Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Lidi Satu Mudah Patah, Lidi Bersatu Kuat Tak Terkira; Kolaborasi Pertamina Hulu Mahakam Membangun Asa Anak-Anak Desa Sepatin Lanjutkan Pendidikan

Wawan • Jumat, 17 Oktober 2025 - 01:20 WIB

HARAPAN DAN SEMANGAT BARU: Kepala SMPN 6 Anggana bersama anak didiknya menggunakan speed boat untuk menuju desa lainnya (foto-foto: wawan lastiawan/prokal).
HARAPAN DAN SEMANGAT BARU: Kepala SMPN 6 Anggana bersama anak didiknya menggunakan speed boat untuk menuju desa lainnya (foto-foto: wawan lastiawan/prokal).
 

Seperti lidi yang rapuh bila berdiri sendiri, anak-anak pesisir di Desa Sepatin kini menemukan semangat baru kekuatan dalam kebersamaan. Di balik pesona pesisir Delta Mahakam, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) bersama pemerintah desa dan masyarakat hadir bersinergi membangun mimpi; Tak boleh ada cita-cita yang terhenti di desa pesisir, pendidikan tetap berlayar hingga ke pelabuhan masa depan.

 

Wawan Lastiawan, Balikpapan

 

Matahari pagi menyingkap sinarnya perlahan di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Cahayanya menari-nari di permukaan sungai yang tak pernah tenang. Suara burung pun tak henti bersahut-sahutan dengan suara mesin perahu kelotok.

Para laki-laki dewasa terlihat sibuk memperbaiki jala pancing. Sementara suara anak-anak sekolah memecah sunyi pagi. Di desa ujung Sungai Mahakam Kalimantan Timur menuju Selat Makassar ini, kehidupan berdenyut lembut. Sederhana, namun penuh makna dan cerita.

Inilah suasana di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Desanya masih asri. Pepohonan tumbuh subur di sisi kanan dan kiri. “Selamat datang di Desa Sepatin. Bagaimana perjalanannya, bapak-ibu?” ujar Hafidz, ramah. Hafidz pendamping rombongan Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Zona 8 dan media saat berkunjung ke Desa Sepatin, Selasa (14/10) pagi.

Hafidz (kiri) mendampingi Achmad Krisna dan menjelaskan banyak hal tentang desa pesisir.
Hafidz (kiri) mendampingi Achmad Krisna dan menjelaskan banyak hal tentang desa pesisir.

Hafidz sudah 14 tahun mengabdi di wilayah desa pesisir di Kecamatan Anggana. Ia juga pekerja Pertamina Hulu Mahakam yang menjabat sebagai Customer Relations Coordinator (CRC) Representative di site Delta Mahakam. Tugasnya representative di setiap lapangan milik PHM. Masing-masing lapangan ada satu orang. Hafidz fokus di wilayah desa pesisir.

Pagi itu, aktivitas warga Desa Sepatin sudah mulai. Kantor pelayanan pembantu milik pemerintah kabupaten juga mulai sibuk. Anak-anak sekolah berseragam SD dan SMP ramai berjalan kaki mengambin tas sekolah. Langkah mereka penuh hati-hati melintasi jembatan tua kayu ulin yang menjadi penghubung utama jalan desa selama ini.

Satu-satunya akses jembatan yang digunakan warga Desa Sepatin menuju sekolah terapung SMPN 6 Anggana. (foto: wawan lastiawan/prokal)
Satu-satunya akses jembatan yang digunakan warga Desa Sepatin menuju sekolah terapung SMPN 6 Anggana. (foto: wawan lastiawan/prokal)

Di sebuah desa di Kecamatan Anggana ini berdiri SMP negeri yang jauh dari hiruk pikuk kota. Sekolah ini dulunya sering merasa berjalan sendiri. Menghadapi keterbatasan listrik, sinyal, dan tenaga pengajar.

MENUJU DESA SEPATIN, JALUR “LABIRIN” DAN DIKEPUNG BUAYA

Desa Sepatin berada di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Desa ini salah satu desa-- dari enam desa pesisir-- yang berada di pesisir Delta Mahakam. Jumlah penduduk sekitar 1.000 orang. Mayoritas penduduk berasal dari Sulawesi. Delta Mahakam adalah kawasan delta yang terbentuk dari endapan sedimen di muara Sungai Mahakam dan Selat Makassar. Bentuk kawasan Delta Mahakam terlihat cantik jika dilihat dari peta google. Pulau-pulaunya menyerupai kipas. Di tengah paras cantiknya, daerah ini juga menyimpan kekayaan sumber daya alam minyak bumi dan gas alam.

Desa-desa pesisir yang ada di Delta Mahakam. Tampak cantik dari peta seperti kipas.
Desa-desa pesisir yang ada di Delta Mahakam. Tampak cantik dari peta seperti kipas.

Perjalanan menuju ke Desa Sepatin hanya bisa dilalui transportasi air. Tak ada jalur darat. Apalagi jalur udara. Lokasinya dekat dengan site unit kerja milik Pertamina Hulu Mahakam. Hari itu, wartawan media ini berangkat dari titik Dermaga Sungai Mariam, Anggana, Kukar. Kapal yang ditumpangi jenis speed boat dengan mesin Yamaha 200PK.

Dermaga perahu dan speed boat di Desa Sepatin.
Dermaga perahu dan speed boat di Desa Sepatin.

Harusnya rombongan menggunakan sea truck, transportasi yang sesuai dengan standar prosedur dari PHM. Namun karena sea truck memakan waktu lebih lama, maka rombongan menggunakan speed boat. Speed boat bermesin 200PK ini dari Dermaga Sungai Mariam hingga Desa Sepatin menempuh sekitar 1,5 jam. “Ini jauh lebih cepat dari menggunakan sea truck. Kalau pakai sea truck dan perahu biasa bisa sekitar 3 sampai 4 jam. Secara kapasitas mesin lebih besar sea truck. Hanya saja sea truck dibatasi kecepatannya karena banyak melintas perahu dan speed boat warga. Kami pekerja PHM sesuai SOP wajib menggunakan sea truck kalau mau menuju site Delta Mahakam maupun desa-desa di pesisir. Muster point dari dermaga khusus PHM di kawasan dekat Jembatan Mahkota 2 Samarinda,” jelas Hafidz.

Hamparan sepanjang Sungai Mahakam pagi itu indah dan megah. Sungai dengan total Panjang 980 kilometer ini membentang luas. Airnya tenang berwarna kecoklatan. Pinggiran sungai dihiasi pesona alam hutan mangrove yang hijau nan subur.

Head of Communication, Relations & CSR PHM, Achmad Krisna Hadiyanto (kiri) bersama penulis media ini (kanan).
Head of Communication, Relations & CSR PHM, Achmad Krisna Hadiyanto (kiri) bersama penulis media ini (kanan).

Melintasi di sepanjang Sungai Mahakam menuju desa pesisir ini ada aturan. Kapal sea truck maupun speed boat yang berpapasan dengan perahu nelayan maupun perahu penumpang diharuskan menurunkan kecepatan kapal. “Harus pelan. Kendor gas. Gelombang dari kapal sea truck maupun speed boat ini efeknya cukup besar. Kalau ada perahu kecil, kasihan perahunya bisa oleng tersapu gelombang.” tambah Nuraini, salah satu motoris yang membawa speed boat rombongan.

Ia sudah tiga tahun menjadi motoris speed boat rute dermaga Sungai Mariam ke desa pesisir Delta Mahakam. Pria berdarah Sulawesi ini sudah “hafal mati”. Hampir setiap hari ia mengemudi speed boat di perairan ini.

Jalur dari dermaga Sungai Mariam menuju desa pesisir mirip labirin. Jalur simpangan, belokan, dan arah ke desa-desa di pesisir sangat banyak. Bikin puyeng yang lihat. “Salah- salah belok atau salah masuk simpangan, selesai sudah. Bisa nyasar, pak,” cerita pria berusia 36 tahun ini.

Di setiap persimpangan tak terlihat tanda atau penunjuk arah. Nuraini juga tak menggunakan alat navigasi kapal. Apalagi google map. Sinyal operator seluler di sini pun tak mampu dijangkau selama di perjalanan speed boat.

Pria yang tinggal di daratan Kecamatan Anggana ini bilang sudah feeling saja. “Lama-lama sudah hafal jalan. Hampir tiap hari, pak, lewat sini. Jadi sudah hafal kemana arahnya. Patokannya apa dan di mana. Alhamdulillah tidak pernah nyasar,” kata dia.

Di tengah sungai tenang, mangrove yang indah dan menawan, tersimpan yang bikin merinding. Sungai ini banyak habitat buaya. Memang benar. Jeli mata memandang, buaya-buaya berukuran besar ini terlihat berjemur di pinggir hutan mangrove. Ada juga yang berenang di sungai hanya menunjukkan punggungnya. Lebar badan bervariatif. Mulai yang kecil berukuran lebar badan 30 sentimeter hingga 80 sentimeter. Dengan panjang sekitar 1,5 hingga 2,5 meter. “Kalau warga sini sudah biasa melihat buaya. Yang penting jangan diganggu habitatnya. Karena beberapa orang ada kepercayaan bahwa buaya itu juga leluhur. Jadi buaya tidak akan mengganggu selama warga juga tidak mengganggu habitat mereka (buaya). Tapi kalau ada speed atau perahu terbalik di sungai ini, ya habis juga jadi santapan buaya, pak,” kata Nuraini, berkelakar.

Habitat buaya sangat banyak di sepanjang sungai Delta Mahakam. Buaya ini menampakkan diri di pinggir sungai.
Habitat buaya sangat banyak di sepanjang sungai Delta Mahakam. Buaya ini menampakkan diri di pinggir sungai.
 

Melintasi sungai di desa pesisir ini, terlihat beberapa area kerja PHM. Di desa pesisir Delta Mahakam ada tiga lapangan, Central Processing Unit (CPU), North Processing Unit (NPU), dan Sourth Processing Unit (SPU). Semua berada di Delta Mahakam. Tidak menyatu di daratan, tetapi terpisah-pisah di pulau-pulau kecil di Anggana. Selama di perjalanan speed boat, kita bisa melihat pipa-pipa dan station milik area kerja PHM.

Salah satu unit kerja PHM di Delta Mahakam.
Salah satu unit kerja PHM di Delta Mahakam.

