BULUNGAN-Lebih dari 10 hari, penyebab meninggalnya pengawal pribadi (walpri) kapolda Kaltara Briptu Setyo Herlambang masih misteri. Kini keluarga almarhum menemukan kejanggalan berupa luka lebam di telapak tangan kanan dan kaki kiri. Keluarga juga menyayangkan tidak dilakukannya pertolongan pertama terhadap Briptu Setyo Herlambang berdasarkan rekaman closed circuit television (CCTV) yang diperlihatkan ke keluarga.
Dalam rekaman tersebut, diketahui bahwa para saksi yang melihat Setyo Herlambang terluka, hanya sibuk mengumpulkan orang. Kuasa hukum keluarga Briptu Setyo Herlambang, Aryas Adi Suyanto menuturkan, untuk temuan luka lebam di telapak tangan kanan dan kaki kiri, diketahui keluarga dari autopsi yang dilakukan di Semarang. ”Hasil autopsi ini menyebutkan luka tersebut,” ujarnya. Luka lebam itu disebut akibat dari pukulan benda tumpul.
Sayangnya, hingga saat ini keluarga tidak mendapat penjelasan apapun terkait penyebab luka tersebut. ”Belum diketahui apakah dipukul atau karena apa,” jelasnya dihubungi Jawa Pos (Kaltim Post Group), Minggu (1/10) sore. Keluarga juga diberikan kesempatan untuk melihat rekaman CCTV sekitar kamar Setyo Herlambang. Terdapat dua rekaman yang diperlihatkan. Yakni CCTV yang menghadap kamar dan samping kamar atau lorong.
Kedua rekaman hanya memperlihatkan kondisi di luar kamar. ”Durasi rekaman CCTV sekitar satu jam,” urainya. Dari rekaman tersebut, diketahui kamar cukup kecil. Sekitar ukuran 3x2 meter. Dari rekaman itu juga diketahui bahwa Setyo Herlambang masih hidup saat masuk ke kamarnya. Lalu, dalam durasi satu jam di dalam kamar, ada saksi yang beraktivitas di depan pintu kamar. ”Tidak sampai masuk, hanya ambil sandal di depan pintu,” paparnya.
Lalu pada pukul 12.49 sekian detik, sesuai rekaman, diketahui seorang saksi masuk ke dalam kamar. Yang kemudian memanggil saksi lainnya. ”Tidak ada pertolongan pertama ke Briptu SH (Setyo Herlambang), hanya heboh memberi tahu orang lain,” jelasnya. Dia mengatakan, untuk langkah selanjutnya keluarga masih menunggu penjelasan lengkap dari Polda Kaltara.
Hingga saat ini, belum diketahui kapan penjelasan lengkap soal hasil pendalaman insiden itu akan diberitahukan ke keluarga. ”Kami masih menunggu,” terangnya. Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Kaltara, Kombes Pol Budi Rachmat mengungkapkan, penyelidikan masih terus berlangsung. "Untuk peningkatan status ke penyidikan itu nanti kalau sudah lengkap barang buktinya, serta muncul dari keterangan ahli," ujar Budi kepada Radar Kaltara (Kaltim Post Group) ditemui di Tanjung Selor, Bulungan, akhir pekan lalu.
Artinya, sambung dia, fakta-fakta kejadian itu harus utuh. Tidak bisa lagi menduga-duga. Budi mengaku, informasi awal yang disampaikan olehnya ke media terkait dugaan kelalaian yang mengakibatkan almarhum meninggal, itu ketika dirinya berada di Jakarta. "Waktu itu saya sementara tes, pada hari Jumat (22/9) itu. Jadi awalnya itu saya mencari informasi ke teman-teman yang ada di polda (Polda Kaltara)," katanya. Lanjut dia, hingga saat ini kapolda Kaltara tetap tinggal di rumah jabatan tersebut. Hanya, kamar yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP), saat ini masih dipasang garis polisi.
Sebelumnya, Budi mengatakan, penyelidikan yang dilakukan tim dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kaltara dengan di-backup Bareskrim Polri, sudah mendekati final. "Kemudian, barang bukti (BB) sudah dikirim ke Mabes Polri untuk diperiksa. Mulai rekaman CCTV, rekaman dari handphone korban, hingga senjata api (senpi) yang ditemukan di TKP," tuturnya. Sementara untuk hasil autopsi, Budi mengatakan sudah dirilis beberapa waktu lalu.
"Dalam hal ini kami berupaya yang terbaik bagi si korban. Kita sudah berupaya seoptimal mungkin, transparan dan menggunakan scientific crime investigation. Jadi itu betul-betul lebih akurat. Tidak ada lagi dugaan-dugaan," katanya. Disinggung informasi adanya lebam di lengan korban? Budi mengatakan, itu yang menyebut penasihat hukum dari keluarga korban. Jika dari pihak Polda Kaltara, jenazah korban diserahkan dalam kondisi utuh.
"Itu diperiksa dan diperlihatkan kepada keluarganya sebelum dilakukan autopsi. Dan proses autopsi disaksikan langsung oleh keluarga korban. Kalau kami, yang terbaik yang akan kami lakukan dari Polda Kaltara dan di-backup Mabes Polri," jelasnya.
Tanggapan Kapolda Kaltara
Dalam keterangannya pekan lalu, Kapolda Kaltara Irjen Daniel Adityajaya menunjukkan sikapnya yang terbuka. Dia mengatakan, siap untuk diklarifikasi untuk membuat terang kejadian tersebut. "Sejak awal Polri telah transparan menangani kasus dan pimpinan berkomitmen mengusut kasus secara objektif dan transparan," katanya kepada Jawa Pos. Saat ditanya terkait kasus ini yang dinilai mirip kasus Brigadir Yosua, dia mengatakan, sebaiknya jangan berasumsi terlebih dahulu. "Mari bersama-sama menunggu tim dan Polda Kaltara dan Mabes Polri bekerja dulu. Kita semua akan mengetahui hasilnya," sebutnya.
Diwartakan sebelumnya, Briptu Setyo Herlambang ditemukan bersimbah darah di dalam kamar pengawal pribadi Rumah Jabatan Kapolda Kaltara, Jumat (22/9) siang. Di sampingnya ditemukan senjata api jenis HS-9 dengan nomor senpi HS178837. Senjata tersebut merupakan inventaris dinas. Atas permintaan keluarga, jenazah diterbangkan ke Semarang dan dilakukan autopsi di RS Bhayangkara pada Sabtu (23/9). Dari hasil autopsi yang dipimpin Kombes Pol Dr dr Sumy Hastry, SpKF, DFM dan tim, diketahui terdapat luka karena senjata api atau luka tembak pada dada kiri yang menembus jantung, paru-paru, hingga punggung. Luka tembak keluar di punggung. Diketahui pula bahwa jarak tembak sangat dekat dengan badan. (idr/iwk/kpg/riz/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria