PROKAL.CO, SAMARINDA- Rapat Paripurna di Gedung DPRD Kalimantan Timur, Karang Paci Senin (23/2/2026), dimanfaatkan Gubernur Rudy Mas’ud untuk mengklaim keunggulan program pendidikan andalannya. Malah, tak ada angin tak ada hujan, Rudy membandingkan program Gratispol dengan Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT) yang menjadi andalan di era kepemimpinan Gubernur Kaltim sebelumnya, Isran Noor dan Hadi Mulyadi.
Padahal banyak masalah yang mengemuka dalam program ini. Mulai dari lambatnya pencairan, sampai ada mahasiswa yang sudah terdaftar malah dicoret dengan alasan tertentu. Kemudian juga ada beasiswa yang khusus jalur "orang dalam", dimana hanya gubernur dan pejabat tinggi lainnya yang bisa menentukan dapat tidaknya seseorang beasiswa Gratispol ini.
Rudy menegaskan bahwa transformasi kebijakan ini membawa perubahan signifikan, terutama dalam aspek daya serap peserta didik yang diklaim meningkat hingga 2,5 kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
“Program Gratispol ini mampu menyerap mahasiswa lebih banyak dibanding program beasiswa sebelumnya, kapasitas penerimanya meningkat hingga 2,5 kali lipat,” ujar Rudy Mas’ud di hadapan para anggota legislatif. Ia menjelaskan bahwa orientasi utama program ini adalah menjangkau ratusan ribu mahasiswa di seluruh wilayah Kalimantan Timur secara inklusif. “Gratispol saat ini kami anggarkan jumlahnya 158.000 mahasiswa di seluruh Kalimantan Timur, tanpa memandang gender, agama, suku, dan etnis,” tegasnya lagi.
Menurut Rudy, filosofi utama Gratispol adalah inklusivitas total yang dirancang untuk menjangkau ratusan ribu mahasiswa di seluruh penjuru Benua Etam tanpa sekat latar belakang. Program ini hadir tanpa memandang gender, agama, suku, maupun etnis, sehingga akses pendidikan tinggi menjadi lebih terbuka bagi siapa saja.
Untuk tahun ini, target capaian Gratispol sangat ambisius dengan menyasar 157.090 mahasiswa, sebuah angka yang jauh melampaui statistik Beasiswa Kaltim Tuntas dan Stimulan pada tahun 2023 yang tercatat hanya menyentuh 28.213 mahasiswa.
Dominasi kuantitas ini juga tercermin dari alokasi anggaran yang digelontorkan Pemerintah Provinsi. Rudy menyebutkan bahwa dana yang disiapkan untuk Gratispol mencapai Rp813 miliar dalam satu tahun anggaran, melonjak drastis dibandingkan alokasi Beasiswa Kaltim Tuntas yang berada di angka Rp365 miliar. Meski secara rata-rata bantuan per individu di program Gratispol lebih kecil, yakni sekitar Rp5,1 juta dibandingkan pendahulunya yang mencapai Rp12,9 juta, Gubernur menilai hal ini justru menunjukkan efisiensi dalam memperluas pemerataan bantuan.
Menutup pemaparannya di hadapan para anggota legislatif, Rudy menjelaskan bahwa mekanisme penyaluran dana dilakukan secara sistematis melalui skema institution-to-institution. Dana tersebut tidak diberikan secara tunai kepada mahasiswa, melainkan langsung dibayarkan kepada pihak perguruan tinggi guna memastikan ketepatan sasaran. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 52 kampus, baik negeri maupun swasta di Kalimantan Timur, yang menjalin kerja sama dalam pelaksanaan program pendidikan ambisius ini. (*)
Editor : Indra Zakaria