Setelah menempuh kurang lebih 1,5 jam, sampailah di Desa Sepatin. Desa Sepatin dipimpin seorang Kepala Desa (Kades). Namanya Arianto Juanda. Ia sudah tiga tahun menjabat kepala desa. Orangnya enerjik dan masih muda. Tanggal 27 Oktober tahun ini, tepat tiga tahun ia menjabat kepala desa di sini

Arianto Juanda juga ramah dan senang bergurau. Setiap ngobrol dengannya, selalu diselipkan kalimat candaan yang bikin orang tertawa. Penampilannya cukup nyentrik. Ia mengenakan topi snapback, topi baseball dengan pinggiran topi datar. Posisi topi ia kenakan terbalik.

Kepala Desa Sepatin Arianto Juanda (kanan) menyambut Achmad Krisna.
Kepala Desa Sepatin Arianto Juanda (kanan) menyambut Achmad Krisna.

Pria kelahiran Toli-Toli, Sulawesi Tengah, tahun 1984 lalu ini mengatakan, rata-rata perjalanan dari daratan dermaga Sungai Mariam, Kecamatan Anggana menuju Desa Sepatin menghabiskan waktu tiga jam menggunakan kapal klotok. “Rata- rata warga punya kapal dan perahu. Warga yang ndak punya perahu atau kapal, numpang warga yang punya perahu. Karena di sini hanya bisa lewat transportasi air,” kata kades yang hobi olahraga ini.

KEHADIRAN PHM DAN GURU PENGGERAK HARAPAN BARU DI SEKOLAH NEGERI TERAPUNG

Kepala Desa Sepatin, Arianto Juanda, didampingi Hafidz kemudian menceritakan kondisi Desa Sepatin sebelum ada kolaborasi dan sinergi pendidikan di kampung ini.

Pak Kades—panggilan Arianto Juanda--- menjelaskan, sebelumnya kualitas pendidikan di kawasan pesisir masih tertinggal dibanding daerah perkotaan. Di balik keindahan mangrove dan panorama perbatasan sungai dan laut, tersimpan kenyataan pahit. Tingkat pendidikan anak-anak pesisir yang rendah seolah menjadi warisan turun-temurun. “Rata-rata dulu sekolah sampai SMP. Setelah itu melanjutkan mengikuti orang tua bekerja. Ada yang jadi nelayan. Mereka berpikir untuk apa sekolah tinggi kalau pergi melaut sehari bisa menghasilkan uang,” cerita Arianto Juanda, diangguki Hafidz.

Perjalanan menuju sekolah ini juga bukan hal mudah bagi anak-anak pesisir. Banyak di antara mereka juga harus menyeberangi sungai atau berjalan kaki beberapa kilometer di jalan yang hanya bisa dilalui saat air laut surut. Belum ada jembatan penghubung yang aman untuk dilalui. Ketika musim hujan tiba dan musim air pasang, beberapa anak terpaksa tidak bersekolah.

Karena dikelilingi sungai, Arianto Juanda bercerita bahwa betul banyak sekali habitat buaya di desa pesisir ini. Hampir setiap tahun kasus manusia disambar buaya juga terjadi. Kejadiannya waktu air pasang dan waktu subuh. “Ya ada juga kepercayaan orang ya. Ada yang percaya buaya tidak mengganggu karena leluhur. Jadi manusia juga jangan mengganggu. Kalau kasus yang terakhir 2024 kejadiannya subuh. Orang disambar pas lagi di empang,” ujarnya.

Terbatasnya akses listrik dan sinyal telekomunikasi juga jadi masalah utama. Banyak sekolah masih bergantung pada genset diesel yang hanya bisa dinyalakan beberapa jam sehari. Padahal, penggunaan energi diesel tidak hanya mahal, tetapi juga tidak ramah lingkungan.

Kepala SMPN 6 Desa Sepatin, Anggana, Tandarman (paling kiri).
Kepala SMPN 6 Desa Sepatin, Anggana, Tandarman (paling kiri).

Keterbatasan fasilitas inilah membuat tenaga pengajar enggan bertahan lama di wilayah pesisir. Banyak guru memilih pindah ke kota karena kesulitan akses, keterasingan sosial, serta terbatasnya fasilitas dasar. Akibatnya, sekolah sering kekurangan guru tetap, bahkan ada yang hanya memiliki satu guru untuk mengajar semua mata pelajaran.

“Guru datang, lalu pergi lagi setelah beberapa bulan. Mungkin mereka tidak kuat dengan kondisi di sini,” cerita Kepala SMPN 6 Desa Sepatin, Anggana, Tandarman.

Selain faktor infrastruktur, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan juga masih rendah. Banyak orang tua lebih memilih anaknya membantu mencari ikan daripada bersekolah. Pandangan bahwa pendidikan tidak memberi hasil langsung untuk kehidupan ekonomi keluarga masih kuat mengakar.

Photo
Photo

Photo
Photo

Meski menghadapi beragam hambatan, semangat belajar anak-anak pesisir tak pernah surut.  Dulu, anak-anak sekolah di sini berjuang sendiri. Ada yang sekolah sambil berjualan. Tanpa merasa ada pihak lain yang peduli.

Kades yang pernah jadi atlet sepak takraw mewakili Kaltim di ajang PON Kaltim tahun 2008 lalu ini lalu menceritakan, memang dulu sekolah di desa ini masih minim fasilitas sarana dan prasarana. Ada satu bangunan sekolah tingkatan SD di tepi sungai. Waktu itu, SD ini juga digunakan untuk kegiatan belajar tingkatan SMP. Pemerintah kabupaten kemudian membangun fasilitas sekolah tingkatan SMP lewat APBD. Adanya bangunan sekolah saja ternyata tidak cukup. Sistem pembelajaran, program belajar, guru-guru, dan kreativitas kegiatan siswa masih perlu sentuhan.

