Sejak akhir Oktober lalu, serangan ulat bulu terhadap sebagian pengunjung Taman Bebaya membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mengambil sikap tegas, menutup sementara taman hingga waktu yang tidak ditentukan. Kejadian yang tak kunjung tuntas itu mengundang akademisi angkat bicara.
AKADEMISI dari Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman Dr Abdul Sahid menuturkan, untuk mengatasi kejadian di Taman Bebaya, harus mengenali dahulu jenis ulat yang menyebabkan gatal-gatal. “Ada tiga golongan ulat yang menimbulkan rasa gatal,” ucapnya, Rabu (8/11).
Saat diperlihatkan foto ulat bulu yang bertebaran di taman tersebut, dari ketiga golongan jenis ulat yang dia paparkan, salah satunya termasuk jenis ulat yang kini berdiam diri di Taman Bebaya. “Ulat Famili lymantridae termasuk jenis ulat yang menyebabkan gatal-gatal. Ulat itu memiliki bulu dengan ujung yang lancip. Ketika jatuh ke permukaan kulit manusia, ujungnya akan patah dan masuk ke pori-pori. Itu yang menyebabkan gatal,” sambungnya.
Untuk yang memegang atau tak sengaja bersentuhan, lanjut Abdul, beberapa hal dapat diterapkan sebagai langkah awal untuk mencegah rasa gatal merambat ke permukaan kulit lainnya. “Caranya tempelkan lakban di permukaan kulit yang terasa gatal atau tersentuh ulat tersebut. Setelah itu cabut lakbannya, sehingga bulu lancip ulatnya akan ikut tertempel di lakban tersebut. Kemudian, basuh dengan air agar lebih baik penanganannya. Kalau digaruk atau dioles dengan tangan, bulu-bulu itu bisa menyebar ke titik permukaan kulit lainnya,” sambung dosen yang juga ahli di bidang entomologi itu.
Menanyakan perihal penyebab kemunculan ulat bulu yang mewabah di Taman Bebaya. Abdul membeberkan, terdapat tiga faktor penyebab munculnya ulat bulu di waktu-waktu tertentu dengan populasi begitu meningkat, di antaranya faktor iklim, keseimbangan alam terganggu dan sumber makanan yang melimpah (lihat infografis). “Jadi secara biologi dan hayati kelestarian lingkungan harusnya dijaga, seperti semut rang-rang jangan diambil, kemudian burung-burung yang memakan serangga jangan ditangkap,” imbuhnya
Untuk diketahui, sejak Selasa (7/11), DLH menutup taman tersebut dalam rangka mensterilkan sekaligus penyemprotan insektisida. Abdul membenarkan langkah-langkah itu. Menurutnya, cara terakhir untuk mencegah berkembang biaknya ulat tersebut yakni penyemprotan insektisida. Namun, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan.
“Produk insektisda tersebut sesuai atau tidak dengan ulat yang dimaksud, kemudian waktu penyemprotan disesuaikan kapan aktivitasnya. Selain itu, alat yang digunakan menjadi perhatian apakah dapat menggapai titik-titik yang dijadikan sasaran dalam menyeprot tanaman yang cukup tinggi atau susah digapai, dan takaran dosis harus sesuai dengan jenis ulat bulunya. Sehingga, efek dari penyemprotan dapat berdampak secara signifikan,” pungkasnya. (dra/k8)
EKO PRALISTIO
pralistioeko@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria