Panen sawit nantinya tak perlu lagi menggunakan tenaga manusia. Traktor canggih yang akan dilengkapi kecerdasan buatan atau teknologi artificial intelligence (AI), akan dikembangkan Institut Teknologi Kalimantan (ITK).
RIKIP AGUSTANI, Balikpapan
ikkifarikikki@gmail.com
TENAGA kerja di sektor produksi pascapanen perkebunan yang semakin berkurang menjadi kegundahan PT Julong. Perusahaan perkebunan kelapa sawit asal Tiongkok ini, merasa perlu ada teknologi otomatisasi pada sektor produksi mereka. Otomatisasi ini merupakan penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin yang secara otomatis. Nantinya, melakukan dan mengatur pekerjaan tidak lagi memerlukan pengawasan manusia. Terutama, pada traktor yang biasa digunakan untuk mengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
Untuk menciptakan teknologi otomatisasi pada traktor itu, digandenglah Institut Teknologi Kalimantan (ITK) di Balikpapan. Perusahaan yang memiliki konsesi perkebunan sawit di Banjarbaru, Kalsel, menghibahkan satu unit traktor yang akan dikembangkan dengan teknologi kecerdasan buatan. “Tenaga kerja manusianya semakin berkurang, sehingga perlu otomatisasi. ITK ini tempatnya teknologi dan ke depannya mengembangkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI),” kata Rektor ITK Prof Agus Rubiyanto kepada Kaltim Post di Laboratorium Terpadu ITK, Jalan Soekarno-Hatta, Km 15, Karang Joang, Balikpapan Utara, Rabu (16/8) lalu.
Agus menuturkan, traktor yang diproduksi PT Huili itu, memiliki komponen yang sangat simpel. Sehingga, menjadi tantangan bagi ahli mesin ITK untuk memodifikasi traktor tersebut. “Ketika saya ke sana (Tiongkok) dibantu oleh teman-teman teknik. Kajur-nya (ketua Jurusan Teknologi Industri dan Proses) Andi Idhil Ismail, bisa melihat bahwa potensi untuk pengembangan otomatisasi atau dikombinasi dengan AI itu. Dan nantinya membuat minyaknya itu menjadi lebih bagus dan lebih efektif. Kami akan melengkapinya. Karena selama ini traktornya manual. Next time kami akan buat otomatisasi,” janjinya.
Saat ini, teknologi otomatisasi masih dirancang tim peneliti ITK. Mereka belum menetapkan tenggat waktu penyelesaian rancangan tersebut. Akan tetapi, sembari membuat rancangan pengembangan traktor tersebut, nantinya akan ada dosen dari ITK yang dikirim untuk mengambil program doktoral di Tiongkok. Selanjutnya, melanjutkan pendidikan di Guangxi University Science and Technology (GXUST). “Artinya dosen yang ada di sini (ITK) bisa (menempuh pendidikan doktor) ke sana (Tiongkok). Karena ini adalah program yang sustainability (berkelanjutan),” terangnya.
CEO PT Julong, Lei Wenzhong yang langsung menyerahkan unit traktor tersebut menuturkan, teknologi yang akan dikembangkan diharapkan dapat dimanfaatkan pada kegiatan pascaproduksi panen kelapa sawit. “Kami berharap traktor yang diproduksi oleh PT Huili ini bisa kami kembangkan lagi. Apalagi kemarin kami sempat ke pabrik mereka di Kota Beihai. Dan ini sangat bagus sekali. Bagi kita di Kalimantan. Terutama jika teknologi otomatisasi traktor ini, akan berdampak pada kegiatan produksi pascapanen, semakin baik,” ujarnya.
Dengan teknologi yang akan dikembangkan, nantinya proses produksi menggunakan drone atau pesawat tanpa awak. Termasuk untuk keperluan memindai atau scanning lokasi perkebunan kelapa sawit yang akan atau siap dipanen. (riz/k15)
Editor : izak-Indra Zakaria