Nah, Pertamina Hulu Mahakam gelisah melihat keterbatasan itu. PHM, yang selama ini aktif mendukung pendidikan di wilayah operasinya, tak sekadar hadir dengan hanya bantuan materi. Tetapi mengajak stakeholder berkolaborasi dan sinergi. Anak perusahaan dari PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) yang mengelola bisnis hulu migas di wilayah kerja Kalimantan Timur ini juga membangun hubungan yang hidup dan berkelanjutan dengan warga sekitar wilayah kerja. PHM mengubah semua itu mulai tahun 2021 lalu hingga sekarang ini. PHM juga masuk lewat Corporate Social Responsibility (CSR) dengan program Sekolah Negeri Terapung.

“Dari semua sekolah yang ada, yang paling menonjol adalah bagaimana bisa berkolaborasi. Salah satu hasil akhirnya strategi aksi yang menyeluruh. PHM terus memberikan dukungan, tentu di luar apa yang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah. Nah, kami berusaha melengkapi apa yang belum terjangkau,” ujar Head of Communication, Relations & CSR PHM, Achmad Krisna Hadiyanto didampingi Hafidz.

Achmad Krisna Hadiyanto didampingi Hafidz (paling kiri) dan tim PHM Zona 8 di sekolah terapung SMPN 6 Anggana.
Achmad Krisna Hadiyanto didampingi Hafidz (paling kiri) dan tim PHM Zona 8 di sekolah terapung SMPN 6 Anggana.
 

Kondisi tersebut menjadi pemicu lahirnya inisiatif dari Pertamina Hulu Mahakam mengubah segalanya. Pelan tapi pasti. Pada tahun 2021, PHM perlahan mengubah pola pikir, memperbaiki sarana prasarana, kolaborasi dan sinergi kemandirian warga di Desa Sepatin. Menyiapkan fasilitas seperti panel surya, listrik, sinyal internet, hingga jembatan ulin sebagai penghubung antar desa.

Panel surya misalnya. PHM memfasilitasi di kantor pelayanan, sekolah, dan warga. Begitu juga fasilitas internet. PHM menyiapkan internet dengan kecepatan mumpuni. Memudahkan kantor pelayanan berkerja dan kegiatan belajar mengajar di SMP 6 Anggana. “Pembelajaran di sekolah terapung SMP 6 Anggana ini hampir semua siswa belajar menggunakan laptop. Adanya fasilitas internet memudahkan kegiatan belajar di dalam kelas,” kata Rizky, salah satu guru PNS asal Berau yang ditempatkan dan mengajar PPKN di SMP 6 Anggana.

Riski, guru tetap PNS yang mengajar PPKN di SMPN 6 Anggana.
Riski, guru tetap PNS yang mengajar PPKN di SMPN 6 Anggana.

Di bidang pendidikan, PHM juga membuat program Guru Penggerak. Program yang tak hanya mengajar, tetapi juga menyalakan semangat perubahan di daerah terpencil. Program ini merupakan kolaborasi antara dunia korporasi dan masyarakat pendidikan.

PHM kemudian berkolaborasi dengan tiga Guru Penggerak dari Yayasan Indonesia Mengajar Jakarta. Hafidz kemudian mulai bercerita mem-flashback. Ia menyebut salah satu kolaborasi yakni hadirnya program Guru Penggerak untuk sekolah di desa pesisir, khususnya di Desa Sepatin dan Desa Tani Baru.

Tiga Guru Penggerak diajak berkolaborasi, yakni ada Faza, Yuli, dan Yandra. Ketiganya ditempatkan di berbeda lokasi. Faza di SMPN 5 Anggana, Yuli di sekolah daratan di Kecamatan Anggana, dan Yandra di Desa Tani Baru.

“Ini bukan program kami semata. Kami hanya penggeraknya. Utamanya adalah desa dan sekolah yang saling menguatkan. Prinsipnya, sekolah negeri terpencil ini berdiri karena semangat kolaborasi,” tegas pria berkacamata minus ini.

Program ini kemudian menggabungkan semangat Guru Penggerak, yakni para pendidik yang berperan sebagai agen perubahan dalam dunia Pendidikan, dengan konsep sekolah terapung yang menjadi solusi akses belajar di daerah perairan. Kehadiran sekolah terapung ini memberikan harapan baru bagi anak-anak di wilayah terpencil untuk tetap mendapatkan pendidikan yang layak, meskipun dengan keterbatasan infrastruktur darat.

TIM HEBAT GURU PENGGERAK 

Di tengah semangat guru penggerak itu, ada seorang perempuan muda berparas cantik, berwajah kulit putih bersih, dan berkerudung hitam.

Namanya Naila Faza Kamila. Ia salah satu dari tiga guru penggerak yang mengajar di desa pesisir Anggana. Selain Faza, ada dua guru penggerak lainnya yakni Yuli yang bertugas di daratan Kecamatan Anggana. Kemudian Yandra yang mengajar di Desa Tani Baru. Desa Tani Baru letaknya berdekatan dengan Desa Sepatin.

Datang dari ibu kota Jakarta, ia memutuskan pilihan pengabdiannya ke pelosok negeri untuk menyalakan kembali semangat belajar di tempat-tempat yang seolah nyaris dilupakan peta. “Waktu pertama kali datang ke sini, saya bahkan tak tahu di mana letak Desa Sepatin itu,” kenangnya, lantas tersenyum.

