Kesetiaan di dunia literasi itu berbuah penghargaan. Sebagai ganjaran atas karya-karya kesustraan yang dilahirkan secara berkesinambungan di Benua Etam.
ROBAYU, Samarinda
Pertengahan Februari 2024, Syafruddin Pernyata mendapat permintaan dari Kantor Bahasa Kaltim untuk mengisi sebuah portofolio digital dari Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Permintaan serupa sebenarnya sudah tiga kali diterimanya pada tahun-tahun sebelumnya.
Namun baru kali itu dia akhirnya menetapkan niat mengisi formulir itu. “Maklum Baby Boomer, jadi kurang familiar dengan konsep digital begitu. Malas mengisinya,” ucapnya di wawancara Kaltim Post lewat seluler, Senin (24/6).
Formulir digital itu wajib diisi data diri dan beberapa karya yang pernah ditulisnya. Untungnya, formulir itu boleh membubuhkan karya yang sudah terbit di media massa, baik cetak ataupun daring, sehingga bahan-bahan yang menjadi persyaratan mudah ditelusurinya di internet. “Itu pun dibantu anakku mengisinya,” sambungnya.
Sepekan lalu, baru diketahuinya jika formulir permintaan Kantor Bahasa Kaltim itu merupakan penjaringan sastrawan yang telah berkarya selama 40 tahun se-Indonesia. Total ada 56 sastrawan lain se-Indonesia yang mendapat penghargaan tersebut. Selain Pernyata, ada sastrawan lain dari Kaltim yang juga mendapat penghargaan tersebut, yakni Sunaryo Broto. “Mungkin menang tuha aja aku ini, makanya dipilih,” kelakar pria kelahiran Loa Tebu, Tenggarong, Kutai Kartanegara pada 28 Agustus 1958 silam.
Pensiunan birokrat itu pun tengah berada ke Jakarta untuk mendapat pembekalan dari Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra ketika diwawancarai awak media ini kemarin. Sepanjang berkecimpung di kesusastraan Kaltim, Syafruddin telah membukukan beberapa karya, dari kumpulan puisi, buku motivasi, hingga novel-novel semacam Nanang Tangguh dan Galuh Intan serta Aku Mencintaimu Shanyuan.
Pergelutannya di dunia membatik kata sudah ditempuh sejak dirinya masih berkuliah di Universitas Mulawarman pada 1976 silam dengan mengelola majalah dinding kampus. Setahun beralmamater, Syafruddin menjabat sebagai pemimpin redaksi (pemred) media kampus, Al Manar.
Jurnalistik yang digelutinya pun makin matang ketika dirinya menjabat pemred di Surat kabar Sampe (1978-1999) dan menjadi koresponden Harian Angkatan Bersenjata (1982-1987).
Menurut Pernyata, literasi di Kaltim saat ini sudah tumbuh cukup baik berkat jagat maya. Lewat beberapa platform digital, para penulis muda di Benua Etam bermunculan. Terlebih selama ini dia aktif terlibat dalam gerakan literasi. Salah satunya Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB). Bahkan dia kembali terpilih untuk memimpin organisasi tersebut pada 2023 lalu.
Soal gaya tulisan, banyak penulis muda yang mengikuti kata slang dalam karya-karyanya dan itu merupakan hal lumrah baginya. Alasannya, setiap zaman memiliki kata yang menggambarkan eranya. “Kalau saya nulis pakai bahasa sederhana saja. Yang bisa dipahami semua segmen usia. Kelemahan kata-kata kekinian itu, ya, tak bisa menyentuh seluruh kategori usia pembaca. Tapi yang begitu wajar saja, toh semua bergantung selera masing-masing pembaca,” tuturnya.
Lewat beberapa platform digital yang kini menjamur, banyak penulis muda yang bisa lebih mudah mempublikasikan tulisannya. Bahkan, sambung dia, tulisan-tulisan itu bisa menghasilkan uang yang lebih mudah atas karya-karya yang sudah dihasilkan para penulis.
