Selasa (25/2), merupakan hari pertama Kombes Pol Erwin Zadma bertugas sebagai Waka Polda Kaltara. Sejumlah aktivitas dilakukan dihari pertama ia bertugas, salah satunya menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat Utama (PJU) Polda Kaltara.
ASRULLAH
BERDASARKAN Telegram Kapolri nomor ST/385-388/II/KEP/2020 tertanggal 3 Februari, Kombes Pol Erwin Zadma ditempatkan di Polda Kaltara sebagai Waka Polda Kaltara. Mengetahui hal itu ia mulai berselancar di media sosial (medsos) menggunakan gawai miliknya. Hal pertama yang ia lakukan mengumpulkan informasi tentang Provinsi Kaltara.
Sejumlah pemberitaan di provinsi termuda di Indonesia ini dikumpulkan sebagai referensi sebelum melaksanakan tugas sebagai orang nomor dua di Polda Kaltara. Informasi mulai dari ideologi, politik, ekonomi demografi, geografi, lingkungan hingga strategis jadi perhatian setiap ingin bertugas di tempat baru.
Baginya, menjadi Waka Polda Kaltara bukan hal yang mudah. Memiliki tanggung jawab besar terhadap pimpinan dan membantu tugas Kapolda Kaltara Brigjen Pol Indrajit harus dilakukan dengan maksimal. Dengan jabatan itu ia selalu berpegang teguh, tegak lurus dan memiliki loyalitas terhadap pimpinan dan institusi.
“Sebagai Wakapolda saya tegak lurus dan loyalitas. Kapolda bilang A saya ikut A,” ucapnya mengawali pembicaraan bersama Radar Kaltara saat ditemui di ruang kerjanya.
Selasa (11/2) lalu, ia tiba di Bandara Harapan, Tanjung Selor. Ingatannya mengajak kembali mengingat delapan tahun silam. Saat itu, ia ditugaskan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (Kalteng). Bedanya, saat tiba di Tanjung Selor ia langsung dijemput Kapolda Kaltara Brigjen Pol Indrajit lengkap dengan prosesi adat Bulungan. Tentunya, itu merupakan hal yang luar biasa.
Melihat Polda Kaltara saat ini yang memiliki Mapolda, Sekolah Polisi Negara (SPN) di Malinau dan Rumah Sakit (RS) Bhayangkara di Tarakan ia sudah membayangkan bagaimana kerja keras Kapolda dan Waka Polda serta PJU yang pertama bertugas di Kaltara.
Sehingga, langkah awal sebelum memulai tugas dengan mengumpulkan PJU Polda Kaltara, kemudian meminta masukan apa yang telah dilakukan para PJU. Kemudian, apa yang menjadi hambatan dengan kondisi saat ini diupayakan segera diselesaikan.
“Saya tinggal melanjutkan, beda dengan yang bertugas sebelumnya. Kapolda sudah memikirkan semua solusinya. Saat ini SPN, RS Bhayangkara, perumahan sudah ada. Kemudian, berbicara SDM, sarpras setelah mengumpulkan PJU dan meminta masukan ke PJU yang ada. Bahasanya profiling dulu. Itu yang pertama saya laksanakan,” beber pria kerja lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 ini.
Sebelum menjabat sebagai Waka Polda Kaltara, sejumlah tantangan sudah dilalui pria kelahiran Sengkang, 8 Februari 1968 ini. Di usai 8 tahun tepatnya kelas 2 Sekolah Dasar (SD), ayahnya meninggal dunia. Ia tumbuh bersama ibu dan empat saudaranya. Erwin Zadma kecil merupakan anak yang menyukai tantangan.
Mengobati hobinya itu ia aktif di kegiatan ekstrakurikuler, pramuka. Dari situ sejumlah prestasi mulai ditorehkan. Namanya selalu tercatat mewakili Provinsi Sulsel mengikuti Jambore di sejumlah daerah di Indonesia. Kemudian, ia memutuskan untuk bergabung di Akpol pada 1990. Berbekal pengalaman di Pramuka melancarkan langkahnya bersaing hingga tahap akhir. Namun, tes terakhir di Magelang ia gagal.
Dengan kegagalan itu membuat tekadnya semakin tak tertahankan untuk mengabdi di Korps Bhayangkara. Selama delapan bulan lamanya ia kembali mempersiapkan diri mengikuti tes Akpol. Dan dinyatakan lulus masuk Akpol pada 1991. “Kakak masuk Akmil. Waktu itu masih ABRI dan lolos di Akpol. Beberapa kali mewakili Sulsel untuk ikut jambore. Karena disiplin di Pramuka dan saat tes tidak jauh beda. Jalan tidak mulus mendaftar pertama 1990 gagal di Magelang, sudah dikirim dari Sulsel pemulangan terakhir,” kisahnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan Akpol, ia mendapatkan tugas pertama Magelang, Jawa Tengah. Jabatan pertama yang diemban yakni Pamapta di Polresta Magelang yang saat ini disebut Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) selama tiga bulan. Kemudian menjabat sebagai Wakasat Shabara Polresta Magelang, hingga menjadi Kasat Reskrim di Magelang.
Pada 2001 setelah menjabat sebagai Kepala KP3 Tanjung Mas, Semarang. Ia memutuskan melanjutkan pendidikan PTIK. Setelah lulus 2001, ia ditugaskan ke Kalteng dengan jabatan Kanit 3 Reserse Polda Kalteng. Kemudian Kasat IV Narkorba Ditreskrim Polda Kalteng. Setelah itu ia kembali mendapatkan promosi jabatan menjadi Wakapolres Kota Waringin Barat.
“Kalau dulu itu masih satu (reserse), sekarang ada tiga reserse mulai dari Krimum, Krimsus dan Reskoba,” sebutnya.
Setelah itu ia kembali melanjutkan pendidikan Sespim. Tahun 2012 setelah selesai pendidikan, ia menjadi Kapolres Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) sekira tiga tahun lamanya. Setelah itu pindah ke Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan jabatan Wadir Narkoba. Kemudian, kembali ke Mabes sebagai Kasubdit III Bareskrim. Selanjutnya, menjabat Ditreskrimsus Gorontola, Ditreskrimum Polda Sulsel, kemudian ke Aceh di Ditreskrimsus.
“Setiap tugas dan lokasi semua memiliki tantangan. Setiap jabatan juga punya tantangan. Dan setiap daerah memiliki kesan,” tambahnya. (***/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan