Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pelayanan BBM Pertamini Tidak Memiliki Standar Keamanan, Seharusnya Sudah Ditertibkan

Dwi Restu Amrullah • Rabu, 20 Maret 2024 - 17:03 WIB

 

MASIH BANYAK: Aktivitas pelayanan BBM menggunakan mesin pertamini masih menjamur, meski beberapa kejadian hingga menelan korban jiwa beberapa kali terjadi.
MASIH BANYAK: Aktivitas pelayanan BBM menggunakan mesin pertamini masih menjamur, meski beberapa kejadian hingga menelan korban jiwa beberapa kali terjadi.
 

Aktivitas pengetap atau mesin pertamini, belakangan jadi biang masalah kebakaran. Bahkan beberapa peristiwanya menelan korban jiwa dan terbakar. Catatan terakhir terjadi di Jalan HM Ardans, Kelurahan Sempaja Barat, Kecamatan Samarinda Utara, Sabtu (16/3) lalu.

 

SAMARINDA–Warga mendesak Pemkot Samarinda maupun Pemprov Kaltim untuk mengambil sikap tegas. Namun, pelayanan perniagaan bahan bakar minyak (BBM) menggunakan mesin dispenser atau disebut pertamini, masih “dilegalkan”.

Kejadian demi kejadian yang menimbulkan korban jiwa, seolah tak jadi pelajaran berharga. Pasalnya, dari pantauan harian ini, hampir seluruh toko kelontongan di ruas jalan ibu kota Kaltim, turut menjual kembali BBM. Meski sudah berulang kali pula aparat penegak hukum menindak oknum masyarakat yang melakukan pengetapan BBM.

Kepala Dinas Perdagangan Samarinda Marnabas Patiroy menuturkan, pihaknya menyatakan bahwa penjualan kembali BBM ke masyarakat menggunakan mesin dispenser pertamini adalah hal ilegal. “Kalau untuk penertiban sedang dikaji rekan-rekan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Samarinda,” ungkapnya. Dia menyebut bahwa perwakilan Satpol PP sudah pernah melakukan studi banding terkait masalah pertamini.

“Yang jelas pertamini dalam aturannya itu dilarang. Titik distribusi terakhir adalah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dan Pertashop,” tegasnya.

Menurut Marnabas, penggunaan mesin pertamini itu tidak memiliki standar keamanan dan keselamatan. “Ada beberapa komponen yang memang tidak standar. Pernah ada yang mengajukan ke pusat, tapi untuk kelengkapan komponennya itu butuh biaya besar,” beber Marnabas. Namun, secara tegas menyebut, titik terakhir pendistribusian ada di ranah SPBU. Namun, disinggung soal penindakan terhadap mesin pertamini, ada tim yang memang secara fokus menanganinya. 

Sebelumnya, seorang saksi mata peristiwa di Jalan HM Ardans, Ayu, bercerita, dia sempat mendengar tetangganya (Rizky) berteriak minta tolong. Dia tak mengingat waktu teriakan tersebut. Namun, kala itu dia tengah sibuk menyiapkan bumbu makanan yang akan dijual untuk berbuka puasa. Di luar, dia mendengar suara riuh yang semakin jelas. Nah, dia juga mencium aroma BBM. Ayu sempat cuek dengan suara ribut-ribut yang ada. Ditambah lagi setiap hari BBM eceran dari pertamini milik tetangganya itu kerap memenuhi area teras. 

Ia menyewa salah satu dari pintu ruko yang hangus. Dua pintu lainnya disewa Ambo yang menjual sembako dan BBM eceran serta bengkel. Namun, teriakan tetangganya itu semakin membuatnya cemas. “Takut keluar, tapi karena ramai akhirnya beranikan diri aja keluar, buka pintu (folding gate), kaget. Ternyata api sudah besar di pom mini itu,” ungkapnya. 

Perempuan 48 tahun itu lemas. Dia memanggil anaknya yang tidur di lantai dua. Suaminya pun berlari ke lantai dua, membangunkan anak gadisnya. “Anak saya masih tidur itu apinya sudah ke lantai dua,” imbuhnya dengan mata berkaca-kaca. Sayang, bersama suami dan anaknya tak sempat menyelamatkan barang apapun dari tempat tinggalnya tersebut. Dia melihat tetangganya (Ambo) bersama sang istri terduduk di median jalan. Kakinya terbakar. 

Di tengah kepanikan itu, dia masih bisa mendengar teriakan Rizky minta tolong. Namun, perlahan menghilang. Dia dan tetangganya itu menangis histeris. Petugas pemadam yang tiba langsung berusaha menjinakkan si jago merah. Namun, suara Rizky tak lagi terdengar. Disdamkar menggunakan cairan foam atau busa untuk menangani api yang terus membesar karena ceceran BBM.

"Pemadam datang suara Rizky enggak kedengaran lagi. Ternyata benar dia (Rizky) di dalam kamar, tapi sudah meninggal," ucap Ayu.

 

Dia meminta bersama warga setempat, agar Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim dapat menertibkan pom mini. "Untungnya buat pemilik pertamini, kalau sudah ada kejadian kan rugi, nyawa hilang. Tolong hilangkan (pertamini). Kami takut," jelasnya. (dra2/k8)

Editor : Indra Zakaria
#samarinda