KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) beberapa hari belakangan berdampak pada aktivitas masyarakat di Kalimantan Utara (Kaltara). Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan merilis jika kabut asap telah berangsur berkurang. Kondisi cuaca pun mulai normal.
“Untuk pantauan hari ini (kemarin) cuaca cerah berawan, dan jarak pandang sudah cukup normal dengan jarak 6 sampai 8 kilometer. Dari perkiraan cuaca Kaltara ada potensi hujan seperti Tarakan, Malinau dan Tana Tidung, di malam hari. Cuma potensinya sangat kecil untuk beberapa hari ke depan,” tutur Prakirawan pada BMKG Tarakan Wiliam Sinaga kepada Radar Tarakan, Kamis (19/9).
Dalam pantauan BMKG, masih terdapat 45 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Kaltara. Titik panas terbanyak terdapat di Kabupaten Bulungan disusul dengan Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Tana Tidung. Kota Tarakan dan Kabupaten Malinau masih nihil.
“Di Bulungan terdapat 38 titik, di Nunukan 4 titik, Tana Tidung 3 titik, untuk Tarakan dan Malinau saat ini nihil. Kalau potensi masih ada, namun tentu kami berharap tidak terjadi kebakaran lahan lagi,” tukasnya.
Diakui William, masih terdapat kabut asap. Kabut tersebut sudah tidak menganggu jarak pandang seperti sebelumnya. “Sudah tidak berdampak pada jarak pandang. Untuk suhu udara di Kota Tarakan dan sekitarnya 26 sampai 30 derajat celcius. Tinggi gelombang 0,25 sampai 0,75 meter dan beberapa hari ke depan juga diperkirakan masih sama,” ucapnya.
Begitu juga kecepatan angin dan tinggi gelombang air laut. Meski demikian, ia mengimbau agar nelayan tetap waspada dalam menjalankan aktivitas. Selain itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak membuang puntung rokok dan melakukan pembakaran sampah di sekitar lahan kering. Menurutnya, hal itu dapat menjadi pemicu terjadinya kebakaran hutan.
“Kecepatan angin itu 5 sampai 10 knot dan untuk di laut 6 sampai 15 knot. Untuk aktivitas pelayaran cukup aman yah. Cuma tetap harus waspada, terutama kapal-kapal kecil. Kami menghimbau, kepada masyarakat khususnya yang tinggal berada lahan gambut agar tidak membuang puntung rokok dan membakar sampah sembarangan,” harapnya.
Pengamat sekaligus akademisi ekonomi Dr. Ana Sriekaningsih mengungkapkan, karhutla yang melanda Pulau Kalimantan beberapa hari lalu menimbulkan kerugian bagi masyarakat di segala sektor. Hal itu disebabkan banyaknya aktivitas yang tidak dapat berjalan secara maksimal.
“Kabut tebal itu, menghambat aktivitas penerbangan dan pelayaran. Belum lagi dampak kesehatan bagi masyarakat yang terkena gangguan pernapasan. Hal ini menjadi pelajaran kita semua betapa besarnya dampak kebakaran lahan ini,” ujarnya, kemarin (19/9).
Dampak pada transportasi udara juga berimbas pada distribusi pengiriman barang. Belum lagi, bagi mereka yang harus menunda pertemuan atau agenda, baik bisnis, pemerintahan atau lainnya. Sehingga hal itu, cukup menghambat aktivitas perputaran uang pada sektor jasa transportasi.
“Akibat kabut yang tebal kemarin, ada banyak jadwal penerbangan yang dibatalkan. Belum lagi nelayan yang tidak bisa melaut mencari ikan dan juga masyarakat enggan keluar rumah bepergian, atau agenda pertemuan bisnis yang tertunda. Sehingga hal itu memperlambat laju perputaran ekonomi makro,” terangnya.
MASIH ADA KABUT
Forecaster BMKG Nunukan Taufik Rahman mengatakan, secara umum kondisi Nunukan dari pagi hari (kemarin) berawan disertai kabut asap. Begitu pula dengan sore hari. Sedangkan pada malam hari kondisi masih kabut asap namun berpotensi terjadi hujan lokal.
“Kemungkinan hingga dini hari terjadi hujan lokal dengan suhu udara dari 24,5 derajat celcius hingga 32 derajat celcius serta kelembaban udara 66 persen hingga 97 persen,” kata Taufik Rahman.
Sedangan untuk tiupan angin dari tenggara ke selatan dengan kecapatan 6 knot hingga 15 knot. Dengan ketinggian gelombang mencapai 0,5 meter hingga 0,75 meter. Sedangkan untuk jarak pandang mencapai 3 kilometer.
Di Nunukan, BMKG Nunukan memantau setiap saat, dengan melakukan pantauan deteksi untuk pencegahan karhutla berdasarkan data foto satelit LAPAN.
Dia menjelaskan, deteksi titik panas menggunakan sensor modis pada satelit terra dan aqua, memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran hutan. Satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dalam luasan 1 km persegi.
“Pada suatu lokasi di permukaan bumi akan diobservasi 2 hingga 4 kali sehari. Pada wilayah yang tertutup awan, maka hotspot tidak dapat terdeteksi,” ujarnya.
Lanjut dia, potensi terjadi kebakaran hutan dan lahan dapat teramati dengan citra satelit Himawari 8 dengan menggunakan data suhu kecerahan kanal infrared untuk filtering awan, serta menentukan anomali suhu panas yang menunjukkan potensi terjadi kebakaran hutan (titik merah).
Selain itu ditampilkan juga citra RGB pada kanal visibel dan near infrared untuk mendeteksi sebaran asap (warna coklat) untuk lebih memastikan di daerah tersebut terjadi kebakaran.
Sedangkan perbedaan waktu yang di gunakan adalah UTC, jika di WIB +7, WITA +8, jika WIT +9. “Update (perbaruan) data satelit, baik dari BMKG dan LAPAN semua kejadian di tanggal 18 hingga 19 sampai jam 7 pagi di waktu setempat, masih terekap dalam bentuk data dan koordinat lokasi kejadian akurasi kepercayaan,” jelasnya. (*/zac/nal/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan