Eropa dan Amerika pun juga membutuhkan batu bara Indonesia,” ucapnya.
Sayangnya, fluktuasi harga dan nilai ekspor batu bara sangat berpengaruh pada ekonomi Kaltim secara keseluruhan. Pasalnya, Kaltim masih menggantungkan batu bara sebagai salah satu leading sector penerimaan pendapatan daerah, di samping migas dan galian lainnya. Di mana dalam prosesnya, naik turunnya produksi sampai penjualan batu bara akan menentukan seberapa besar dana transfer dari pusat ke daerah.
“Puluhan tahun Kaltim berada di zona nyaman dengan bergantung pada eksploitasi sumber daya alam (SDA) termasuk batu bara. Sayangnya yang melakukannya bukan perusahaan daerah. Jadi kebanyakan uang itu diserap ke APBN. Kemudian melalui DBH (dana bagi hasil) SDA, itu kemudian yang masuk ke daerah. Jadi besaran APBD Kaltim masih sangat bergantung pada transfer dari pemerintah pusat,” ungkapnya.
Di sisi lain, sumber pendapatan asli daerah (PAD) Kaltim saat ini pun juga masih bergantung pada efek industri ekstraktif SDA termasuk batu bara. Sehingga menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul tersebut, Benua Etam sangat rentan untuk mengalami kemerosotan ekonomi.
“Meski uang APBD Kaltim itu ganal (besar). Mencapai Rp 17 triliun (di APBD 2023), namun sangat bergantung pada dana transfer dan pendapatan yang bersumber dari SDA yang sifatnya tidak bisa diperbarui,” ungkapnya.
Bercermin dari banyak kasus, ketika Indonesia khususnya Kaltim yang masih bergantung dari batu bara hanya mampu meningkatkan ekonomi ketika dunia mengalami krisis energi non-batu bara. Mengakibatkan harga batu bara naik tajam. Namun ketika sudah stabil dan banyak negara yang mengurangi konsumsi batu baranya, dan harganya anjlok, maka Kaltim terkena dampak negatifnya.
“Jadi saya pribadi enggak bangga dengan tingginya APBD Kaltim. Tetapi karena Kaltim sudah diberikan Allah SWT dengan sumber daya yang melimpah. Maka ini berkah untuk rakyat khususnya di Kaltim. Sayangnya dalam perspektif ekonomi jangka panjang, sangat rentan. Apalagi kondisinya kini banyak kerusakan yang terjadi dampak dari pertambangan,” ucapnya.
Sayangnya lagi, Aji menyebut dirinya belum melihat upaya Pemprov Kaltim dan pemerintah daerah penghasil batu bara untuk segera bertransformasi melepaskan diri dari ketergantungan industri ekstraktif itu. “Saya belum melihat atau sudah ada tapi saya belum baca. Yang jelas roadmap untuk bisa beralih dari ekonomi berbasis eksploitasi SDA menuju industrialisasi dan hilirisasi SDA Kaltim itu harus ada,” ucapnya.
Untuk diketahui, APBD 2023 Kaltim mencapai Rp 17,2 triliun. Berasal dari PAD Rp 13,54 triliun. Kemudian dari pendapatan transfer dari pemerintah pusat senilai Rp 5,93 triliun, selanjutnya dari lain-lain pendapatan daerah yang sah dengan nilai Rp 13,85 miliar. (rom)
M RIDHUAN
Editor : izak-Indra Zakaria