Puncak arus mudik melalui moda transportasi laut terjadi pada 15 April saat KM Egon berangkat dari Pelabuhan Loktuan. Berdasarkan data, jumlah penumpang yang berangkat 889 orang. Rinciannya 842 dewasa dan 47 bayi.
BONTANG - Kepala PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Samarinda Syarif Hidayat mengatakan, jumlah ini mendekati total pemberian dispensasi penumpang yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kapasitas maksimal yang diberikan ialah 984 penumpang. Artinya, sebenarnya masih ada sisa 95 slot.
Akan tetapi, ketika penumpang masih ada yang memerlukan tidak dilayani. Sebab, penjualan tiket diberikan batas waktu hingga satu jam sebelum keberangkatan. “Memang tadi ada yang belum dapat. Tetapi sistem sudah tidak bisa dibuka kalau kurang dari satu jam keberangkatan,” kata pria yang akrab disapa Ujang ini.
Kapal tersebut bersandar sekira pukul 11.00 Wita. Jumlah penumpang yang turun melonjak sampai 391. Kemudian penumpang turun diarahkan menuju samping gerbang pelabuhan. “Ini memang puncak mudik karena jumlah penumpang yang mau merayakan di Bontang juga banyak,” ucapnya.
Setelah mobilisasi penumpang rampung, mereka yang berangkat langsung bisa menuju dek kapal dari ruang tunggu pelabuhan. Jumlah yang banyak ini ternyata tidak sebanding dengan fasilitas kasur kapal.
Sejatinya kapasitas awal kapal ini yakni 405 penumpang. Sementara jumlah kasur yang tersedia hanya 608. “Memang ada keributan kecil di dalam dek kapal. Karena penumpang yang tambahan itu memang tidak mendapatkan kasur. Tetapi di atas situasinya berebut,” tutur dia.
Terkait harga memang tidak ada perbedaan antara tiket awal dengan tambahan. Namun, yang membedakan ialah fasilitas yang diterima. Seharusnya penumpang tersebut mengerti dan menyiapkan sarana sendiri.
Penumpang asal Bontang Lestari Rahman mengaku mendapatkan tiket awal bulan lalu, sehingga masih mendapatkan tiket dengan kapasitas awal. Namun ia justru tidak mendapatkan kasur.
“Tadi karena masih mengurus kendaraan dan barang bawaan, jadi kami memang masuk dek agak belakangan. Tetapi kami justru tidak mendapatkan kasur,” sebutnya.
Ia pun mengaku kecewa. Alhasil harus membeli tikar untuk duduk dan tidur di toko dekat pelabuhan. Ia bersama tiga anggota keluarga hendak menuju Parepare. Dalam dek kapal, seluruh ruangan dipenuhi penumpang. Bahkan akses menuju ruangan lain terkesan sempit.
Selain penumpang kapal ini juga mengangkut 69 kendaraan. Rinciannya 32 sepeda motor, 36 minibus, dan 1 truk sedang. Kapasitas untuk kendaraan yakni 85 minibus. (ak/kri/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria