SAMARINDA. Retaknya taxiway di Bandara APT Pranoto Sungai Siring disayangkan DPRD Kaltim. Pasalnya proyek dengan nilai ratusan miliar itu baru berumur jagung.
Anggota Komisi III DPRD Kaltim Syafruddin mengaku belum turun meninjau ke lapangan, sehingga dirinya belum bisa memastikan penyebab pasti dari keretakan itu.
Namun, menurut politisi PKB ini, orang bisa berasumsi kerja kontraktor bisa jadi asal-asalan karena kejar tayang.
Pasalnya, sesuai kontrak kerja, kontraktor diberi deadline mengerjakan proyek itu hingga 31 Desember 2018. Namun untuk memastikan penyebab merusakan, Komisi III DPRD Kaltim berencana meninjau ke lapangan.
"Dalam waktu dekat kita turun cek. Untuk mengetahui sesungguhnya penyebab dari retaknya taxiway. Tapi asumsi orang bisa kerja kontraktor asal-asal karena habis kontrak. Mungkin saja pekerjaan terburu-buru," katanya.
Namun, bisa saja ada penyebab lain seperti kondisi tanah yang tidak stabil. Sehingga sewaktu-waktu bisa bergerak karena kondisi tertentu.
"Yang pasti kami menyayangkan terjadi retak. Meski tidak ganggu runway tapi taxiway juga menjadi bagian dari keseluruhan proyek itu. taxiway jadi penopang mobilitas juga," jelas Udin -sapaan akrabnya.
Ramdami, Project Manager Hutama Karya (KH), salah satu kontraktor APT Pranoto, mengatakan area taxiway masuk pekerjaan KSO, Waskita dan HK Wika.
Dirinya menduga kemungkinan retak itu ada beberapa hal teknis. Namun tetap diatasi sesuai penyebabnya.
"Jika memang masih ada aliran di bawah pavement, maka kita atasi dengan Edge Drain sepanjang taxiway langsung kita usulkan dan selesai dikerjakan. Kan memang baru separo itu tebal aspalnya," katanya.
Sesuai desain ketebalan aspal 12 centimeter. Namun untuk standar mestinya 24 centimeter. Hanya saja memang dari awal harus ada penambahan layer.
"Sudah sempurna sesuai desain kementerian. Tapi yang masuk kan langsung pesawat Boeing yang maksimum. Tapi dari tim ahli, minim 6 sampai 7 cm juga cukup," jelasnya.
Ramai-ramai pesawat masuk ke APT Pranoto, kata dia, seperti berlaku hukum pasar. Memang pasar Samarinda termasuk besar. Mestinya sambil bertahap beban pesawat sambil ditingkatkan landasannya.
"Doakan sepertinya kementerian mau meningkatkan Bandara APT Pranoto," tutupnya. (zak/nha)