Sebelum menjadi guru penggerak bersama Pertamina Hulu Mahakam di Desa Sepatin, Faza pernah mengikuti program Pengajar Muda di Kalimantan Barat selepas lulus kuliah pada 2021 lalu.

Program Pengajar Muda adalah program bagi anak-anak muda Indonesia untuk datang dan mengajar di daerah selama satu tahun. “Semacam volunteer- lah,” kata pemilik wajah murah senyum ini.

Pesertanya tidak harus berlatar belakang guru. Yang penting berusia di bawah 30 tahun, lulusan S1 dari jurusan apa pun, dan memiliki semangat untuk mengabdi di bidang pendidikan, terutama di sekolah dasar (SD). Misinya sama; memperbaiki sistem pendidikan. “Waktu itu, sekolah tempat saya bertugas masih berantakan. Jadwal masuk kelas dan pulang tak jelas. Guru dan murid datang terlambat. Sistem belajar belum tertata,” ujarnya.

Naila Faza Kamila (kiri) menjelaskan perjalanan guru penggerak dan prestasi.
Naila Faza Kamila (kiri) menjelaskan perjalanan guru penggerak dan prestasi.

Sedikit demi sedikit, perempuan asal Kudus, Jawa Tengah ini membantu menata sistem belajar. Ia membuat jadwal pelajaran baru, menyusun kegiatan rutin guru, hingga membangun forum kecil untuk saling berbagi praktik baik. “Kami mulai dari hal paling sederhana, yaitu datang tepat waktu,” ceritanya.

Setahun di Kalimantan Barat meninggalkan jejak mendalam. Setelah masa tugasnya berakhir di Kalbar, Faza enggan pergi dari dunia pendidikan. Berbekal pengalaman pada program pengajar muda, ia kemudian melanjutkan pengabdiannya melalui program Guru Penggerak bersama Pertamina Hulu Mahakam. Ia tertarik dan tertantang dengan pengembangan CSR yang dimiliki PHM di desa pesisir. “Karena saya penasaran, sebenarnya seperti apa sih dampak nyata dari program CSR terhadap pendidikan di daerah? Saya ingin melihat sejauh mana CSR bisa benar-benar memberi perubahan untuk masyarakat dan sekolah,” katanya.

Di program ini, Faza kembali menjadi fasilitator. Ia ditempatkan di SMPN 6 Desa Sepatin, Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara pada tahun 2024 lalu. Bersama dua rekan lainnya, ia berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain. Menyalakan semangat belajar di antara guru dan siswa. “Sekarang kami bergerak Bersama PHM, pemerintah desa, dan warga. Saya sangat senang sekali,” katanya.

Selain memotivasi dan membuat sistem belajar, program Guru Penggerak yang mereka jalankan adalah home visit. Jadi, Faza bersama guru penggerak lain dan guru-guru tetap di SMPN 6 Anggana melakukan kunjungan langsung ke rumah siswa kelas 9 yang sebentar lagi lulus SMP. “Kami ingin tahu apa rencana mereka setelah tamat SMP,” ujar perempuan asal Jawa Timur, ini.

Karena akses, terkadang perjalanan menuju rumah siswa harus ditempuh dengan perahu. Menyeberangi sungai-sungai kecil. “Ada satu anak di desa sebelah. Kami harus menempuh 20 menit perjalanan air hanya untuk bicara dengan orang tuanya,” cerita perempuan lajang berumur 27 tahun ini.

Di rumah-rumah kayu itu, Faza dan para guru berbicara dengan nada sabar. Tentang pentingnya sekolah lanjutan. Tentang mimpi anak-anak mereka. Tentang harapan kecil yang tak boleh padam hanya karena finansial. “Banyak orang tua yang bilang, ‘Yang penting anaknya kerja aja nanti’. Di situ saya sadar, perjuangan kami bukan hanya melawan jarak, tapi juga cara pandang,” katanya.

Nah, dari pola pikir seperti itu, guru penggerak, guru-guru sekolah, dan PHM membagi tugas untuk mengunjungi rumah setiap siswa satu per satu. Mereka berdiskusi tentang rencana setelah lulus.

Faza kemudian mengobrol banyak hal dengan orang tua. Mencari tahu alasan mengapa anaknya tidak lanjut sekolah, apa kendalanya. Dari situ ia membantu mencarikan solusi.

Cara lain untuk menjembatani kesenjangan informasi, guru penggerak juga mengadakan Edu Fair. Sebuah pameran pendidikan yang melibatkan siswa dan orang tua. Di sana, mereka memperkenalkan berbagai jalur pendidikan lanjutan. Seperti SMA, SMK, hingga PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). “Kami ingin orang tua tahu bahwa masa depan anaknya punya banyak jalan,” ujar Faza. “Kalau anaknya ingin cepat bekerja, bisa ke SMK. Kalau ingin kuliah, pilih SMA. Yang penting, mereka punya pilihan,” sambungnya.

Suatu kali, Faza pernah menemukan orang tua salah satu siswa yang curhat karena tak punya biaya untuk lanjutkan sekolah. Faza dan rekan-rekannya kemudian menghubungi dinas pendidikan setempat. Berkat kerja sama dan kolaborasi pemerintah dan PHM ini, seorang siswi akhirnya bisa melanjutkan sekolah ke SMA negeri di daratan Kecamatan Anggana karena mendapatkan beasiswa. “Itu momen yang tak akan pernah saya lupakan. Karena di balik setiap anak yang melanjutkan sekolah, ada perjuangan dari banyak orang,” kata Faza.

Namun, tak melulu usaha guru penggerak dan sekolah berjalan mulus. Faza mengaku juga pernah menemukan salah satu orang tua yang benar-benar tidak mau melanjutkan anaknya ke jenjang berikutnya.

Salah satu permasalahannya karena kalau anak harus lanjut sekolah ke darat, berarti mereka harus menambah biaya. Untuk kos, makan, dan kebutuhan lain. Itu menjadi hal terberat untuk sebagian keluarga. Orang tua mau anaknya melaut saja menjadi nelayan tanpa perlu pendidikan tinggi.

Lantas bagaimana cara menyiasatinya? “Kami berusaha memetakan solusi bersama. Misalnya, saat home visit, kami tanya, ‘Apakah ada saudara di darat?’ Kalau ada, misalnya di Samarinda, kami sarankan agar anak bisa sekolah di sana dan tinggal bersama saudaranya. Jadi tidak perlu keluar biaya untuk tempat tinggal dan makan,” jelasnya.

Berbagai solusi ditawarkan. Berbagai cara dilakukan untuk membuka pola piker. “Sudah kami berikan solusi berbagai macam. Kami berikan pencerahan. Tapi kami juga sadar, kamu juga tak bisa memaksakan kehendak orang. Ya jujur saya sedih banget kalau ada menemukan kayak gini,” lanjut Faza, lirih.

Keinginan anak hanya sekolah sampai SMP pernah dilakukan oleh salah satu keluarga, Jappa dan Diyah. Pasangan suami istri yang belasan tahun tinggal di Desa Sepatin ini mengaku hidup serba sederhana dan bergantung pada hasil laut. Mereka pernah berpikir bahwa sekolah tinggi hanyalah mimpi yang tak perlu dikejar.

“Dulu kebanyakan anak di sini lulus SMP langsung kerja. Jadi saya juga berpikir, anak saya ya begitu juga saja. Biar bantu bapaknya melaut cari ikan,” ujar Diyah, lirih, mengenang niat lamanya.

Anak mereka, Adit, kala itu tengah duduk di bangku kelas 9 SMP. Suatu hari, Adit menceritakan keinginannya melanjutkan sekolah bangku SMA kepada gurunya namun tak sejalan dengan keinginan orang tua. Cerita itu pun sampai ke telinga guru penggerak.

Mengetahui kisah Adit, guru penggerak pun menemui Jappa dan Diyah. Tak sulit menemukan mereka, sebab keduanya setiap hari berjualan di kantin sekolah SMP 6 Anggana. Di sela obrolan hangat di depan warung kecil itu, sang guru dengan sabar menjelaskan pentingnya pendidikan dan kemungkinan solusi jika kendala utama adalah biaya. “Masalahnya waktu itu karena uang. Suami saya nelayan, tapi belakangan sering sakit-sakitan. Jadi kami takut tidak sanggup biayai sekolah anak kalau lanjut SMA,” cerita Jappa.

Namun, dialog demi dialog mengubah cara pandang pasangan asal Wajo, Sulawesi Selatan ini. Mereka mulai memahami bahwa sekolah bukan sekadar soal uang, melainkan juga tentang membuka peluang hidup yang lebih baik. “Guru penggerak itu datang bukan hanya menasihati, tapi juga bantu cari jalan. Mereka bilang nanti carikan beasiswa dan solusi tempat tinggal. Kami jadi tenang,” kata Diyah sambil tersenyum.

Kini, Adit dan adiknya, Radit, sudah bersekolah di SMA di daratan Kecamatan Anggana. Mereka tinggal di kos sederhana dekat sekolah. Bagi Diyah kini, itu harga yang sepadan untuk masa depan anak-anaknya.

“Kalau anak saya itu cita-citanya tinggi sekali,” ucapnya, matanya berbinar. “Dia bilang mau jadi Angkatan (TNI). Sebagai orang tua, saya dukung. Sekarang dia semangat sekali belajar,” tambah Jappa.

Perubahan cara pandang keluarga Jappa dan Diyah bukan hal sepele. Di desa-desa pesisir seperti Sepatin, di mana laut lebih akrab dari buku. Kehadiran guru penggerak dan kolaborasi Pertamina Hulu Mahakam diakuinya membawa perubahan. Sekolah kini bukan lagi tempat singgah sementara, melainkan dermaga harapan.

“Dulu banyak yang anggap sekolah itu buang waktu. Sekarang tidak lagi. Anak-anak di sini jadi semangat. Seragam mereka rapi, wajahnya cerah. Karena ada yang selalu kasih semangat,” kata pria berusia 61 tahun ini.

Jappa dan Diyah di depan kantin sekolah.
Jappa dan Diyah di depan kantin sekolah.

DARI DESA TERPENCIL LAHIRKAN PRESTASI HINGGA KANCAH INTERNASIONAL

Kini, di sekolah binaannya, Faza melihat wajah-wajah kecil yang menyimpan semangat mengukir prestasi dan masa depan. Dua di antaranya adalah Ainun siswi kelas 7 dan Nashwa. Dua siswi sekolah terapung SMP 6 Anggana ini memiliki bakat luar biasa dalam menggambar. “Setiap waktu luang, saya lihat mereka duduk di pojok kelas. Menggambar dengan penuh semangat,” cerita Faza.

Bakat itu berhasil membawa keduanya pernah berhasil memenangkan kontes menggambar tingkat internasional. Yang terbaru, Ainun memenangkan kontes menggambar di Abu Dhabi pada bulan September lalu. Ainun mengalahkan ratusan peserta dari wilayah lain di Indonesia, India, hingga Amerika Serikat. Faza menceritakan, gambar yang dimenangkan Ainun adalah gambar bertema natural. Kontesnya secara online. Acara tersebut diselenggarakan oleh kolaborasi tiga lembaga dunia: Living Ocean Foundation, Bowship Foundation, dan satu yayasan konservasi lainnya.

Melalui ajang ini, anak-anak tak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar tentang cinta pada alam. “Kami bisa melihat karya peserta lain dari seluruh dunia. Pengumpulan karyanya tak hanya lewat email, tapi juga melalui aplikasi khusus. Dari situ, anak-anak belajar melihat keragaman dan keindahan perspektif.

Hasil karya gambar Ainun yang menang kontes di Abu Dhabi. Mengalahkan peserta dari India dan Amerika.
Hasil karya gambar Ainun yang menang kontes di Abu Dhabi. Mengalahkan peserta dari India dan Amerika.

Untuk pengerjaan, peserta diberi waktu selama dua minggu untuk menggambar dengan tema natural. Selama waktu itu, Faza membimbing Ainun untuk menentukan tema. Setelah gambar selesai, peserta kemudian mengirim hasil karya gambar kepada panitia melalui online. “Saya tanya pada Ainun, bayangkan Ainun apa untuk alam dan lingkungan kita di masa yang akan datang,” ujar Faza, menirukan pertanyaan kepada Ainun.

Oleh Ainun, digambarlah suasana pedesaan dan pegunungan. Ia gambar dengan detail dan komposisi warna yang selaras. Tak dinyana, gambar bikinan Ainun jadi lebih hidup. Terlihat seperti tiga dimensi. Agar makin masuk dengan tema alam, Ainun menambah gambar rusa Khas Kalimantan dan kepiting khas Desa Sepatin. “Karya Ainun ini nanti akan ditampilkan di sebuah pameran karya seni di Abu Dhabi. Ini masih menunggu informasi selanjutnya dari penyelenggara. Sebagai guru saya ikut bangga. Melihat gambar anak pelosok Kalimantan bisa terpampang di ajang dunia,” kata Faza.

Ainun (kiri) dan Faza.
Ainun (kiri) dan Faza.

Bagi Faza, menjadi guru bukan sekadar profesi. Tetapi panggilan jiwa. Sebuah perjalanan panjang untuk menyalakan lilin-lilin kecil di tempat yang paling gelap. Dengan harapan bahwa suatu hari cahaya itu akan menyatu menjadi terang yang besar bagi negeri ini.

Selain Faza, dampak perubahan dan kontribusi PHM juga sangat dirasakan Pak Kades Arianto Juanda. Bantuan Pertamina Hulu Mahakam kepada Desa Sepatin sangat luar biasa. Kontribusinya dirasakan masyarakat, pemerintahan desa, hingga anak-anak sekolah. Bantuan yang diberikan mulai workshop untuk bumdes, pelatihan security untuk anak muda, membuat perahu fiber, sampai bantuan panel tenaga surya untuk sekolah dan pelayanan pemerintah desa. “Dulu sebelum ada PHM, kantor pelayanan dan sekolah di sini banyak pakai genset. Termasuk kantor saya sendiri. Kami ajukan bantuan. Lalu di-assesment dulu oleh PHM. Apakah memang layak dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Tidak serta merta kami minta bantuan terus langsung dikasih. PHM melihat dulu kemanfaatan dan kondisinya. Apakah benar dan sesuai. Bagi saya luar biasa bantuan dari PHM ini,” katanya.

Kades berharap PHM terus melanjutkan dan melihat perkembangan di Desa Sepatin dan desa lain di pesisir Delta Mahakam. “Awal-awal dulu saya itu sampai sering ribut-ribut, berantem dengan mas Hafidz itu. Berapa kali nomornya mas Hafidz saya blokir. Pernah. Bagian dari proses dulu. Tanya sama mas Hafidz ini. Tapi sekarang ini membuat kami justru makin akrab. Sudah seperti saudara,” guyon Kades Arianto Juanda, dibalas gelak tawa Hafidz. 

Dukungan PHM CSR Pendidikan

Pertamina Hulu Mahakam hadir memberikan dukungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan dan lingkungan. Bentuk dukungan tersebut bisa berupa penyediaan fasilitas belajar, pelatihan guru, hingga bantuan operasional bagi komunitas pelaksana.

Sebagai perusahaan hulu migas yang beroperasi di Kalimantan Timur, PHM dikenal memiliki berbagai inisiatif CSR yang menyasar pengembangan sumber daya manusia, pelestarian lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

Head of Communication, Relations & CSR PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, mengatakan, PHM punya komitmen mendukung peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan melalui berbagai program CSR, terutama bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi. Termasuk di daerah pesisir yang masuk ring satu lapangan PHM. “Pendidikan menjadi pilar utama program CSR PHM, selain sektor lingkungan, ekonomi, sosial, dan infrastruktur,” kata Krisna.

