Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Audi Diperdengarkan Kaset sejak Bayi, Maretha Akrabi Keroncong sedari Kecil

izak-Indra Zakaria • Selasa, 27 Juni 2023 - 21:09 WIB
Claudia Emmanuela Santoso
Claudia Emmanuela Santoso

Claudia Emmanuela Santoso memenangi The Voice of Germany berkat ketelatenan mengasah bakat yang dimulai sejak berusia 4 tahun. Maretha Primadani juga memulainya sedari dini, dari lomba ke lomba, sampai kini membuahkan single serta jadwal menyanyi yang padat. 

LAILATUL FITRIANI, Surabaya

 

MOMEN itu tak akan pernah terlupakan oleh Claudia Emmanuela Santoso. Ketika suara soprannya saat membawakan Never Enough berhasil membuat keempat juri memutar kursi dan memberikan standing ovation.

’’Kalau diingat ya masih nggak nyangka jadi orang Indonesia pertama, bahkan di Asia, yang memenangkan The Voice of Germany,” tutur Audi, sapaan akrabnya, saat dihubungi via telepon kemarin (26/6) tentang momen tak terlupakan pada 2019 itu.

Kesuksesan itu pun membukakan banyak pintu. Undangan tampil berdatangan. Terbaru, Audi berkesempatan tampil di seremoni pembukaan Special Olympic World Games Berlin 2023 pada Sabtu (17/6) dua pekan lalu.

Perempuan 22 tahun asal Cirebon, Jawa Barat, itu pun bertemu orang-orang penting di Jerman. Khalayak luas juga mulai mengenalnya.

Semua itu tentu tak dicapai dalam semalam. Sejak bayi, dia sudah diperdengarkan kaset-kaset musik. Begitu bisa berbicara, dia ikut menyanyikan lagu yang disetel. Kebiasaan itu dia lakukan berkali-kali, bahkan dia tidak akan tidur sebelum bernyanyi dan mendengarkan musik.

’’Pas nyanyi itu nggak fals, padahal masih kecil banget. Akhirnya sama orangtua didaftarkan ke sekolah musik. Dari situ aku tahu aku penginnya di musik,” ungkap Audi.

Usianya baru 4 tahun saat mulai kursus musik. Dia mengasah kemampuan tarik suaranya selama hampir 12 tahun. Berbagai kompetisi menyanyi dia jajal. Tak terkecuali ajang pencarian bakat seperti di sini seperti Akademi Fantasi (AFI) junior, Idola Cilik 2011, dan Mamamia 2014.

Barulah di 2018 dia berangkat ke Jerman untuk mengikuti Studienkolleg, sebuah institusi pendidikan yang mempersiapkan murid asing untuk penyetaraan ijazah. Ya, Audi ke Jerman dalam rangka melanjutkan studi.

Tepatnya di Universitas Ludwig Maximilian Munchen. Menginjak semester pertama, dia melihat poster audisi The Voice of Germany. Tak perlu berpikir dua kali, Audi langsung mendaftar.

’’Orang kan punya jalannya masing-masing. Mungkin jalanku untuk dikenal orang memang lewat kompetisi,” imbuh mahasiswa akhir jurusan publizistik und kommunikation itu.

Audi tidak memungkiri ajang pencarian bakat sangat berperan dalam kariernya. Bagi pendatang baru yang ingin terjun ke dunia hiburan, ajang semacam itu mampu menjadi gerbang pembuka.

Tak terhitung talenta muda Tanah Air yang lahir dari ajang pencarian bakat. Mulai Muhammad Zayyan, kontestan Indonesian Idol musim 10 yang kini menjadi idol K-pop, Xodiac, hingga Putri Ariani yang mendapat golden buzzer di America’s Got Talent 2023. Tak heran banyak yang mencoba peruntungan lewat ajang pencarian bakat.

Salah satunya penyanyi asal Lamongan, Jawa Timur, Maretha Primadani. ’’Pengaruhnya emang besar banget sih. Dari 2014, aku ikut ajang pencarian bakat sampai 2020 akhir, orang yang tadinya nggak kenal, sekarang kalau ketemu di jalan jadi oh Maretha Idol ya,” ungkap kontestan Indonesian Idol 2018 itu.

Meski belum berhasil lolos, tawaran manggung tetap berdatangan. Semenjak masuk manajemen, dia mengambil event-event tertentu seperti solo performance untuk acara kampus dan instansi. Yang mulanya menyanyi dari satu acara wedding ke wedding lain, kini Maretha sudah memiliki single sendiri. Belum lama ini, dia merilis single perdananya berjudul Tak Bisa Jujur.

’’Yang pasti istimewa karena single pertama dan pas aku rilis ternyata orang-orang sekitar juga pada senang,” ungkap perempuan 22 tahun itu.

Tumbuh dalam keluarga yang menggemari langgam Jawa tanpa sadar membuat Maretha kecil ikut jatuh hati. Maretha yang dasarnya senang bernyanyi akhirnya tertarik mempelajari lagu-lagu keroncong.

Awalnya autodidak. Hanya mendengar dari sang mami yang kebetulan seorang penyanyi campursari dan keroncong. ’’Dari TK mulai ikut lomba-lomba nyanyi sampai SMA. Baru pas kuliah mulai serius dan ngambil jurusan musik,” lanjutnya.

Penyanyi yang menguasai berbagai genre mulai pop, mandarin, keroncong, hingga klasik itu membocorkan sudah menyiapkan single baru. Namun, masih menunggu waktu yang tepat untuk perilisan.

Lain halnya dengan Audi yang memilih untuk fokus pada studi akhirnya. ’’Aku sangat ingin membuat sesuatu untuk fans-ku, semoga EP (extended play alias mini album) atau (full) album. Tapi, sekarang sudah semester akhir, tahun depan aku bachelor thesis, semoga,” harap Audi.

Dia mengungkapkan keinginannya untuk kembali dan berkarya di Tanah Air. Audi juga sempat membocorkan rencana duetnya bersama seorang penyanyi kenamaan Indonesia yang juga pernah meniti karier di Jerman, Sandhy Sondoro. ’’Sudah rekaman, semoga bisa rilis dalam waktu dekat,” ucapnya.

Di Hari Musik Sedunia yang diperingati setiap 21 Juni, keduanya berharap semakin banyak talenta muda yang berani berkarya. Dan, melahirkan musik-musik yang lebih beragam serta bisa diterima sampai mancanegara. (*/c17/ttg/jpg/dwi/k8)

Editor : izak-Indra Zakaria