Peristiwa meninggalnya seorang wisatawan asing saat melakukan penyelaman (diving) di kawasan wisata Pulau Kakaban, Kecamatan Maratua, mengundang perhatian serius dari berbagai kalangan, termasuk Anggota DPRD Kaltim, Makmur HAPK.
Politisi senior dari daerah pemilihan Berau, Kutai Timur, dan Bontang itu menilai insiden tersebut harus menjadi momentum evaluasi total dalam pengelolaan sektor pariwisata, khususnya yang menyangkut keselamatan dan keamanan wisatawan.
Makmur mengungkapkan keprihatinannya terhadap kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa semacam ini sangat disayangkan. Apalagi saat Kabupaten Berau tengah gencar mempromosikan potensi wisata bahari yang dimiliki, serta keindahan bawah lautnya.
“Ini tentu harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Jangan sampai kerja keras Pemkab Berau dalam mempromosikan pariwisata justru tercoreng oleh insiden yang seharusnya bisa dicegah,” ujarnya kepada Berau Post Senin (5/5).
Bupati periode 2005-2015, itu juga menyarankan agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terlibat langsung dalam pengelolaan objek wisata dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, segera mengambil langkah nyata.
Salah satu langkah yang dinilainya paling mendesak adalah pemasangan rambu-rambu larangan, plang imbauan, dan papan informasi di seluruh objek wisata, terutama yang memiliki risiko tinggi seperti lokasi penyelaman dan wisata bahari lainnya.
“Kalau kita lihat di daerah lain, setiap objek wisata sudah dilengkapi papan informasi, baik itu larangan, imbauan, sampai panduan keselamatan. Tapi di Berau saya melihat itu masih sangat minim. Ini kelemahan yang harus segera diperbaiki,” ujarnya.
Makmur juga menyoroti meski pemandu wisata sudah sering kali melakukan imbauan sesuai dengan Standar Oprasional Prosedur (SOP). Menurutnya, memang tidak sedikit wisatawan terkadang abay dengan panduan yang diberikan oleh pemandu wisata tersebut.
“Tetapi itulah tantangannya sebagai pemandu wisata, jangan tersinging apalagi acuh karena tidak didengar. Tetapi harus tetap terus memantau dan berikan imbauan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tuturnya.
Untuk itu, Makmur meminta agar seluruh stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan pariwisata dan penanggulangan bencana di Kabupaten Berau duduk bersama untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
“Ini bukan hanya soal menjaga nama baik daerah, tapi juga soal nyawa manusia. Kalau wisatawan merasa aman dan nyaman, maka kepercayaan wisatawan terhadap Berau sebagai destinasi wisata akan terus meningkat,” ucapnya. Makmur pun berharap, kejadian di Pulau Kakaban ini menjadi yang terakhir dan tidak terulang lagi di masa mendatang.
Ia menegaskan, pariwisata bukan hanya soal promosi, tapi juga tanggung jawab dalam menjaga keselamatan setiap orang yang datang untuk menikmati keindahan alam Bumi Batiwakkal.
“Ke depan, saya ingin melihat setiap objek wisata di Berau dilengkapi dengan fasilitas keselamatan, papan imbauan, dan SOP yang jelas. Ini adalah investasi jangka panjang dalam membangun citra pariwisata yang profesional dan berkelanjutan,” tutupnya.
Terakit dengan hal itu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau akan menyusun adan menata titik jalur evakuasi.
Serta akan melakukan pemasangan papan petunjuk arah ke depan lokasi yang aman jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam serta imbauan kepada para wisatan. Kepala Pelaksana BPBD Berau, Masyhadi. Menurutnya bahwa saat ini pihaknya tengah menyusun beberapa program.
Guna menjamin keselamatan masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke wilayah objek wisata khususnya di pesisir selatan Berau. Dimana, menurutnya salah satu langkah yang diambil dengan memasang papan petunjuk serta imbauan bahaya agar wisatawan waspada akan bahaya yang terjadi seperti bencana alam seperti tsunami ataupun bahaya lainnya saat berlibur.
“Kami sedang memetakan jalur-jalur evakuasi di kawasan rawan, terutama di wilayah pesisir selatan yang kini menjadi destinasi wisata baru. Pemasangan papan petunjuk serta imbauan terkait dengan bahaya wisata menjadi langkah evakuasi dini,” ujarnya kepada awak media ini. (adv/dprdkaltim/bp)
Editor : Indra Zakaria