Menurutnya, pemilihan Desa Sepatin bukan tanpa alasan. Wilayah ini masuk kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) sekaligus berada di area operasi langsung PHM. Sehingga perusahaan merasa memiliki tanggung jawab lebih besar untuk berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kami berkewajiban memberi kontribusi maksimal bagi masyarakat di ring satu perusahaan. Semua ini kami lakukan dengan dukungan dan kolaborasi bersama pemerintah daerah,” katanya.

Krisna menambahkan, selain itu, PHM juga rutin menggelar lokakarya untuk tenaga pendidik. Lokakarya ini merupakan bagian dari program CSR Sekolah Negeri Terapung yang diinisiasi PHM bersama Guru Penggerak dari Indonesia Mengajar.

Lokakarya dilaksanakan rutin setiap bulan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan dan pengembangan kompetensi tenaga pendidik di Kecamatan Anggana, melalui wadah Komunitas Belajar Kukar Pintar Idaman Pertamina Hulu Mahakam Anggana (KBKPI PHM Anggana). Setiap bulan, tema yang diangkat disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran para guru. KBKPI PHM Anggana tidak hanya menjadi ruang untuk belajar, tetapi juga sebagai forum berbagi praktik baik antarsekolah serta tempat berdiskusi dan mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi guru di lapangan.

KOLABORASI ANTARA SEKOLAH, DESA, DAN PERTAMINA HULU MAHAKAM

Kolaborasi antara sekolah, desa, dan PHM kini mulai menunjukkan hasil nyata. Jika sebelumnya setiap kegiatan sekolah selalu mengandalkan dukungan dari PHM, kini pola itu perlahan berubah. Itulah makna kolaborasi yang berhasil diciptakan PHM untuk jangka Panjang.

“Sekarang ndak lagi begitu. Desa sudah mulai hadir. Turut berperan. Anak-anak juga mulai mengenakan seragam yang jadi ciri khas desa mereka. Jadi, desa kini ikut menjadi penopang kegiatan sekolah,” sambung Hafidz.

Ia mencontohkan, saat kegiatan penyuluhan tentang bahaya narkoba, pemerintah desa turut aktif mendukung. Bahkan kepala desa pun hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut.

“Dulu misalnya. Sebelum ada program ini. Sekolah merasa berjalan sendiri. Sekarang tidak lagi. Desa sudah merasa memiliki sekolahnya. Sinergi dan kolaborasi. Itulah yang ingin kami tunjukkan. Desa menjadi bagian dari gerakan pendidikan di wilayahnya. Sekarang kami dorong agar mobilisasi dimulai dari desa. Kami bantu memfasilitasi,” tambahnya.

Program kolaboratif ini membuat sekolah-sekolah di daerah terpencil tidak lagi merasa berjalan sendiri. Sekolah kini menjadi bagian dari ekosistem yang saling menguatkan antara guru, siswa, desa, dan PHM.

Inisiatif Guru Penggerak di Sekolah Terapung menunjukkan bagaimana kolaborasi antara komunitas, dunia pendidikan, dan sektor industri dapat menciptakan solusi kreatif untuk tantangan nyata di lapangan.

Guru penggerak tidak hanya hadir di ruang kelas, tapi juga menjadi pelopor perubahan di daerah-daerah dengan akses terbatas.

“Sekolah-sekolah di sini memang punya tantangan berbeda dengan yang di darat. Tapi berkat kolaborasi, mereka tidak merasa sendiri lagi. Filosofinya sederhana saja. Kalau lidi hanya satu, ia mudah patah. Tapi kalau lidi-lidi itu bersatu, kekuatannya akan luar biasa. Begitulah kami memaknai kolaborasi. Gotong royong yang menjadikan kemajuan fasilitas dan pendidikan di desa ini semakin kokoh,” kata Achmad Krisna Hadiyanto masih didampingi Hafidz.

Kepedulian Pertamina Hulu Mahakam pada dunia pendidikan di Desa Sepatin dan Desa Tani Baru kini bak ladang pohon kebaikan yang sedang panen.

Bagi PHM, keberhasilan bukan hanya diukur dari laporan atau target program. Tetapi juga dari perubahan nyata di lapangan. Para pegawai PHM dari berbagai divisi di site Delta Mahakam, seperti produksi, mekanik, hingga teknik turut berinteraksi langsung dengan para siswa.

Setiap jadwal off kerja, para pekerja “me-refreshing” diri ke Desa Sepatin. Mereka berkunjung. Berinteraksi dengan siswa dan warga. Saling sapa. Berdiskusi dan tukar pengalaman serta cerita.

Seiring berkembangnya program ini, warga Desa Sepatin berharap kolaborasi dan sinergi antara masyarakat lokal, pemerintah daerah, dan PHM terus berjalan. “Saya berharap program-program dari PHM terus berjalan. Karena dampaknya sangat bagus sekali untuk desa kami. Warga sangat senang karena berkat program PHM, fasilitas desa semakin maju dan anak-anak bisa semangat melanjutkan Pendidikan ke jenjang lebih tinggi lagi,” kata Kepala Desa Arianto Juanda. (wawan lastiawan/prokal.co)

 

 

 

 

 

 

Editor : Wawan
#buaya #Guru Penggerak #delta mahakam #pendidikan #phm #desa pesisir #Desa Sepatin #kutai kartanegara #pertamina #pertamina hulu mahakam