Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Berburu Hiburan Libur Lebaran di Kaltim, Masih Banyak yang Harus Dibenahi

Muhammad Ridhuan • 2024-04-15 11:15:00

M RIDHUAN/KP

MASIH PRIMADONA: Suasana Pantai Segara Sari Manggar di H+3 Idulfitri yang dipenuhi wisatawan asal Balikpapan maupun berbagai kota sekitar.
MASIH PRIMADONA: Suasana Pantai Segara Sari Manggar di H+3 Idulfitri yang dipenuhi wisatawan asal Balikpapan maupun berbagai kota sekitar.
 

Pariwisata jadi andalan pemerintah daerah meningkatkan pendapatan saat musim libur Lebaran. Sejumlah daerah di Kaltim pun berbenah untuk menyiapkan itu.

 

LALU lintas di Jalan Mulawarman, Balikpapan Timur dua hari lalu tidak seperti biasa. Terlihat lebih padat terutama saat siang menjelang sore. Baik roda dua maupun roda empat ke atas bergerak perlahan. Momen libur Lebaran ditengarai jadi salah satu penyebab. Banyak warga dari berbagai kota menyerbu lokasi wisata di kawasan Manggar.

Salah satu pantai yang masih menjadi primadona warga Balikpapan dan sekitarnya adalah Pantai Manggar. Memiliki lahan seluas 13 ribu meter persegi, destinasi di bawah naungan Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan itu sejak hari pertama Lebaran sudah dipadati pengunjung.

Salah satunya, yakni Ira bersama keluarganya. Warga Samarinda tersebut mengaku berwisata ke Pantai Manggar merupakan agenda rutin setiap tahun saat momen libur Idulfitri. Bagi Ira, wisata ke pantai merupakan pilihan yang paling mudah dan hemat. Sekaligus merasakan suasana yang berbeda dari biasanya.

“Terakhir tahun lalu ke sini. Saya melihat Pantai Manggar sudah agak lumayan bagus. Dari akses dan parkir juga sudah tertata rapi. Terus sudah ada petunjuk batas dibolehkan berenang,” ungkap Ira, Jumat (12/4).

Soal makanan, menurutnya sudah cukup beragam. Harga pun, kata Ira, tidak memberatkan kantong. Mencari lokasi duduk bersama keluarga juga mudah. Meski begitu, karena tidak membawa alas, dirinya harus menyewa terpal Rp 50 ribu. “Ya, kalau mau hemat bawa alas sendiri ya,” sebutnya.

Soal tarif masuk, Ira dan sejumlah pengunjung yang ditemui Kaltim Post menyebut cukup memberatkan. Meski lebih murah dibandingkan ke lokasi wisata lain yang dikelola swasta, namun kenaikan tarif baru cukup memberikan kejutan. Apalagi, bagi mereka yang membawa keluarga besar dengan menggunakan mobil. “Kalau bisa pengenaan tarifnya per kendaraan saja,” sarannya.

Namun, baginya yang terpenting adalah kebersihan. Untuk pantai sendiri menurutnya sudah lumayan bersih. Pengelola pun telah menyediakan banyak tong sampah. Tetapi di sejumlah titik, ada sampah berserakan akibat tempat sampah yang penuh. Cukup mengganggu kenyamanan. “Ya mungkin bisa ditambah lagi tempat sampahnya atau cepat dibersihkan,” imbuhnya.

Dari pantauan media ini di Pantai Manggar, dari sisi pintu masuk loket ada sejumlah petugas yang khusus terpisah melayani kendaraan roda dua dan roda empat. Begitu masuk area pantai, pengunjung pun langsung disambut dengan pemandangan keramaian wisatawan yang berlalu lalang. Di mana sepanjang jalan pantai, selain dipenuhi kendaraan parkir, juga pedagang yang menjual aneka makanan minuman dan aksesori.

Sayangnya, untuk kondisi jalan sebagian aspal sudah rusak. Sehingga, menimbulkan debu yang beterbangan ketika kendaraan melintas. 

