SAMARINDA–Kebakaran di Jalan HM Ardans, Kelurahan Sempaja Barat, Kecamatan Samarinda Utara, Sabtu (16/3) lalu, menjadikan pilu bagi keluarga Ambo, penghuni rumah toko (ruko) dua lantai yang membuka warung kelontongan dan bengkel. Peristiwa tragi situ merenggut nyawa anaknya, Rizky Aditya Putra (22), yang ditemukan tak bernyawa di dalam kamar di lantai dua.
Hingga kemarin (20/3), garis polisi yang juga melapisi terpal biru, masih menutup lokasi kebakaran di ruko dua lantai tersebut. Polisi tengah melakukan penyelidikan mendalam. Mencari tahu penyebab dan mulanya kemunculan titik api yang membakar bangunan tersebut. Guna mendapatkan titik terang, Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri bakal segera datang ke lokasi kejadian.
“Kalau kami sudah memeriksa saksi-saksi yang ada, kami lagi tunggu Tim Labfor. Jadi biar sama-sama tahu sebenarnya asal api itu dari mana sih sampai bisa terjadinya kebakaran,” tegas Kapolresta Samarinda Kombes Pol Ary Fadli. Kedatangan tim labfor dari Mabes Polri itu diminta secepatnya untuk datang memeriksa tempat kejadian. “Waktu itu sih bilangnya tiga hari setelah diajukan bakal datang. Tapi nanti coba saya pastikan lagi ke Kapolsek (Sungai Pinang),” sambungnya.
Ihwal saksi yang diperiksa, sudah ada enam orang. Mulai yang melihat kejadian baik yang tinggal di depan maupun di samping-samping lokasi hingga pihak-pihak terkait lainnya. “Kalau tersangka belum lah. Jadi harus ditelusuri lebih dalam dulu, apa penyebabnya, pemicunya, dan lain-lain,” tegasnya.
Sementara itu, Sebelumnya, seorang saksi mata peristiwa di Jalan HM Ardans, Ayu, bercerita, dia sempat mendengar tetangganya (Rizky) berteriak minta tolong. Dia tak mengingat waktu teriakan tersebut. Namun, kala itu dia tengah sibuk menyiapkan bumbu makanan yang akan dijual untuk berbuka puasa. Di luar, dia mendengar suara riuh yang semakin jelas. Nah, dia juga mencium aroma BBM. Ayu sempat cuek dengan suara ribut-ribut yang ada. Ditambah lagi setiap hari BBM eceran dari pertamini milik tetangganya itu kerap memenuhi area teras.
Ia menyewa salah satu dari pintu ruko yang hangus. Dua pintu lainnya disewa Ambo yang menjual sembako dan BBM eceran serta bengkel. Namun, teriakan tetangganya itu semakin membuatnya cemas. “Takut keluar, tapi karena ramai akhirnya beranikan diri aja keluar, buka pintu (folding gate), kaget. Ternyata api sudah besar di pom mini itu,” ungkapnya.
Perempuan 48 tahun itu lemas. Dia memanggil anaknya yang tidur di lantai dua. Suaminya pun berlari ke lantai dua, membangunkan anak gadisnya. “Anak saya masih tidur itu apinya sudah ke lantai dua,” imbuhnya dengan mata berkaca-kaca. Sayang, bersama suami dan anaknya tak sempat menyelamatkan barang apapun dari tempat tinggalnya tersebut. Dia melihat tetangganya (Ambo) bersama sang istri terduduk di median jalan. Kakinya terbakar.
Di tengah kepanikan itu, dia masih bisa mendengar teriakan Rizky minta tolong. Namun, perlahan menghilang. Dia dan tetangganya itu menangis histeris. Petugas pemadam yang tiba langsung berusaha menjinakkan si jago merah. Namun, suara Rizky tak lagi terdengar. Disdamkar menggunakan cairan foam atau busa untuk menangani api yang terus membesar karena ceceran BBM.
"Pemadam datang suara Rizky enggak kedengaran lagi. Ternyata benar dia (Rizky) di dalam kamar, tapi sudah meninggal," ucap Ayu.
Dia meminta bersama warga setempat, agar Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim dapat menertibkan pom mini. "Untungnya buat pemilik pertamini, kalau sudah ada kejadian kan rugi, nyawa hilang. Tolong hilangkan (pertamini). Kami takut," jelasnya. (dra2/k8)
Editor : Indra Zakaria