Berbeda dengan beberapa dekade lalu, untuk menerbitkan sebuah karya tulis menjadi sebuah buku perlu ongkos besar untuk produksi. “Kaltim itu berlimpah penulis baru, banyak yang bagus-bagus. Tinggal merawat konsistensi mereka saja. Literasi Kaltim pasti tumbuh,” katanya mengakhiri.
Selain Pernyata, sastrawan Kaltim lainnya yang diganjar penghargaan atas kesetiaan melahirkan karya berdekade-dekade dalam kesustraan Bumi Etam adalah Sunaryo Broto. Nama terakhir mengaku namanya masuk dalam daftar penerima penghargaan penguatan komunitas sastra tersebut berasal dari usulan Kantor Bahasa Kaltim.
“Dari usulan itu, buat esai kumpulkan karya seperti puisi, cerpen, novel yang sempat dimuat di berbagai media massa dan terpilih jadi satu dari 56 sastrawan yang menerima,” ungkapnya dihubungi, Senin (24/6).
Apresiasi Kemendikbudristek ini, lanjut Broto, bisa menjadi titik awal membangkitkan kembali gairah sastra di Kaltim. Dalam pandangannya, meski terus tumbuh dan mengalami regenerasi yang baik, kesusastraan Kaltim belum memiliki wadah apresiasi yang bisa merekatkan kebersamaan para pecinta sastra. “Seperti jalan sendiri-sendiri antar individu atau komunitas. Tetap berkarya terus di daerahnya masing-masing,” tuturnya.
Sebab itu, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan untuk memberikan ruang bagi para pecinta sastra tumbuh di Bumi Etam. Kaltim, saat ini belum memiliki lembaga atau panitia yang rutin menyelenggarakan festival yang bisa merangkul kebersamaan para pecinta sastra seperti Aruh Sastra yang ada di Kalimantan Selatan.
Memang kegiatan serupa sempat ada namun tak rutin terselenggara. Selain itu, ruang publikasi karya pun belum masif tersedia. “Pemuatan sastra di Kaltim Post itu sudah bagus. Tapi belum masih diikuti media lain,” sebutnya.
Di sisi lain, kata dia, Rumah Sastra Korrie Layun Rampan, sastrawan nasional asal Kaltim belum ada yang melanjutkan. Sunaryo Broto memiliki jalan yang unik menjadi sastrawan. Lulusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1991 dan meraih gelar Magister Manajemen dari Universitas Mulawarman (2005) itu sempat bekerja di PT Pupuk Kaltim sejak 1992 dan pensiun April 2021 lalu.
Minat Sunaryo terhadap dunia sastra telah tumbuh sejak masa kuliah. Ia pernah menjadi pengurus Majalah Mahasiswa Universitas Gajah Mada, Balairung (1986-1987) dan mendirikan Majalah Mahasiswa Teknik Kimia UGM, Entropi (1987).
Sebagai sastrawan, Sunaryo telah menghasilkan berbagai karya yang meliputi puisi, cerpen, esai, dan catatan perjalanan. Beberapa karyanya yang telah dibukukan antara lain “Catatan Haji Sebuah Hati” (2007), “Tentang Waktu” (kumpulan puisi, 2010), “Pertemuan di Kebun Raya” (kumpulan cerpen, 2010), dan “Perjumpaan di Candi Prambanan” (kumpulan cerpen, 2016).
Karya-karya Sunaryo telah mendapat pengakuan di tingkat nasional. Namanya tercantum dalam buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” terbitan Yayasan Hari Puisi Jakarta 2017. Ia juga pernah menjadi juara 2 Lomba Penulisan Outobiografi Pelaku Sastra di Kaltim dan Kaltara (2018), serta mendapat nominasi Tokoh Kebahasaan 2019 Kategori Penggiat Literasi Kaltim-Kaltara. (dwi)
Editor : Indra Zakaria