NUNUKAN – Selama dua hari berturut-turut, kebakaran lahan terjadi di dua Kecamatan Nunukan. Jumlah total lahan yang terbakar pun mencapai tujuh hektare (ha). Kebakaran lahan diduda diakibatkan oleh membuka lahan dengan cara membakar.
Melihat kepulan asap masyarakat pun melaporkannya ke pihak Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Nunukan guna penanganan. Api yang mulai hidup sejak pukul 12.30 Wita pun baru selesai dipadamnya hingga pukul 15.40 Wita.
Kasi Rencana dan Pengendalian Operasi Disdamkar Nunukan, Arista Pratama mengatakan, terkait tindak lanjut laporan kebakaran yang terjadi di Jalan Ujang Dewa, Nunukan Selatan, Selasa (19/2), sejumlah personel langsung mendatangi lokasi kebakaran. Bahkan 1 unit mobil penembak api dan penyuplai air diturunkan dalam insiden kebakaran lahan tersebut. “Untungnya jauh dari pemukiman. Personel di lapangan dibantu pihak terkait seperti TNI Polri juga masyarakat sekitar,” ungkap Aris sapaan akrabnya.
Api pun baru bisa dijinakkan tiga jam kemudian. Di lokasi tersebut, lahan yang terbakar hampir mencapai lima hektare. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Bersama pihak terkait lainnya, Aris tentunya mengimbau kepada pemilik lahan untuk tidak melakukan pembakaran jika ingin membuka lahan apalagi berisiko tinggi akan kebakaran lahan ditambah cuaca yang diketahui cukup panas bisa saja berpotensi terjadinya kebakaran besar.
“Ini jadi pelajaran, kami serta pihak terkait langsung memberikan imbauan, baik kepada pemilik lahan, ataupun petani lainnya yang ingin membuka lahan untuk tidak dengan cara membakar,” tambah Aris.
Di hari yang sama, kebakaran juga terjadi di Jalan Antasari. Satu kandang ayam terbakar diduga akibat kelalaian pemilik. Dalam insiden itu, 1 unit mobil penembak api diturunkan. Sementara pada Minggu (17/2) sebelumnya, kebakaran lahan juga terjadi di Jalan Kampung Baru, Kelurahan Selisun, Nunukan Selatan. Dalam kebakaran lahan tersebut, lahan yang habis terbakar seluas satu hektare.
Sebelumnya, memang Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nunukan memprediksi penurunan curah hujan akan terjadi secara signifikan pawal Januari hingga akhir Februari. Ini terlihat berdasarkan analisa serta pengembangan olah data secara periodik pihak BMKG Nunukan.
Berdasarkan periode waktu tertentu yang terjadi dalam selang waktu yang tetap, penurunan curah hujan kerap terjadi pada waktu tersebut. Pihak BMKG pun mengimbau warga untuk waspada karhutla yang bisa saja terjadi jika kondisi kekeringan melanda.
Apalagi saat kemarau, potensi terjadi karhutla bisa meningkat, mengingat terjadinya bisa disebabkan oleh alam atau cuaca. Namun bisa juga dari faktor campur tangan manusia yang sengaja membakar lahan untuk kepentingan tertentu. Hal itu wajib diwaspadai. (raw/fly)
Editor : anggri-Radar Tarakan