Oleh: M Huseni Labib
Pegawai Biro Adpim Setprov Kaltim
Kebetulan penulis ditakdirkan dari keluarga petani, lahir di kampung yang mayoritas penduduknya berprofesi petani. Sawah ladang mengitari desa. Jika tiba musim hujan, riuh suara kodok bersahu- sahutan, dan pagi-pagi petani sibuk pergi ke sawah. Pun saat kemarau, di saat cuaca panas, para petani tetap semangat bercocok tanam dengan pengairan air rawa dan sumur bor. Mereka menanam padi, jagung, dan sayuran. Sebagai ritual mulia untuk keberlangsungan kehidupan.
Masa itu, petani pernah menjadi profesi terhormat. Diberikan peran penting untuk membangun negeri dengan swasembada dan ketahanan pangan. Tak elok rasanya negeri seperti Indonesia. Dengan Bumi yang subur ini rakyatnya kekurangan, apalagi kelaparan karena pangan. Maka dulu, tak pernah ku dengar negara impor pangan. Beras, kedelai, sayuran, apalagi buah buahan. Di kampung dahulu tercukupi dengan kebutuhan sendiri. Hampir tak ada yang kesusahan. Mereka bangga, semangat menggarap sawah dan ladang turun-temurun.
Ada cerita, pernah terjadi obrolan di warung kopi di simpang desa. Terdengar suara serak serak orang tua, umurnya hampir 70 tahunan. Pak Sidiq, biasa ia dipanggil. Sambil menyeruput kopi berucap pada sohibnya. "Ingati saja, pekerjaan paling mulia di muka bumi itu petani". "Dan mungkin," masih melanjutkan kata katanya, "Nanti salah satu golongan yang masuk surga duluan di antaranya adalah para petani". Sambil tersenyum ia berkelakar tentang ahli surga.
Ia meyakinkan, dengan pengalaman hidup, dan pengamatan semua pekerjaan yang pernah dilihat. Sepertinya ia percaya betul akan hal itu. Ia iman maksimal tentang sumbangsih dan peran petani bagi kehidupan manusia. Bayangkan, jika tak ada seorang pun manusia yang bercocok tanam. Bisa di pastikan tragedi "kaliren" kemanusiaan akan terjadi, manusia lemas akhirnya mati.
Tapi itu dulu, lain sekarang. Saat ini masyarakat beranjak berubah. Petani makin lama makin terimpit, tergerus zaman. "Banyak sawah ladang menyempit, sawah ditanami gedung dan gudang". Mengutip lirik lagu Nasida Ria. Maka jangan salahkan kita sekarang krisis regenerasi petani, karena petani dicap sebagai profesi yang tak lagi menarik, tidak menguntungkan, masuk dalam kelas bawah. Tak lagi memberi kesejahteraan dan harapan untuk masa depan. Kalaupun itu ada, hanya sepersekian persen dari jutaan petani di Indonesia.
Maka tak heran. Untuk menarik semangat bertani kembali, terutama kalangan muda, generasi milenial. Pemerintah hari ini terus menyampaikan kampanye, memberikan berbagai "iming-iming" pendulum. Dari subsidi pupuk, hibah alat mesin, pemangkasan biaya produksi, pelatihan, sampai garansi untuk membeli hasil pertanian dengan harga menarik.
Puncaknya beberapa waktu lalu, statemen menteri pertanian disalahpahami oleh khalayak tentang pemberian gaji Rp 10 juta kepada petani milenial yang mau menekuni pertanian. Tentu ini bukan memberikan uang cast tanpa syarat seperti gaji bulanan. Dan akhirnya ucapan sang menteri itu diklarifikasi.
Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian Idha Widi Arsanti mengatakan, sejatinya itu bukan gaji. Angka Rp 10 juta itu merupakan potensi pendapatan. Potensi dihitung dari swakelola bagi hasil antara lapangan usaha dan petani baik dari sisi pendapatan produksi maupun hasil jual yang mencapai Rp 6.000 per kilogram gabah kering giling.