Selain makanan dan aksesori, Pantai Manggar juga kini lebih banyak menawarkan wahana dan permainan untuk anak seperti istana balon. Di tepi pantai, juga disediakan penyewaan motor ATV. Sementara untuk menikmati laut, pengunjung bisa menyewa banana boat, jet ski, dan perahu untuk berkeliling.

TAMBAH FASILITAS

Sementara itu, Kepala UPTD Pantai Wisata Segara Sari Manggar Yusdi Linting menjelaskan, selama dua hari Idulfitri, sudah tercatat 10 ribu wisatawan mengunjungi Pantai Manggar. Angka itu akan semakin meningkat hingga puncak kunjungan pada Sabtu dan Minggu (13-14/4).

Angka sementara ini, kata dia, diharapkan bisa melebihi jumlah kunjungan pada Idulfitri tahun-tahun sebelumnya. “Kalau target, kami punya target tahunan dengan PAD (pendapatan asli daerah) untuk Pantai Manggar tahun ini Rp 6,5 miliar. Di mana kami pada punya target Rp 4,2 miliar dan terealisasi Rp 5,4 miliar,” ucapnya.

Peningkatan target ini juga berkaitan dengan penerapan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2023 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Perda itu mengatur tarif baru tiket masuk Pantai Manggar. Dengan rincian, masing-masing terjadi kenaikan Rp 5 ribu untuk pengunjung orang, baik anak-anak maupun dewasa.

“Kalau sebelumnya anak-anak Rp 5 ribu, sekarang Rp 10 ribu. Itu untuk weekday. Kalau weekend jadi Rp 15 ribu. Untuk dewasa jika sebelumnya Rp 10 ribu sekarang Rp 15 ribu untuk weekday. Kalau weekend Rp 20 ribu. Belum termasuk kendaraan. Motor Rp 5 ribu, roda empat Rp 15 ribu, dan roda enam Rp 30 ribu,” beber Yusdi.

Dengan tarif baru tersebut, pengelola disebutnya sudah meningkatkan sejumlah fasilitas. Mulai digratiskan pelayanan publik seperti toilet atau kamar mandi. Kemudian, ditambahkannya arena bermain anak. Untuk memecah konsentrasi kepadatan antara pengunjung di pantai dan di darat.

“Kami juga saat ini memiliki bangunan pemecah ombak. Tidak hanya untuk mengantisipasi abrasi, juga jadi lokasi pengunjung untuk melihat pemandangan laut secara lebih terbuka,” ujarnya.

Adapun kendala yang dihadapi pengelola selama puncak kunjungan adalah ketersediaan air bersih untuk keperluan kamar mandi pengunjung. Disebut Yusdi, terutama saat musim libur Lebaran, pemakaian terhadap air bersih meningkat drastis. Sementara, pasokan yang tersedia dari PDAM dan air sumur cenderung terbatas. Jika darurat, pihaknya terpaksa meminta bantuan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan untuk penyediaan air bersih.

“Makanya kami terus mengingatkan pengunjung untuk bijak menggunakan air. Terus kami umumkan lewat pengeras suara. Petugas sering turun langsung mengawasi kamar mandi. Termasuk saya yang sering mematikan keran yang ditinggalkan terbuka setelah ditinggalkan pengunjung,” bebernya.

Adapun soal polemik harga makanan di Pantai Manggar yang sempat viral beberapa waktu lalu, Yusdi juga berusaha menanganinya. Kata dia, yang secara langsung mendapat pengakuan dari pedagang apa yang dituduhkan pengunjung melalui media sosial tidak sepenuhnya benar. Tetapi, dirinya belum bisa mengambil kesimpulan karena tidak berhasil memediasi kedua belah pihak secara langsung.

“Dari kejadian tersebut, kami sudah memberikan imbauan kepada pedagang untuk memasang harga makanan. Itu sebagian besar sudah dilakukan pedagang. Di sisi lain, kami juga mengimbau pengunjung untuk bertanya lebih dulu soal harga,” ungkapnya.

