BALIKPAPAN – Pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) membuat jumlah penduduk Balikpapan meningkat drastis. Sayangnya, salah satu kebutuhan utama, yakni air baku masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah tuntas.
Berbagai opsi mengemuka di Rembuk Etam garapan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Brawijaya (UB) Kaltim bersama Kaltim Post bertajuk “Mengimpikan Kaltim sebagai Water Resilient City”. Namun di balik itu, ada komitmen dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor swasta untuk mewujudkannya.
Penasihat IKA UB Kaltim Edwin Halim menjelaskan, mimpi Balikpapan bebas dari krisis air sebenarnya sudah bisa menjadi kenyataan dengan keberadaan masterplan sistem penyediaan air minum (SPAM) regional sejak 2019. Edwin melihat ada beberapa opsi tersedia untuk memenuhi air baik. Namun, satu-satunya cara paling rasional dan memungkinkan dengan mengambil air baku dari Sungai Mahakam.
“Kapasitas Sungai Mahakam 3.000 liter per detik dengan panjang 920 kilometer cukup untuk memenuhi tiga kawasan,” sebutnya.
Menurutnya, rencana ini sulit terwujud tinggal karena persoalan ego sektoral dan pembiayaan dari pemerintah. Maka dia berharap, Kementerian PUPR mampu memberi bantuan anggaran. Apalagi menurutnya, Balikpapan sudah berada pada level rentan. “Ini kebutuhan air baku, jadi harus adakan SPAM regional. Maksimal timeline pertengahan 2024 sudah jalan,” imbuhnya.
Sementara itu, Plt Direktur Teknik Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) Kohirudin menjelaskan, saat ini, Balikpapan masih mengandalkan Waduk Manggar dan Waduk Teritip. Yang menyuplai 80 persen kebutuhan air baku. Serta bantuan dari air tanah dalam. Total PTMB mampu menyediakan air bersih sebanyak 1.500 liter per detik.
“Berdasarkan hitungan kami, ada defisit 400 liter per detik dari existing,” katanya.
Ada usaha yang sudah dilakukan untuk mencari sumber air baku. Salah satu yang paling potensial usulan membangun SPAM Sepaku Semoi. Teranyar, pemerintah pusat hanya memberikan jatah Balikpapan sebesar 500 liter per detik dari Bendungan Sepaku Semoi. “Kami berusaha mendapat jatah 1.000 liter,” ucapnya.
Harapannya, dari bantuan SPAM Sepaku Semoi nanti bisa mampu membantu PTMB mengatasi daftar tunggu yang telah mencapai 10 ribu sambungan rumah (SR). Dia menegaskan, meski ada bantuan 1.000 liter per detik. Nanti ke depannya tetap perlu mencari sumber air baku lagi.
“Sepakat desalinasi bisa karena ada teknologi, tapi kemampuan daya beli masyarakat tidak ada,” ujarnya. Begitu pula secara hierarki, PTMB hanya bertugas mengelola sumber air baku. Pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemkot Balikpapan bagaimana mencari sumber air baku.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Balikpapan Sabaruddin Panrecalle menegaskan, Pemkot Balikpapan bersama DPRD Balikpapan telah menganggarkan kebutuhan anggaran, khususnya pengadaan lahan. Namun, proses pembebasan lahan yang pelik membuat serapan anggaran yang disediakan tidak maksimal. Akhirnya, setiap tahun yang terjadi justru terjadi sisa lebih pembiayaan anggaran (Silpa).
“Ketika musim hujan datang, air berlimpah. Kenapa tidak ada inisiatif jangan buang air ke laut,” katanya. Sabaruddin mengaku tidak habis pikir, jika saat musim kemarau tiba dan PDAM hanya mampu mengimbau warga untuk hemat air. Dia mendorong PTMB dan stakeholder bisa mencari solusi.
“Kalau untuk hajat hidup orang banyak tidak ada kata mahal, upayakan bisa cari skema. Misalnya, desalinasi untuk pengusaha atau masyarakat menengah ke atas,” tuturnya.
Teknik Penyehatan Lingkungan Ahli Muda Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Balikpapan, Dian Anggrainy pun memberi penjelasan. Dinas PU Balikpapan telah melakukan kajian Bendungan Sepaku Semoi. Wali Kota Balikpapan juga telah bersurat secara resmi kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) meminta kuota 1.000 liter per detik. Hasil perhitungan investasi yang dikeluarkan antara 1.000 liter per detik dan 500 liter per detik memiliki perbedaan sangat tipis.
Dian menjelaskan, perlu proyek pemanenan air hujan sebagai opsi membantu krisis air baku. Namun, kini masih dalam proses penyusunan rancangan peraturan daerah (raperda) oleh Dinas Lingkungan Hidup. “Balikpapan memiliki curah hujan tinggi yang menjadi kekayaan Kaltim. Tapi, belum ada inovasi tepat mengelola potensi menampung air maksimal saat hujan,” bebernya. (rdh/k15)
DINA ANGELINA
dinaangelina6@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria