Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Anggaran Naik Rp 100 Miliar, Pasar Pagi Ditambah Jadi Enam Lantai

Redaksi Sapos • 2024-08-25 10:00:00
ENAM LANTAI. Proses pembangunan ulang Pasar Pagi Samarinda yang kini direncanakan memiliki enam lantai, dengan anggaran yang meningkat menjadi Rp 450 miliar.
ENAM LANTAI. Proses pembangunan ulang Pasar Pagi Samarinda yang kini direncanakan memiliki enam lantai, dengan anggaran yang meningkat menjadi Rp 450 miliar.

 

Pembangunan ulang Pasar Pagi Samarinda mengalami perubahan signifikan dengan penambahan jumlah lantai dari lima menjadi enam lantai. Perubahan ini juga menyebabkan peningkatan anggaran proyek yang semula diperkirakan sebesar Rp 375 miliar kini naik menjadi Rp 450 miliar.

Akibat dari perubahan ini, sebanyak 2.856 pedagang harus direlokasi sementara ke los-los di Segiri Grosir dan Mall Mesra. Selain itu, Pemkot Samarinda memutuskan untuk mengganti bahan konstruksi utama dari beton cor menjadi baja demi mempercepat penyelesaian proyek.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy, menjelaskan bahwa setiap lantai pasar akan memiliki fungsi yang berbeda untuk menampung berbagai jenis pedagang.

Lantai dasar akan difungsikan sebagai area parkir, sementara lantai-lantai lainnya akan digunakan untuk pedagang basah, pakaian, perhiasan, hingga grosir. Selain fokus pada penyelesaian bangunan, proyek ini juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) di sekitar area pasar akan dipertahankan, dan sungai yang berada di bawah pasar tidak akan ditutup. Desain bangunan juga dirancang tanpa pendingin udara (AC) untuk menekan biaya operasional, dengan jaminan sirkulasi udara yang baik agar kenyamanan tetap terjaga.

“Perubahan ini dilakukan demi mempercepat proses pembangunan dan memastikan proyek ini dapat diselesaikan lebih cepat,” ujar Marnabas. Rencana ini sejalan dengan visi Pemkot Samarinda untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan di pusat kota.

“Jika menggunakan AC, biaya operasional bisa melonjak terlalu tinggi, sementara kami ingin retribusi pedagang tetap terjangkau, yaitu hanya Rp 4 ribu,” pungkas Marnabas. (hun/beb)

 

 
 
Editor : Indra Zakaria