Soal kuliner, Yusdi mengaku sejauh ini dari sisi harga sudah cukup terjangkau. Pilihannya pun beragam. Terkini dirinya mengajak banyak pelaku usaha di sekitar untuk menyediakan makanan kekinian. Untuk menambah kelengkapan fasilitas, pengelola juga menyiapkan vila ke pengunjung yang ingin menginap. “Ke depan, kami juga akan menyiapkan mobil wisata. Jadi dari pantai, pengunjung bisa berkeliling ke destinasi wisata lain di Manggar khususnya yang dikelola masyarakat,” ujarnya.

PERLU INVESTOR

Meningkatnya kunjungan wisata di Kaltim selama libur Lebaran didominasi oleh wisatawan domestik. Dengan tren yang cenderung meningkat setiap tahun setelah pandemi Covid-19, banyak lokasi wisata dituntut untuk meningkatkan pelayanan dan fasilitasnya.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Balikpapan Joko Purwanto menyebut, Kota Minyak saat ini menjadi salah satu kota terdampak pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Magnet IKN menjadikan kota ini harus melakukan antisipasi terhadap destinasi wisata untuk dikunjungi.

“Harus menyediakan destinasi wisata yang lebih menarik. Karena wisatawan domestik di Balikpapan ini kebanyakan adalah pekerja yang selain mudik saat Lebaran, juga banyak yang menghabiskan liburannya ke tempat wisata sekitar yang mudah diakses,” ungkap Joko, Jumat (12/4).

Sayangnya, di luar wisata pantai yang sudah eksis, Balikpapan belum mampu memaksimalkan lokasi wisata lain yang berpotensi meningkatkan nilai jual Balikpapan sebagai destinasi wisata laut. Salah satu yang menjadi konsennya adalah Pulau Balabalagan.

Di mana, pulau yang masuk ke wilayah administrasi Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat tersebut sejak lama diminati tidak hanya turis lokal, namun juga dari mancanegara.

“Pulau Balabalagan ini bisa menjadi titik wisata yang memengaruhi kemajuan wisata di Kaltim khususnya Balikpapan sebagai akses menuju pulau tersebut. Sayangnya, akses transportasi ke sana sampai hari ini belum ada yang dikelola dengan baik. Perlu ada investasi yang masuk ke sana,” jelasnya.

Dirinya yakin, jika ada pelaku usaha yang masuk menyediakan transportasi seperti kapal cepat ke Pulau Balabalagan, maka akan menjadi bisnis yang menguntungkan. Mengenai persoalan wilayah, baginya pengembangan pariwisata tidak mengenal sekat wilayah. Pemerintah pun bisa membangun kerja sama yang baik untuk membangun kawasan wisata tersebut.

“Persoalan utama kemajuan sebuah daerah yang ingin mengembangkan pariwisata adalah akses. Ketika akses itu sudah terbuka dan mudah, maka percaya akan semakin banyak wisatawan yang datang,” ucapnya,

Joko juga menyinggung masih terbatasnya perhatian pemerintah terhadap lokasi wisata seharusnya bisa ditutupi lewat kerja sama dengan perusahaan atau investor. Salah satunya termasuk di Kebun Raya Balikpapan. Menurutnya, lokasi itu sangat berpotensi tinggi menjadi destinasi unggulan jika menggandeng swasta.

“Kebun Raya Balikpapan itu potensinya tinggi namun pengelolaannya masih setengah-setengah. Kalau bisa kerja sama dengan investor. Kalau berharap pemerintah saja ya tidak bisa maju. Di sana bisa dibuat seperti kebun binatang untuk satwa khas Kalimantan seperti dibuatkan pulau-pulau kecil dan binatangnya bisa bebas,” ujarnya. (rom/k15)

 

Peliput:

M RIDHUAN

mad.dhuan@gmail.com

 

Editor : Indra Zakaria
#manggar #wisata