Dampak antrean panjang kendaraan pengetap yang sudah standby di pintu masuk SPBU itupun dirasakan warga sekitar yang juga ingin mengisi bahan bakar.
"Ya kami yang berkorban kalau mau cepat. Terpaksa beli eceran. Percuma tinggal dekat SPBU kalau yang antre mobil dan motornya itu-itu saja sampai kami hafal," keluhnya. Hal senada juga dikatakan Anto (40), yang hampir tidak pernah membeli Pertalite di SPBU dekat rumahnya itu.
"Dulu sebelum ada yang begitu (mengetap, Red) saya beli bensin (pertalite, Red) di SPBU untuk isi tangki mesin kapal. Sekarang susah harus nunggu antrean panjang, sedangkan saya harus cepat antar orang kapal ke kapal," jelas Anto.
Aktivitas pengetap yang sudah mulai meresahkan itu bagi Suhaimi dan Anto harus cepat diberangus, karena sudah sangat mengganggu.
"Kalau terus begini ya mereka (pegetap, Red) itu saja yang menghabiskan bensin," geram keduanya. Keluh kesah warga Loa Ranten itu tak lepas dari peristiwa terbakarnya satu unit mobil jenis mini bus Toyota Avanza warna toska dengan nopol KT 1206 NC di SPBU Loa Ranten, Minggu siang (14/7) lalu.
Peristiwa itu kontan membuat warga sekitar heboh hingga keluar rumah dan menjauh dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Setelah api berhasil dipadamkan, kejadian yang kabarnya menyebabkan pengemudi mobil luka bakar hingga langsung dilarikan ke Puskesmas Trauma Center, Sengkotek itupun kemudian diselidiki Polsek Loa Janan.
Sementara itu kembali dikonfirmasi terkait penelidikan kasus terbakarnya mobil tersebut, Senin (15/7). Kapolsek Loa Janan, AKP Iswanto, melalui Kanit Reskrim Ipda Dwi Andon melalui pesan WhatsApp menyampaikan bahwa penyelidikan kasus itu diambil alih Polres Kukar. "Untuk yang menangani Polres. Bisa ditanyakan ke Polres. Mohon maaf," tulisnya. (oke/nha)