Itulah kondisi kita, kondisi yang tercipta karena antara sejarah dan kenyataan sekarang tak berkesesuaian. Realita tak cukup canggih menghadirkan bukti masa depan pertanian di negeri ini secara baik. Petani lokal merasa dianaktirikan, dipinggirkan. Dikalahkan kaum pemodal dengan cara instan melakukan impor. Dimanfaatkan para makelar perdagangan yang terlalu bebas mengatur pasar. Satu sisi budaya dan teknologi pertanian modern tak kunjung diurus dengan baik dan komprehensif, malah terkesan makin terseok-seok di lapangan.
Bumi membutuhkan lebih banyak pasokan makanan. Di tengah dunia kontemporer mewanti akan krisis kelaparan dan pangan dunia akibat goncangan ekonomi, konflik keamanan dan cuaca ekstrem. Di sisi lain pola hidup manusia yang konsumtif. Boros pada berbagai jenis makanan menyumbang "kegalauan" atas kebutuhan hasil pertanian.
Fase krisis dan kekhawatiran tersebut dimaklumi. Karena semakin ke sini kian mahalnya bahan pangan dunia. Belum lagi ancaman perubahan iklim, yang diramalkan organisasi pangan dan pertanian dunia, FAO, lebih dari 500 juta petani skala kecil yang memproduksi 80 persen dari stok pangan dunia akan paling rentan terhadap perubahan iklim. Maka tersebab itu, jalan satu-satunya adalah dengan saintifik dan teknologi yang mumpuni dan adaptif.
Teknologi pertanian modern sebenarnya tak susah amat diterapkan, apalagi dengan kemampuan SDM anak bangsa yang luar biasa. Belajar dari negara negara produksi pertanian yang berhasil dan surplus. Yang secara ekonomi selevel dengan kita. Sesungguhnya menggarap sektor pertanian harus dimulai dari awareness pemerintah, selanjutnya diikuti langkah radikal. Dengan integritas dan profesionalitas di semua sektor pemangku kebijakan. Strategi, program, dan anggaran yang memadai juga menjadi kunci. Tapi bukan segalanya. Membangun semangat, pola pikir, budaya sekaligus pengetahuan para petani adalah prioritas.
Secara teori kita sudah khatam, membahas tentang kendala dan hambatan dalam memajukan sektor pertanian masa kini. Beratus jurnal pertanian disodorkan para ahli dari berbagai universitas ternama di Indonesia. Studi banding, studi tiru, bahkan kegiatan kekinian hari ini best practice sudah juga sering dilaksanakan. Tapi apa daya, tidaklah berdampak terlalu signifikan.
Pembangunan sejuta hektare lahan pertanian di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Kalimantan Tengah dan Papua Selatan menjadikan titik awal pemerintah melalui proyek strategis nasional membuka pintu swasembada pangan kembali. Meskipun menghadapi kritik dan penentangan dari berbagai pihak, terutama lembaga pemerhati lingkungan di negeri sendiri.
Tapi itu wajar, setidaknya menjadi suplemen dalam prosesnya. Produk pertanian selamanya akan menjadi sektor penting selama peradaban manusia eksis di muka bumi. Menjadi satu-satunya harapan terakhir kehidupan. Maka jika ada yang bermain-main dengan ini, bisa di pastikan ia telah berkhianat, mencoba membuat amunisi untuk memberangus humanitas.
Hari ini bukan saatnya lagi memberikan peluang bagi segelintir orang yang memanfaatkan pangan untuk keuntungan pribadi dan golongan. Tapi membuka selebar-lebarnya pertanian sebagai sektor pembangunan kerakyatan. Yang keuntungan dan kesejahteraan bisa dinikmati oleh rakyat dan berkontribusi pada negara.
Saatnya karpet merah dihamparkan pemerintah untuk mendukung petani Indonesia, mengubah takdir mereka dengan bekerja sama, menyokong, dan saling memberi modal bekal, dengan berbagai skema dan model pembangunan pertanian pro rakyat yang modern.
Bukankah nilai moralitas bertani, 14 abad lampau sesungguhnya juga pernah disuarakan dari padang gurun. Jejak nubuat tentang keutamaan pertanian dan semangat menanam pepohonan. "Tak seorang pun muslim yang menanam pohon atau menabur benih tanaman, lalu (setelah ia tumbuh) dimakan oleh burung, manusia, atau hewan lainnya, kecuali akan menjadi sedekah baginya" [HR. Bukhari]. (dwi)
Editor : Indra Zakaria