DLH dan Lingdaka Peringatkan Dampak Limbah Minyak terhadap Ekosistem
Mirwan Hidayat• 2024-05-31 14:25:00
PENCEMARAN LINGKUNGAN: Limbah minyak yang mengalir di kawasan Mangrove Margasari, Balikpapan, Jumat (24/5/2024) lalu. IST.
Prokal.co - Limbah hitam yang mencemari perairan di kawasan perumahan atas air Kelurahan Margasari, Balikpapan, pada Jumat (24/5/2024) lalu, dinyatakan sebagai hasil kelalaian Kilang Pertamina Internasional (KPI) Kota Balikpapan.
Hal tersebut seperti diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, Rabu (30/5/2024).
Menurut Sudirman, meskipun Pertamina telah melakukan penanganan terhadap tumpahan minyak tersebut, pihaknya tetap akan memanggil mereka untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
"Kami telah mendapatkan konfirmasi tadi malam, memang ada semacam keteledoran atau kelalaian dari pihak Pertamina. Namun, pihak Pertamina telah melakukan penanganan," terangnya.
Dalam hal ini, DLH menekankan pentingnya monitoring berkelanjutan terhadap dampak lingkungan, khususnya pada tanaman mangrove di kawasan tersebut. "Di kawasan itu terdapat tanaman bakau atau mangrove.
Kita tidak tahu apakah tanaman mangrove ini nantinya akan tetap tumbuh atau mati akibat limbah minyak tersebut. Jadi pihak Pertamina harus tetap melakukan monitoring. Kalau sampai tanaman itu mati, mereka harus bertanggungjawab," tegas Sudirman.
Harapan DLH, nantinya dalam pertemuan pihaknya dengan Pertamina, dapat menghasilkan rekomendasi pertanggungjawaban yang jelas untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.
"Mudah-mudahan nanti ada semacam rekomendasi pertanggungjawaban agar itu tidak terjadi lagi. Kemudian, kalau ada imbas dari efek lanjutan itu, mereka harus bertanggungjawab," tandasnya.
Sementara itu, Ketua LSM Lingkar Daya Konservasi Alam (Lingdaka), Imam Mutaji turut memberikan komentarnya mengenai bahaya pencemaran limbah minyak terhadap ekosistem laut, termasuk mangrove.
"Pencemaran minyak di perairan dapat memiliki dampak yang sangat merusak terhadap ekosistem laut. Mangrove, yang merupakan habitat penting bagi banyak spesies, sangat rentan terhadap pencemaran ini. Limbah minyak dapat menghambat kemampuan mangrove untuk bertahan hidup, yang pada gilirannya mengancam keseimbangan ekosistem lokal," jelas Imam.
Lebih lanjut, Imam menekankan bahwa mangrove berperan penting dalam melindungi garis pantai dari erosi dan menyediakan tempat berlindung bagi banyak makhluk laut.
"Kerusakan pada mangrove akibat limbah minyak dapat menyebabkan kerugian ekologi yang signifikan dan mempengaruhi mata pencaharian masyarakat setempat yang bergantung pada sumber daya laut," tambahnya.
Selain itu, Imam juga menyoroti bahwa pencemaran limbah minyak ini bisa berdampak serius pada kualitas air.
"Pencemaran ini bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga dapat menurunkan baku mutu air di wilayah tersebut.
Penurunan kualitas air akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.
Air yang terkontaminasi minyak bisa mengandung bahan-bahan berbahaya yang sulit diuraikan, sehingga meningkatkan risiko kesehatan bagi manusia dan hewan," pungkasnya. (day/cal)